Breaking News
Memuat breaking news...

Perang Likuiditas Memanas, Ancaman Krisis Multidimensional di Depan Mata

Redaksi
Redaksi
Selasa, 22 September 2026 - 4.52 PM WIB
Perang Likuiditas Memanas, Ancaman Krisis Multidimensional di Depan Mata
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Persaingan memperebutkan likuiditas global kian sengit di tengah tingginya suku bunga dan tekanan pasar obligasi. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara yang memiliki eksposur utang dalam valuta asing cukup besar, bahkan membuka risiko terjadinya krisis multidimensional apabila tekanan berlangsung berkepanjangan.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan suku bunga bank sentral utama dunia menjadi sinyal bahwa biaya dana global semakin mahal. Kondisi tersebut juga tercermin dari pergerakan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang sempat menyentuh level 5%.

"The Fed atau Bank Sentral AS telah menaikkan besaran bunga bunga dana federal sebesar 3.75% - 4%. Sebelumnya Bank Sentral Eropa juga telah menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kenaikan bunga acuan tersebut menjadi sinyal bahwa biaya dana untuk merebut likuiditas global kian mahal belakangan ini. Indikasinya juga terlihat dari memburuknya imbal hasil US treasury yang sempat menyentuh 5% untuk tenor 10 tahun," ujar Gunawan, Selasa (22/9).

Menurutnya, tekanan jual di pasar surat utang AS menunjukkan meningkatnya tekanan di pasar keuangan seiring dengan kenaikan inflasi. Ketika harga minyak mentah meningkat, nilai aset keuangan secara relatif ikut tertekan sehingga investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi.

"Tekanan jual pada surat hutang atau obligasi AS menunjukan bahwa tekanan pasar alami peningkatan seiring dengan kenaikan inflasi. Di saat harga minyak mentah alami kenaikan, maka nilai aset keuangan secara relatif mengalami penurunan. Yang mengakibatkan pasar meminta imbal hasil atau keuntungan yang lebih besar, dan pada akhirnya mendorong aksi jual pada instrumen surat hutang," jelasnya.

Buyback AS Redam Tekanan Pasar

Gunawan menilai langkah Departemen Keuangan AS melalui program buyback surat utang mampu meredam sebagian tekanan di pasar obligasi. Namun, langkah tersebut dinilai belum sepenuhnya mengembalikan kepercayaan pasar.

"Tekanan tersebut direspon dengan aksi buyback departemen keuangan AS, yang sejauh ini dinilai hanya meredam tekanan jual, namun belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan pasar. Dan puncaknya The Fed merespon dengan menaikkan bunga acuan sebanyak 25 basis poin, yang pada akhirnya mampu meredam tekanan jual di pasar," katanya.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga The Fed berpotensi membuat perebutan likuiditas global semakin ketat. Negara-negara yang mata uangnya berada di bawah tekanan harus menghadapi tantangan lebih besar karena aset dalam dolar AS menjadi relatif lebih menarik ketika suku bunga AS tinggi.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian bagi Indonesia. Rupiah berpotensi menghadapi tekanan ketika arus likuiditas global bergerak menuju aset-aset berbasis dolar AS.

"Namun dampak dari kebijakan The Fed tersebut akan membuat persaingan perebutan likuiditas di pasar kian sengit. Terlebih bagi sebagian negara yang alami tekanan terhadap mata uangnya setelah kebijakan kenaikan bunga acuan The Fed, dimana Rupiah tepantau alami pelemahan setelah kebijakan menaikkan bunga tersebut," ungkap Gunawan.

BI Tak Cukup Andalkan Suku Bunga

Dalam kondisi likuiditas global yang semakin mahal, Gunawan menilai Bank Indonesia (BI) memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas pasar. Respons kebijakan tidak harus selalu dilakukan melalui perubahan suku bunga acuan.

"Saya menilai BI bisa saja merespon dengan menaikkan bunga acuan. Namun menjaga likuiditas tidak lantas hanya mengandalkan BI rate. Pasar obligasi bisa menjadi langkah awal dalam mengendalikan gejolak mata uang yang ditimbulkan dari perang harga instrumen keuangan. Sehingga sangat menari kedepan bagaimana langkah pemangku kebijakan di banyak belahan negara di dunia menyikapi likuiditas yang kian mahal tersebut," tuturnya.

Menurut Gunawan, kondisi pasar obligasi menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan karena perubahan imbal hasil dapat memengaruhi aliran modal, nilai tukar, hingga biaya pembiayaan pemerintah maupun korporasi.

Risiko Krisis Membesar Jika Perang Berlanjut

Risiko semakin besar bagi negara yang memiliki utang dalam mata uang asing dalam jumlah signifikan. Tekanan terhadap nilai tukar dapat meningkatkan beban pembayaran utang sekaligus mempersempit ruang kebijakan ekonomi.

"Bagi negara yang memiliki eksposur hutang dalam mata uang asing yang besar, tentu pasar keuangannya berpeluang alami tekanan. Jika kondisi perang berlanjut dan membuat harga minyak mentah bertahan mahal, maka negara yang kesulitan memenuhi kebutuhan likuiditasnya berpeluang menghadapi ancaman tekanan mata uang yang bisa menyeret resiko yang lebih besar," kata Gunawan.

Ia menambahkan, kombinasi antara tingginya biaya likuiditas, tekanan mata uang, mahalnya energi, dan besarnya kewajiban utang dapat menciptakan tekanan berlapis bagi perekonomian suatu negara.

"Tentunya ada banyak negara yang terancam alami gagal bayar hutang yang berpeluang memicu krisis multidimensional. Indonesia sejauh ini masih relatif aman, namun Indonesia harus berhati-hati mengelola kebijakan fiskal agar sisi moneternya tetap bisa manageable," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement