Breaking News
Memuat breaking news...

Peringati Hardikda ke-67 Aceh, SMAN 1 Abdya Luncurkan 11 SOP Pendidikan

Redaksi
Redaksi
Kamis, 3 September 2026 - 12.00 AM WIB
Peringati Hardikda ke-67 Aceh, SMAN 1 Abdya Luncurkan 11 SOP Pendidikan
Kepala SMAN 1 Abdya Herni Arfida. Rabu (2/9).Waspada.id/Syafrizal
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BLANGPIDIE (Waspada.id): Memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Ke-67 Aceh, SMAN 1 Aceh Barat Daya (Abdya), meluncurkan 11 Standar Operasional Prosedur (SOP) layanan pendidikan, sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola sekolah yang lebih tertib, adaptif dan responsif terhadap tantangan zaman.

Peluncuran 11 SOP tersebut, menjadi salah satu langkah SMAN 1 Abdya, dalam memperkuat budaya sekolah berbasis aturan, sekaligus memastikan layanan pendidikan berjalan secara terukur, transparan dan memiliki standar yang jelas.

Kepala SMAN 1 Abdya, Herni Arfida Rabu (2/9) mengatakan, keberadaan SOP tidak semata-mata dimaksudkan untuk menambah aturan di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, SOP menjadi instrumen untuk membangun budaya disiplin, memberikan kepastian dalam pelayanan, serta membentuk karakter peserta didik, agar mampu menghadapi perubahan sosial dan teknologi.

Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendidikan juga harus mampu menyiapkan peserta didik yang memiliki identitas budaya, kesadaran terhadap lingkungan, kedisiplinan, serta kecakapan dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. “Sekolah harus menjadi ruang yang mampu menjawab kebutuhan zaman, tanpa kehilangan akar budaya. Karena itu, SOP yang kita luncurkan bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi pedoman bersama, dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, tertib, berkarakter dan relevan,” ujar Herni.

Salah satu SOP yang mendapat perhatian adalah, penerapan bahasa Aceh di lingkungan sekolah. Kebijakan tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan kearifan lokal, di tengah derasnya arus globalisasi.

Bagi Herni, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi merupakan bagian dari identitas dan warisan intelektual masyarakat Aceh, yang perlu dirawat melalui lingkungan pendidikan. “Modernisasi tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar budayanya. Menguasai bahasa asing dan teknologi penting, tetapi mengenal serta menjaga bahasa daerah, juga merupakan bentuk penghormatan terhadap identitas kita,” katanya.

Selain itu, SMAN 1 Abdya juga meluncurkan SOP kedaruratan bencana. Kebijakan ini dinilai penting, mengingat Aceh merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai jenis bencana, sehingga sekolah harus memiliki mekanisme yang jelas, dalam menghadapi situasi darurat.

Melalui SOP tersebut, warga sekolah diharapkan tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga memahami pembagian peran, jalur evakuasi, mekanisme komunikasi, serta langkah penyelamatan yang harus ditempuh. “Mitigasi bencana harus dimulai dari sekolah. Anak-anak kita tidak cukup hanya diberi pengetahuan tentang bencana, tetapi harus dibekali kesiapan menghadapi keadaan darurat. Pendidikan keselamatan adalah bagian dari pendidikan karakter,” tegas Herni.

Sementara itu, SOP pembatasan penggunaan media sosial, menjadi respons sekolah terhadap perkembangan teknologi digital, yang semakin tidak terpisahkan dari kehidupan peserta didik.

SOP yang diluncurkan SMAN 1 Abdya, dalam memperingati Hardikda Ke 67 Aceh. Rabu (2/9).Waspada.id/Syafrizal

Menurut Herni, media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi menjadi sarana komunikasi dan sumber informasi, namun di sisi lain dapat menjadi distraksi terhadap proses belajar, apabila penggunaannya tidak terkendali.

Karena itu, pembatasan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengisolasi siswa dari perkembangan teknologi, melainkan membangun kesadaran mengenai kapan teknologi digunakan dan kapan harus dikendalikan. “Yang kita bangun bukan sekadar pembatasan, tetapi literasi digital. Anak-anak harus belajar bahwa, teknologi adalah alat untuk memperluas pengetahuan, bukan sesuatu yang boleh mengendalikan kehidupan mereka,” ujarnya.

Herni menambahkan, pendidikan pada era digital membutuhkan keseimbangan antara kecerdasan akademik, kecakapan teknologi, karakter, budaya dan kemampuan beradaptasi.

Dengan diluncurkannya 11 SOP tersebut, SMAN 1 Abdya berharap seluruh warga sekolah memiliki pedoman yang sama dalam menjalankan aktivitas pendidikan, sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih aman, disiplin, inklusif, dan berkualitas. “Sekolah yang baik bukan sekolah yang memiliki banyak aturan, tetapi sekolah yang mampu mengubah aturan menjadi budaya positif. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya seberapa tinggi nilai seorang siswa, tetapi seberapa siap mereka menjadi manusia yang berkarakter, berbudaya, bertanggung jawab dan mampu menghadapi masa depan,” pungkas Herni.(id82)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement