Breaking News
Memuat breaking news...

Perang Iran Gerus Anggaran AS Rp803 Triliun, Inflasi Diprediksi Naik

Redaksi
Redaksi
Senin, 21 September 2026 - 8.19 AM WIB
Perang Iran Gerus Anggaran AS Rp803 Triliun, Inflasi Diprediksi Naik
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran terus menggerus anggaran pemerintah AS. Biaya konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 itu kini diperkirakan telah mencapai US$45,1 miliar atau sekitar Rp803 triliun dengan asumsi kurs Rp17.813 per dolar AS.

Angka tersebut berasal dari pembaruan estimasi biaya yang disampaikan Pentagon kepada Kongres pada Jumat (18/9/2026), berdasarkan keterangan dua sumber yang mengetahui laporan tersebut kepada AFP.

Hingga 3 September 2026, biaya perang tercatat mencapai sekitar US$43,6 miliar atau Rp776 triliun. Selain itu, terdapat tambahan sekitar US$1,5 miliar atau Rp26,8 triliun untuk kebutuhan bahan bakar.

Namun, angka US$45,1 miliar tersebut belum menggambarkan keseluruhan beban finansial perang. Biaya tidak langsung dari operasi militer, termasuk sejumlah kebutuhan terkait kerusakan fasilitas, belum sepenuhnya tercakup dalam perhitungan tersebut.

Biaya Perang Terus Membengkak

Besarnya biaya perang terbaru tersebut jauh di atas perkiraan sebelumnya.

Congressional Budget Office (CBO) sebelumnya memperkirakan konflik hingga 1 Agustus telah menghabiskan sekitar US$38 miliar. Sementara itu, Pentagon pada Juli memperkirakan biaya perang mencapai sekitar US$37,5 miliar.

Dalam laporan yang dirilis 15 September, CBO menyebut biaya langsung konflik hingga 1 Agustus mencapai sekitar US$38 miliar. Pengeluaran tersebut terutama berkaitan dengan penggantian amunisi dan peralatan yang digunakan atau hilang dalam pertempuran, peningkatan jam penerbangan, operasi militer serta kebutuhan bahan bakar.

CBO juga memperkirakan perang masih akan menambah beban sekitar US$2 miliar–US$3 miliar per bulan setelah 1 Agustus. Nilai tersebut berpotensi meningkat apabila intensitas pertempuran kembali meningkat.

Artinya, semakin panjang konflik berlangsung, semakin besar pula tekanan yang harus ditanggung anggaran pemerintah AS.

Dampaknya Mulai Merembet ke Inflasi

Beban perang bukan hanya terlihat pada pengeluaran pemerintah. CBO juga memperkirakan konflik tersebut memberikan tekanan terhadap inflasi AS melalui kenaikan harga energi.

Gangguan terhadap pengiriman minyak dan aktivitas penyulingan di kawasan terdampak konflik telah mendorong kenaikan harga energi. Karena minyak merupakan bagian penting dalam biaya transportasi dan distribusi, kenaikan harga energi dapat merembet ke harga berbagai barang dan jasa.

CBO memperkirakan inflasi yang diukur melalui indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) pada kuartal I 2027 akan berada sekitar 0,5 poin persentase lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang dibuat sebelum perang. Untuk inflasi inti PCE, dampaknya diperkirakan sekitar 0,3 poin persentase lebih tinggi.

Dampak kenaikan harga energi bahkan sudah terlihat dalam perhitungan CBO. Lembaga tersebut memperkirakan kenaikan harga energi akibat konflik memberikan tambahan sekitar 2,3 poin persentase terhadap laju inflasi tahunanized PCE pada kuartal II 2026.

Risiko Belum Berakhir

CBO menilai tekanan ekonomi dari perang masih dapat berlanjut selama konflik belum berakhir. Selain biaya operasi militer, AS juga menghadapi kebutuhan untuk mengisi kembali persediaan amunisi yang telah digunakan.

Perhitungan CBO juga memiliki keterbatasan karena tidak mencakup seluruh biaya pemerintah yang berkaitan dengan konflik, termasuk sejumlah biaya diplomatik dan bantuan luar negeri yang sulit diperkirakan.

Dengan biaya perang yang telah mencapai puluhan miliar dolar dan tambahan pengeluaran miliaran dolar setiap bulan, konflik Iran kini tidak hanya menjadi persoalan militer bagi AS, tetapi juga memberikan konsekuensi terhadap anggaran pemerintah, harga energi, inflasi dan biaya pembiayaan ekonomi. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement