Perkuat Ketahanan Keluarga, Dinas P3APPKB Samosir Jalin Kerja Sama dengan Kemenag


SAMOSIR (Waspada.id): Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) menjalin kerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Samosir dalam upaya memperkuat ketahanan keluarga, pembinaan calon pengantin, serta meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kepala Dinas P3APPKB Kabupaten Samosir dengan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Samosir, H. Mahdi Kudadiri, Selasa (3/11) di Kantor Dinas P3APPKB Samosir.
Perjanjian kerja sama tersebut mengusung tema Implementasi Penguatan Pembinaan Calon Pengantin, Ketahanan Keluarga dan Peran Ayah melalui Pemanfaatan Elsimil dan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Kepala Dinas P3APPKB Kabupaten Samosir, Priska Situmorang mengatakan, kolaborasi lintas sektor tersebut merupakan langkah strategis dalam membangun keluarga yang berkualitas, harmonis, serta memiliki ketahanan moral dan spiritual.
Menurutnya, penguatan ketahanan keluarga tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga harus dibarengi dengan pembinaan moral, penanaman nilai-nilai keagamaan, serta keterlibatan aktif ayah dalam mendidik dan membesarkan anak.
"Melalui kerja sama ini, kita berharap dapat memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan pembinaan moral, serta mendorong keterlibatan ayah dalam menjalankan perannya di tengah keluarga. Nilai-nilai keagamaan juga menjadi bagian penting dalam membentuk keluarga yang harmonis, berkualitas dan berkarakter," ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan melalui kerja sama tersebut adalah pemanfaatan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil), yang dikembangkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN sebagai sarana skrining kesehatan dan pendampingan calon pengantin.
Melalui aplikasi Elsimil, calon pengantin dapat melakukan pemeriksaan dan pengisian data kesehatan, meliputi berat badan, tinggi badan, kadar hemoglobin (Hb), lingkar lengan atas, serta informasi paparan asap rokok. Skrining tersebut bertujuan mendeteksi lebih dini faktor risiko kesehatan dan gizi sebelum kehamilan, sekaligus menjadi salah satu upaya pencegahan stunting sejak dari hulu.
Hasil skrining selanjutnya menjadi dasar bagi Tim Pendamping Keluarga (TPK), yang terdiri dari bidan, kader PKK dan kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP), untuk memberikan edukasi dan pendampingan kepada calon pengantin maupun keluarga yang membutuhkan perhatian khusus.
Pendampingan juga dilakukan terhadap ibu hamil, dengan minimal enam kali kunjungan selama masa kehamilan, guna memantau kondisi kesehatan ibu dan calon bayi. Aplikasi tersebut turut menyediakan edukasi mengenai kesehatan reproduksi, gizi, kontrasepsi, serta persiapan kehidupan berkeluarga.
Selain pembinaan calon pengantin, kerja sama tersebut juga mengimplementasikan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), sebuah gerakan yang mendorong keterlibatan ayah secara aktif dalam pengasuhan dan perkembangan anak.
Dalam konsep GATI, keterlibatan ayah tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga mencakup interaksi langsung dengan anak, kehadiran secara fisik maupun psikologis, serta tanggung jawab dalam pengasuhan.
Peran tersebut dapat diwujudkan melalui aktivitas sederhana, seperti bermain, membaca, berolahraga bersama anak, membantu kebutuhan sehari-hari, hingga terlibat dalam pengambilan keputusan terkait pendidikan dan perkembangan anak.
GATI juga mendorong keterlibatan ayah dalam pekerjaan domestik atau rumah tangga sebagai bagian dari upaya membangun keseimbangan peran antara suami dan istri.
Melalui gerakan tersebut, diharapkan pemahaman bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama dapat semakin kuat, sehingga kehadiran ayah tidak hanya sebatas pencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan masa depan anak.
"Keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun generasi masa depan. Karena itu, peran ayah dan ibu harus berjalan beriringan. Kehadiran ayah secara emosional, moral dan spiritual sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak," imbuhnya.
Kerja sama itu diharapkan tidak hanya memperkuat kesiapan pasangan dalam membangun rumah tangga, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan keluarga, pencegahan stunting, pola pengasuhan yang baik, serta tanggung jawab bersama dalam mendidik generasi penerus.
"Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 melalui pembangunan keluarga yang berkualitas, sehat, harmonis, dan berkarakter," ungkapnya. (id103)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda