Breaking News
Memuat breaking news...

Peringatan Hari Santri di Aceh Utara dan Kembalinya Sarung ke Ruang Publik

Redaksi
Redaksi
Selasa, 20 Oktober 2026 - 9.42 PM WIB
Peringatan Hari Santri di Aceh Utara dan Kembalinya Sarung ke Ruang Publik
Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

“Di Aceh, sarung tidak hanya menutup tubuh. Ia menyimpan jejak sejarah, aroma dayah, nasihat para teungku, dan kenangan masa kecil yang tumbuh di antara meunasah serta lantunan ayat suci,” kata Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil.

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, suasana berbeda akan terlihat di Lapangan Upacara Landing, Lhoksukon. Pemandangan serupa juga akan terlihat di kantor pemerintahan, sekolah-sekolah, instansi vertikal, lembaga, hingga ruang-ruang pelayanan publik. Para pria akan datang mengenakan baju koko putih, peci putih, dan sarung hitam. Sementara itu, kaum perempuan tampil dengan busana muslimah dan jilbab putih.

Pemandangan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, sesungguhnya, hal tersebut menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar aturan berpakaian.

Melalui Surat Edaran Nomor 100.3.4/1680 Tahun 2026, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil atau Ayah Wa mengimbau seluruh unsur pemerintahan, lembaga pendidikan, BUMN, BUMD, organisasi, dan masyarakat untuk mengenakan busana bernuansa santri dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Kebijakan tersebut bukan sekadar upaya menyukseskan peringatan tahunan. Di baliknya, terselip pesan untuk menghidupkan kembali identitas yang selama ini telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Aceh.

Sarung dan Kenangan yang Tak Pernah Pergi

Bagi sebagian generasi muda, sarung mungkin hanya dikenakan saat salat, pengajian, atau menghadiri acara keagamaan. Namun, bagi masyarakat Aceh, sarung memiliki cerita yang lebih panjang. Sarung merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah diwariskan lintas generasi.

Dahulu, anak-anak berangkat mengaji ke meunasah dengan sarung tersampir di pinggang. Para santri duduk bersila di dayah dengan sarung yang sama. Para orang tua menghadiri kenduri, musyawarah gampong, hingga salat berjamaah dengan pakaian yang merepresentasikan kesederhanaan sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai agama.

Tak berlebihan jika sarung kemudian menjadi simbol yang melekat erat dengan dunia santri. Karena itu, ketika Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengajak masyarakat mengenakan sarung pada Hari Santri, sesungguhnya yang sedang dihidupkan bukan sekadar tradisi berpakaian. Yang sedang dibangkitkan adalah ingatan kolektif tentang akar budaya masyarakat yang tumbuh dari pendidikan dayah dan nilai-nilai Islam.

Hari Santri dan Jejak Pengabdian

Sejarah Aceh tidak bisa dipisahkan dari keberadaan para santri dan ulama. Dari dayah-dayah sederhana di pelosok gampong, lahir generasi yang kemudian mengabdi sebagai pendidik, ulama, tokoh masyarakat, aparatur pemerintahan, hingga pemimpin daerah. Mereka membawa bekal ilmu pengetahuan, akhlak, dan semangat pengabdian yang dipelajari dari para guru mereka.

Hari Santri hadir sebagai momentum untuk mengenang jejak panjang tersebut. Ini bukan hanya tentang mengenakan pakaian khas santri selama sehari. Lebih dari itu, peringatan Hari Santri menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya dibangun melalui infrastruktur dan pembangunan fisik, tetapi juga melalui nilai-nilai moral, pendidikan, dan karakter yang diwariskan oleh para ulama serta pesantren. Di tengah kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, pesan itu terasa semakin relevan.

Ketika Kantor dan Sekolah Menjadi Ruang Pengingat

Mungkin pada pagi 22 Oktober nanti, masyarakat akan melihat pemandangan yang jarang ditemukan pada hari-hari biasa. Para pegawai memasuki kantor dengan balutan sarung hitam. Guru berdiri di depan kelas mengenakan busana khas Hari Santri. Para siswa memenuhi halaman sekolah dengan nuansa putih yang menyejukkan mata.

Tidak ada kemewahan di sana. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan pesan yang kuat. Sarung mengajarkan kesetaraan. Siapa pun yang mengenakannya akan tampak sama. Tidak ada sekat jabatan, status sosial, atau latar belakang ekonomi. Yang terlihat hanyalah identitas sebagai bagian dari masyarakat yang menghormati nilai agama dan tradisi.

Barangkali itulah makna terdalam dari peringatan Hari Santri: kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Modernitas dapat berjalan berdampingan dengan tradisi. Warisan para ulama pun tetap memiliki tempat yang terhormat dalam kehidupan hari ini.

“Mungkin sarung itu hanya dikenakan sehari dalam rangka Hari Santri. Namun, nilai yang dibawanya telah diwariskan berabad-abad lamanya. Sebab, sebuah daerah tidak akan dikenang karena gedung-gedung yang menjulang tinggi, melainkan karena kemampuannya menjaga akar yang membuatnya tetap tegak berdiri di tengah perubahan zaman,” demikian kata Ayah Wa. (Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I/Waspada.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement