Perang Dagang Kanada-AS Memanas, Kanada Siapkan Balasan TarifPerang Dagang Kanada-AS Memanas, Kanada Siapkan Balasan Tarif

ONTARIO (Waspada.id): Perang dagang antara Kanada dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Gagalnya perundingan perdagangan kedua negara membuat hubungan ekonomi yang selama ini sangat erat kembali berada di bawah tekanan.
Pada Sabtu (22/8/2026), AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap komoditas Kanada senilai sekitar US$20 miliar. Kanada pun tidak tinggal diam.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan, negaranya akan mulai menyiapkan tindakan balasan pada 8 September mendatang. Sejumlah sektor yang menjadi sasaran antara lain baja, produk susu, peralatan rumah tangga, alat pertanian, bubur kertas, kertas, hingga barang elektronik.
Ancaman tersebut berpotensi menjadi pukulan bagi kedua negara karena Kanada memiliki ketergantungan perdagangan yang sangat besar terhadap AS. Sekitar 70 persen ekspor Kanada dikirim ke AS.
Kanada juga menjadi konsumen utama bagi 26 negara bagian AS, termasuk Maine, Michigan, dan Wisconsin. Bahkan, Kanada masuk dalam tiga besar mitra dagang bagi 45 dari 50 negara bagian AS.
Dengan nilai perdagangan yang besar serta kedekatan geografis, eskalasi tarif dikhawatirkan tidak hanya mengganggu hubungan perdagangan, tetapi juga menekan aktivitas ekonomi di kedua negara.
Energi Kanada Bisa Jadi Senjata
Salah satu sektor yang berpotensi menjadi senjata Kanada adalah energi.
Carney mengatakan Kanada memasok sebagian besar kebutuhan impor gas dan listrik AS, sekaligus menyumbang sekitar 60 persen minyak mentah yang digunakan Amerika Serikat.
"Saya kira mereka tidak ingin kami berhenti mengirimkan energi itu," kata Carney, seperti dikutip BBC, Senin (25/8/2026).
Kanada memang belum memutuskan apakah sektor energi akan masuk dalam daftar komoditas yang dikenai tindakan balasan. Namun, sejumlah pejabat politik menyebut opsi tersebut masih terbuka.
Penggunaan energi sebagai alat tekanan pun memunculkan perbedaan sikap di dalam negeri Kanada. Tidak semua perdana menteri provinsi mendukung langkah tersebut.
Salah satu yang paling vokal adalah Gubernur Ontario Doug Ford. Sebagai pusat industri otomotif Kanada, Ontario memiliki hubungan perdagangan yang sangat erat dengan AS.
Pada 2025, Ford bahkan sempat mengusulkan tarif 25 persen terhadap seluruh listrik yang diekspor Ontario ke AS. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat berdampak terhadap sekitar 1,5 juta rumah tangga dan bisnis di Michigan, Minnesota, serta New York.
Kanada juga memiliki posisi penting dalam pasokan komoditas strategis, termasuk potash yang merupakan bahan utama industri pupuk.
"Saya ingin sekali melihatnya (Trump) mengendarai mobil tanpa minyak sama sekali. Saya sangat ingin melihat bagaimana ia menanam sayuran dan buah tanpa potash. Presiden Trump meremehkan kami, dan itu kesalahan terbesarnya," kata Ford.
Mineral Kritis Jadi Kartu Kanada
Selain energi, Kanada memiliki cadangan mineral kritis yang sangat dibutuhkan industri modern, seperti litium, nikel, dan grafit.
AS merupakan salah satu konsumen utama mineral kritis dari Kanada. Kondisi tersebut membuat sektor pertambangan juga berpotensi digunakan sebagai alat tawar dalam konflik perdagangan.
Ford bahkan mengancam akan memperketat pasokan mineral dari Ontario ke AS.
"(AS) tidak akan menerima sebutir pasir pun dari Ontario," kata Ford dalam wawancara dengan Associated Press.
Ancaman tersebut menunjukkan bahwa Kanada memiliki sejumlah kartu strategis untuk menghadapi tekanan tarif AS.
Boikot Produk AS Mulai Berdampak
Tekanan terhadap produk AS sebenarnya sudah berlangsung sejak gelombang pertama tarif diberlakukan Washington tahun lalu.
Sejumlah provinsi di Kanada melarang penjualan minuman keras asal AS. Kebijakan tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap industri minuman keras Amerika.
Wine Institute of America mencatat ekspor anggur AS ke Kanada merosot 78 persen dalam satu tahun. Penurunan tersebut membuat industri kehilangan pendapatan sekitar US$357 juta.
Asosiasi produsen minuman keras AS juga melaporkan dampak serupa. Menurut asosiasi tersebut, larangan penjualan produk minuman keras AS di tingkat provinsi membuat ekspor minuman keras Amerika turun lebih dari 70 persen.
Boikot tersebut bahkan masih berlaku di 11 dari 13 provinsi dan wilayah Kanada.
Tak hanya produk, masyarakat Kanada juga melakukan boikot secara sukarela dengan mengurangi pembelian barang asal AS dan membatasi perjalanan ke negara tetangga tersebut.
Data pemerintah Kanada menunjukkan jumlah kunjungan warga Kanada ke AS sempat meningkat pada April lalu. Namun, jumlahnya masih sekitar 800 ribu kunjungan lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024, sebelum Trump kembali berkuasa.
Penurunan perjalanan warga Kanada tersebut diperkirakan membuat AS kehilangan pendapatan sekitar US$2,35 miliar pada tahun lalu.
Sejumlah kota dan negara bagian AS pun mulai berupaya menarik kembali wisatawan Kanada melalui iklan yang ditargetkan serta berbagai penawaran khusus.
Kanada Hadapi Risiko, AS Juga Terancam
Kanada tentu tidak sepenuhnya kebal terhadap perang dagang. Ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap pasar AS membuat kebijakan balasan juga berpotensi menimbulkan dampak bagi perekonomian Kanada sendiri.
Namun, besarnya ketergantungan AS terhadap pasokan energi, mineral, komoditas pertanian, serta pasar Kanada membuat Ottawa memiliki daya tawar yang cukup kuat.
Dengan demikian, perang tarif terbaru berpotensi menjadi pertarungan kepentingan yang mahal bagi kedua negara. Kanada harus menghitung risiko ekonomi dari setiap tindakan balasan, sementara AS menghadapi potensi gangguan terhadap rantai pasokan dan pasar ekspornya.
Kini, momentum dan kemauan politik Kanada menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah negosiasi perdagangan berikutnya. (Rep)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda