Breaking News
Memuat breaking news...

Pernah Ditolak Bank dan Perusahaan, Wanita Ini Punya Harta Rp60 Triliun

Redaksi
Redaksi
Kamis, 17 September 2026 - 11.44 AM WIB
Pernah Ditolak Bank dan Perusahaan, Wanita Ini Punya Harta Rp60 Triliun
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id); Penolakan dari perusahaan dan bank ternyata bukan akhir dari perjalanan Kiran Mazumdar-Shaw. Perempuan asal Bangalore, India, tersebut justru menjadikan berbagai hambatan sebagai pijakan untuk membangun kerajaan bisnis bioteknologi.

Kini, Mazumdar-Shaw dikenal sebagai salah satu pengusaha bioteknologi paling berpengaruh di dunia. Kekayaan bersihnya berdasarkan data Forbes mencapai sekitar US$3,4 miliar atau setara Rp60 triliun dengan asumsi kurs Rp17.672 per dolar AS.

Perjalanan menuju kesuksesan itu tidak berlangsung mudah. Mazumdar-Shaw sempat bercita-cita menjadi dokter. Namun, impiannya untuk menembus sekolah kedokteran gagal.

Ia kemudian mengalihkan minatnya ke bidang zoologi dan sains fermentasi. Pilihan tersebut membawanya hingga Australia dan meraih gelar Master of Science bidang brewing atau peracikan bir dari Melbourne University.

Namun, ketika kembali ke India pada dekade 1970-an dengan kualifikasi sebagai master peracik bir wanita pertama di negaranya, masalah baru justru muncul.

Industri pembuatan bir kala itu dianggap bukan bidang yang cocok bagi perempuan. Banyak perusahaan akhirnya menolak mempekerjakannya hanya karena persoalan gender.

Ditolak Bank, Sulit Cari Karyawan

Titik balik kehidupan Mazumdar-Shaw datang ketika ia bertemu Leslie Auchincloss, pendiri Biocon Biochemicals asal Irlandia.

Dikutip dari WIPO Magazine, Auchincloss terkesan dengan kemampuan Mazumdar-Shaw dan kemudian menawarkan kemitraan untuk mendirikan cabang usaha di India.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Pada 1978, Mazumdar-Shaw memulai bisnisnya dengan modal sekitar 10.000 rupee dari sebuah garasi rumah sewaan di Bangalore.

Produk awal yang dibuatnya berupa ekstraksi enzim untuk kebutuhan industri makanan dan tekstil.

Namun, tantangan kembali menghadang. Ketika membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnis, sejumlah bank justru menolak memberikan pinjaman.

Bisnis bioteknologi saat itu dianggap terlalu berisiko. Ditambah lagi, bank meragukan kemampuan seorang perempuan muda yang belum memiliki jaminan finansial kuat untuk menjalankan perusahaan.

Bukan hanya permodalan yang menjadi persoalan. Mazumdar-Shaw juga mengalami kesulitan merekrut pekerja karena sebagian orang tidak mau dipimpin oleh seorang perempuan.

Meski demikian, ia tidak berhenti. Ketekunannya dalam menjalankan bisnis akhirnya membuahkan hasil hingga mampu mendapatkan pendanaan pertama dari seorang bankir yang berani mengambil risiko.

Dari Garasi hingga Raksasa Biofarmasi

Perlahan tetapi pasti, bisnis yang dibangun dari garasi tersebut berkembang.

Dikutip dari StartupTalky, Mazumdar-Shaw berhasil membawa usahanya tumbuh dari produsen enzim berskala kecil menjadi perusahaan biofarmasi terintegrasi.

Salah satu keputusan penting dalam perjalanan bisnisnya terjadi ketika mitra usahanya dari Irlandia diakuisisi perusahaan multinasional.

Mazumdar-Shaw kemudian mengambil langkah berani dengan membeli kembali seluruh saham perusahaannya. Langkah tersebut membuatnya dapat memegang kendali penuh terhadap arah bisnis yang dibangunnya sejak awal.

Ia juga mengubah fokus riset perusahaan ke pengembangan obat yang lebih terjangkau. Salah satunya melalui pengembangan insulin untuk penderita diabetes dan terapi biologis untuk kanker.

Strategi tersebut dilakukan dengan menekan biaya produksi tanpa mengorbankan standar mutu internasional.

Dari India, bisnisnya kemudian berkembang ke pasar global, termasuk Amerika Serikat dan Asia Tenggara.

Kekayaan Tembus Rp60 Triliun

Kesuksesan tersebut akhirnya membawa perusahaan melantai di bursa saham dengan nilai kapitalisasi yang besar.

Mazumdar-Shaw pun masuk jajaran perempuan terkaya di India yang membangun kekayaan melalui bisnis yang dirintisnya sendiri atau dikenal sebagai self-made billionaire.

Berdasarkan data Forbes, kekayaan bersih Kiran Mazumdar-Shaw mencapai sekitar US$3,4 miliar, atau sekitar Rp60 triliun dengan kurs Rp17.672 per dolar AS.

Angka tersebut menjadi gambaran kontras dengan kondisi ketika ia pertama kali memulai usaha. Dari modal sekitar 10.000 rupee di sebuah garasi, bisnisnya berkembang menjadi perusahaan biofarmasi berskala global.

Kekayaan untuk Misi Kemanusiaan

Kesuksesan finansial tidak membuat Mazumdar-Shaw meninggalkan misi sosialnya.

Filosofi kepemimpinannya justru berfokus pada upaya memperluas akses layanan kesehatan yang terjangkau (affordable healthcare), terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Bagi Mazumdar-Shaw, inovasi sains tidak hanya menjadi instrumen untuk menghasilkan keuntungan. Sains juga harus menjadi sarana untuk membantu menyelamatkan kehidupan jutaan orang di negara berkembang.

Perpaduan antara visi jangka panjang, keberanian menghadapi stigma gender, ketahanan menghadapi risiko, serta kepemimpinan yang berorientasi pada kemanusiaan membuat namanya menjadi salah satu ikon dalam dunia kewirausahaan dan bioteknologi global.

Kisah Mazumdar-Shaw menunjukkan bagaimana penolakan dari perusahaan, keraguan bank, keterbatasan modal, hingga stigma terhadap perempuan dapat dihadapi dengan membangun bisnis secara bertahap.

Dari sebuah garasi kecil di Bangalore, ia akhirnya membangun perusahaan biofarmasi berskala dunia dan mengumpulkan kekayaan yang kini mencapai sekitar Rp60 triliun. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement