Penetrasi Asuransi Hanya 1,3 Persen, Peluang Besar Terus TumbuhPenetrasi Asuransi Hanya 1,3 Persen, Peluang Besar Terus Tumbuh

JAKARTA (Waspada.id): Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih terbilang relatif rendah, yaitu hanya sebesar 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Hal ini membuat industri asuransi memiliki peluang besar untuk terus tumbuh ke depannya.
Itu sebabnya, industri asuransi Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan tahunan secara keseluruhan mencapai 8,2% dan lebih tinggi dibanding pertumbuhan PDB yang sebesar 7,6%.
"Di samping itu, prospek asuransi jiwa juga diperkirakan akan tumbuh 4,9% per tahun yang didukung oleh tingkat suku bunga lebih tinggi," kata Plt. Direktur Utama Media Asuransi Slamet Edi Santosa pada ajang Insurance Market Leaders Award di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Proyeksi tersebut, lanjutnya, berdasarkan meningkatnya biaya layanan kesehatan menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi industri, sehingga keberlanjutan premi asuransi kesehatan perlu dijaga agar perlindungan tetap terjangkau bagi masyarakat.
Dalam ajang Insurance Market Leaders Award 2026, Media Asuransi memberikan apresiasi kepada 112 perusahaan di industri perasuransian di Hotel Luwansa, Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.
Ajang penghargaan yang sudah berjalan kesebelas kalinya ini diberikan kepada perusahaan asuransi dan reasuransi serta pialang asuransi dan reasuransi serta penilai kerugian (adjuster) atas kinerja terbaik mereka di 2025. Acara ini bertujuan untuk mendorong inovasi dan kinerja yang lebih baik di industri perasuransian Indonesia.
Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) tahun ini melakukan kajian terhadap laporan keuangan 2025 (unaudited) perusahaan asuransi jiwa, asuransi umum, reasuransi (konvensional dan syariah), asuransi jiwa syariah (full fledged dan unit) serta asuransi umum syariah (full fledged dan unit syariah).
Selain itu, LRMA melakukan kajian atas Data Statistik Perasuransian 2024 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk industri pialang asuransi, pialang reasuransi, dan penilai kerugian asuransi.
LRMA dalam melakukan kajian menggunakan empat indikator keuangan laporan keuangan publikasi perusahaan asuransi jiwa, umum, reasuransi dan syariah jiwa maupun umum per 31 Desember 2025 .
Indikator itu, antara lain pendapatan premi untuk asuransi jiwa, premi bruto untuk asuransi umum dan reasuransi. Lalu indikator brokerage fee untuk pialang asuransi dan reasuransi, serta indikator adjuster fee untuk penilai kerugian asuransi.
Pada tahun 2026 ini, LRMA membagi seluruh industri perasuransian tersebut ke dalam 11 kelompok. Untuk kedua kalinya dilakukan pemisahan kelompok nasional dan joint venture di industri asuransi jiwa, asuransi umum, dan pialang asuransi.
Pemisahan ini sesuai dengan yang dilakukan OJK dalam data statistik yang dipublikasikan. Secara keseluruhan ada 112 perusahaan pemenang Insurance Market Leaders Award 2026 Media Asuransi.
Dalam kali ini ada 10 perusahaan jiwa nasional yang menjadi market leaders, dari 24 perusahaan di kelompok ini. Selanjutnya ada 10 perusahaan jiwa joint venture dari 22 perusahaan di kelompok yang sama.
Kemudian ada 15 market leaders perusahaan umum nasional, dari 45 perusahaan di kelompok ini. Serta ada 10 market leaders perusahaan umum joint venture, dari 21 perusahaan di kelompok tersebut.
Untuk kelompok perusahaan asuransi jiwa syariah ada lima market leaders dari keseluruhan asuransi jiwa syariah yang berjumlah 27 (full fledged dan unit syariah). Serta ada lima market leaders asuransi umum syariah dari 18 asuransi umum syariah (full fledged dan unit syariah) di kelompok ini. (Id88)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda