Perang AS-Iran Kembali Memanas, Rupiah hingga Emas Terkoreksi


MEDAN (Waspada.id): Memanasnya kembali tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Rupiah hingga harga emas mengalami koreksi pada perdagangan Kamis (8/10).
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, IHSG terkoreksi cukup dalam sebesar 1,88% dan ditutup di level 6.031.
Menurutnya, IHSG kembali berpeluang menguji level psikologis 6.000 seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“IHSG terkoreksi cukup dalam pada perdagangan hari ini. IHSG mencatatkan pelemahan sebanyak 1.88% di level 6.031. IHSG kembali berpeluang untuk menguji level psikologis 6.000 di tengah kian memburuknya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah,” kata Gunawan Benjamin, Kamis (8/10).
Ia menilai penutupan IHSG di level terendah perdagangan turut membuka peluang terjadinya koreksi teknikal lanjutan.
“IHSG pada perdagangan hari ini ditutup pada level terendahnya, membuka peluang koreksi teknikal lanjutan,” ujarnya.
Rupiah Tertekan, Yield US Treasury Naik
Tekanan juga terlihat pada pasar valuta asing. Rupiah ditutup melemah di level Rp17.895 per dolar AS.
Gunawan mengatakan tekanan terhadap Rupiah dan IHSG sebenarnya sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan. Mayoritas bursa saham Asia mengalami pelemahan, sementara imbal hasil US Treasury kembali meningkat.
“Di sisi lain mata uang Rupiah ditutup melemah di level 17.895 per US Dolar. Kekhawatiran tekanan pada mata uang Rupiah dan IHSG sudah terlihat sejak sesi perdagangan pagi dibuka,” katanya.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di kisaran 5,34%. Kenaikan yield tersebut menjadi salah satu faktor yang turut meningkatkan tekanan terhadap aset-aset berisiko, termasuk pasar saham dan mata uang negara berkembang.
Harga Minyak Naik
Menurut Gunawan, tekanan terhadap pasar keuangan semakin kuat setelah harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan.
Harga minyak mentah Brent pada perdagangan sore ditransaksikan di sekitar US$105 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kembali pecahnya konflik antara AS dan Iran.
“Tekanan pada pasar keuangan kembali mencuat seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang ditransaksikan dikisaran $105 per barel pada perdagangan sore,” jelasnya.
Gunawan menilai perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian utama pasar. Pernyataan AS yang kembali membuka kemungkinan serangan besar-besaran terhadap Iran serta belum tercapainya perdamaian turut meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar.
“Kenaikan harga minyak mentah terjadi seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar bahwa perang akan kembali berkecamuk antara Iran dengan AS,” katanya.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Jika harga energi terus meningkat, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya juga dapat semakin terbatas.
Emas Ikut Terkoreksi
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, harga emas justru mengalami koreksi. Harga emas dunia berada di level sekitar US$4.122 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,38 juta per gram.
“Sementara itu harga emas alami terkoreksi di level $4.122 per ons troy, atau sekitar 2.38 juta per gram,” pungkas Gunawan Benjamin.
Pergerakan pasar ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS-Iran, arah harga minyak mentah, pergerakan yield US Treasury serta respons pasar terhadap perubahan risiko geopolitik global. (id09)






















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda