Breaking News
Memuat breaking news...

Pencuri Gondol Alat Deteksi Gempa BMKG di Gayo Lues, Pemantauan Seismik Lumpuh

Redaksi
Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 - 10.27 PM WIB
Pencuri Gondol Alat Deteksi Gempa BMKG di Gayo Lues, Pemantauan Seismik Lumpuh
Kondisi Shelter Site BGASI milik BMKG di Gayo Lues usai dibobol pencuri hingga menyebabkan terganggunya pemantauan aktivitas gempa di wilayah tersebut. Waspada.id/Humas BMKG
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

GAYO LUES (Waspada.id): Aksi pencurian dan perusakan peralatan pemantau gempa milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Kabupaten Gayo Lues melumpuhkan operasional salah satu stasiun pemantau seismik.

Selain kabel instalasi, pelaku juga membawa kabur sejumlah perangkat utama pendeteksi gempa yang mengakibatkan terganggunya pemantauan aktivitas seismik di wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Selatan, Sugeng Prayitno, mengatakan aksi pencurian terjadi di Shelter Site BGASI yang berada di Desa Gantung Geluni, Kecamatan Blang Pegayon, Kabupaten Gayo Lues.

"Akibat kejadian ini, kemampuan BMKG dalam memantau aktivitas gempa serta menyampaikan informasi kebencanaan dan peringatan dini kepada masyarakat mengalami penurunan," kata Sugeng dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).

Gangguan operasional pertama kali diketahui setelah transmisi data seismik dari lokasi tersebut terputus total sejak 29 Juli 2026. BMKG kemudian mengirim tim ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan pada 3 Agustus 2026.

Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan pintu shelter telah dirusak, gembok hilang, dan kabel instalasi dipotong. Sejumlah peralatan utama juga raib, di antaranya satu unit digitizer Quanterra Q8, satu unit modem VSAT iDirect iQ Desktop+, dua baterai berkapasitas 9 Ah, satu set kabel panel surya, serta seluruh kabel instalasi di dalam shelter.

BMKG memperkirakan kerugian negara akibat pencurian tersebut mencapai Rp246,4 juta.

Kabel instalasi dan sejumlah perangkat pemantau gempa milik BMKG dicuri dari Shelter Site BGASI di Gayo Lues. Akibatnya, transmisi data seismik dari lokasi tersebut terhenti dan operasional stasiun pemantauan lumpuh. Waspada.id/Humas BMKG

Sugeng menegaskan dampak pencurian itu tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga mengurangi kemampuan sistem pemantauan gempa di kawasan yang berada di jalur aktif Sesar Sumatera Segmen Tripa.

Menurutnya, segmen sesar tersebut memiliki aktivitas kegempaan tinggi dan berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 7,4. Wilayah Gayo Lues sendiri beberapa kali mengalami gempa yang menimbulkan kerusakan, termasuk gempa bermagnitudo 5,6 pada 22 Juli 2026 yang merusak sejumlah fasilitas umum, termasuk sebuah puskesmas.

"Dalam kondisi kerawanan yang tinggi seperti ini, keberadaan stasiun pemantau gempa sangat krusial. Lumpuhnya Site BGASI mengurangi kemampuan jaringan BMKG dalam menentukan parameter gempa secara cepat. Keterlambatan informasi tentu dapat membahayakan keselamatan masyarakat," ujarnya.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polres Gayo Lues dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor LP/B/42/VIII/2026/SPKT/POLRES GAYO LUES/POLDA ACEH tertanggal 3 Agustus 2026. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan kini masih memburu pelaku.

BMKG mencatat, pencurian di Gayo Lues menambah daftar kasus vandalisme terhadap infrastruktur pemantauan bencana. Sejak 2015 hingga 2026, sedikitnya telah terjadi 15 kasus pencurian peralatan pemantau gempa di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh Selatan dan Aceh Singkil.

BMKG mengimbau masyarakat ikut menjaga fasilitas pemantauan bencana karena keberadaan alat tersebut merupakan bagian penting dari sistem informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang berperan dalam melindungi keselamatan masyarakat. (Hulwa)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement