Breaking News
Memuat breaking news...

Perjuangan Bidan Desa Selamatkan Pasien di Tengah Ganasnya Gelombang Laut

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 7.48 PM WIB
Perjuangan Bidan Desa Selamatkan Pasien di Tengah Ganasnya Gelombang Laut
SEORANG bidan di Desa Pangkalansiata berusaha menyelamatkan pasien ke darat akibat ombak dan angin kencang. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

LANGKAT (Waspada.id): Seorang Bidan Desa yang mengabdi di daerah pesisir Desa Pangkalansiata, Kecamatan Pangkalansusu, Langkat, sontak menyita perhatian publik atas perjuangannya yang penuh risiko untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien yang dalam kondisi darurat.

Vera Leli Septiana Br Manulang, seorang Bidan Desa, Kamis (30/7) petang sekira pukul 17:00, berupaya mengevakuasi seorang warga yang menderita penyakit sesak napas dan gula darah tinggi dari daerah pesisir Dusun IX, Desa Pangkalansiata, untuk dirujuk ke Rumah Sakit Bidadari di Langkat.

Sang bidan terpaksa menempuh jalur alternatif lewat laut dengan menumpang perahu motor milik suaminya karena akses jalan darat tidak memungkinkan untuk dilalui akibat buruknya kondisi infrastruktur jalan di desa tersebut.

Upaya evakuasi yang dilakukan petugas medis itu ternyata tidak mulus. Perahu motor yang ia tumpangi bersama keluarga pasien ternyata menghadapi rintangan alam yang berpotensi membahayakan keselamatan mereka akibat cuaca ekstrem di laut.

Bidan Desa, Vera Leli Septiana Br Manulang, dihubungi, Jumat (31/7) sore, menceritakan kronologis proses perjalanan evakuasi yang penuh obstakel. "Sore itu angin berhembus kencang disertai petir, hujan lebat dan menyusul ombak besar," ujarnya.

Akibat cuaca yang tak bersahabat ini, perahu motor yang mereka tumpangi dihempas ombak besar dan terdampar ke tepian pantai.

Di tengah kondisi alam yang ektrem ini, Vera menghadapi situasi dilema, yakni tetap bertahan di atas perahu yang terus diterjang ombak atau memilih kembali naik ke darat.

Dalam kondisi yang sangat darurat tersebut, Vera akhirnya meminta keluarga pasien untuk turun dari perahu dan menggotong pasien ke daratan. Perjalan menuju darat tentu tidaklah mudah karena harus melewati lumpur tebal dan biota laut yang berkulit keras dan tajam.

Dalam kondisi panik, Vera, berinisiatif untuk mengontak aparat terkait dan menghubungi layanan darurat call centre 110. Namun, ia merasa kecewa karena setelah sekian lama menunggu, perahu bantuan tidak kunjung tiba.

Di tengah sambaran cahaya kilat yang disusul dentuman petir dan jaringan sinyal terganggu, Vera, terus berusaha mencoba menghubungi Kepala Puskesmas untuk meminta bantuan armada boat sesegera mungkin.

Usaha terkahir dilakukan bidan ini langsung mendapat respon. Kepala Puskesmas segera mengirimkan armada perahu motor pada malam itu juga. Berkat perjuangan yang penuh risiko, pasien atas nama Romaida Br Saragih ini pun sekira pukul 19:00 akhirnya berhasil dievakuasi ke dermaga Pangkalansusu.

Pasien langsung dinaikan ke ambulans yang sudah stand by. "Sebelumnya saya sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk minta bantuan ambulance gratis, karena pasien yang mau dibawa adalah orang tidak mampu," kata Vera.

Selama ini, Bidan Desa itu mengaku ia selalu membawa pasien dari desa itu untuk dirujuk ke rumah sakit. "Selama ini saya tidak pernah mengeluh meskipun harus membawa pasien pada tengah malam," ujar Vera seraya menambahkan, ia saat ini sedang menjalani rawat inap akibat shock dan terluka pada bagian kaki saat membantu evakuasi pesien.

Vera tidak pernah mengeluh ketika menolong pasien. Tapi, yang membuat keluhan Bidan Desa itu, kondisi infrastruktur jalan darat di desa ini sangat buruk sehingga menyulitkan untuk mengevakuasi pasien, terutama yang dalam kondisi emergency atau gawat darurat.

Untuk memudahkan jangkauan akses layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah pesisir Desa Pangkalansiata, Vera, meminta kepada Pemerintah Daerah agar memperhatikan kondisi infrastrukur. Ia sangat memohon agar pembangun infrastruktur jalan diprioritaskan.

Peristiwa heroik yang dialami Bidan Desa ini mendapat perhatian dari Ketua Anak Muda Pangkalansusu (AMPAS), Raya Samosir. Ia mengatakan, kejadian ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan di daerah ini.

Raya merasa miris, sudah hampir memasuki 81 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada tenaga kesehatan yang harus berjuang mempertaruhkan nyawa akibat buruknya infrastruktur, serta minimnya pelayanan kesehatan di daerah terpencil.

Ia menilai, negara belum sepenuhnya hadir di Desa Pangkalansiata. "Bagaimana mungkin masyarakat masih dipaksa menempuh jalur laut karena akses jalan darat tidak memadai?" ujarnya dengan nada kecewa akibat minimnya atensi pemerintah untuk membangun desa ini.

"Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada bidan Vera Leli Septiana Manullang. Di saat banyak orang berbicara tentang pengabdian, beliau membuktikannya tindakan nyatanya meskipun harus bertarung nyawa," ujar Raya.

Ketua AMPAS menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah, antaralain mendesak Pemkab Langkat agar segera membangun akses jalan dan ia meminta Pemprov Sumut agar melakukan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan dan infrastruktur di wilayah pesisir Langkat.

Selanjutnya, kepada Pemerintah Pusat dalam hal ini kementerian terkait supaya memberikan perhatian khusus terhadap desa-desa terpencil agar pelayanan dasar benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.(id24)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement