Pertemuan Trump-Xi Jinping Perpanjang Gencatan Dagang AS-China

JAKARTA (Waspada.id): Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping selama dua hari di Washington berakhir dengan sejumlah kesepahaman, meski belum banyak menghasilkan keputusan konkret pada isu-isu sensitif.
Salah satu hasil utama pertemuan tersebut adalah perpanjangan gencatan dagang AS-China yang masa berlakunya hampir berakhir. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan gencatan dagang kedua negara diperpanjang hingga 10 Januari.
Kesepakatan tersebut menjadi kelanjutan dari gencatan dagang yang sebelumnya disepakati kedua negara. Xi menyebut telah ada "pengaturan bersama baru" terkait perdagangan bilateral, meski Beijing tidak merinci tanggal pastinya.
Gencatan dagang tersebut sebelumnya tercapai setelah pertemuan Trump dan Xi di Busan, Korea Selatan. Kesepakatan itu kemudian diikuti penurunan tarif AS serta penangguhan kontrol ekspor tanah jarang dan mineral kritis dari China.
Sejumlah pakar China yang berbicara kepada CNBC menilai periode perpanjangan yang lebih pendek dapat memberikan ruang bagi Washington untuk menggunakan ancaman kembalinya konflik dagang sebagai alat tawar dalam negosiasi selanjutnya.
Sebelumnya, banyak pihak memperkirakan gencatan dagang akan diperpanjang selama enam bulan. Namun, durasi yang lebih pendek membuat kedua negara tetap memiliki daya tawar dalam pembicaraan berikutnya.
AS Kembali Singgung Iran
Selain perdagangan, isu Iran turut menjadi perhatian dalam pertemuan Trump dan Xi.
Duta Besar AS untuk China David Perdue mengatakan, Trump kembali menegaskan sikap Washington mengenai Iran ketika bertemu Xi pada Kamis.
"Kami sudah tegaskan sejak berminggu-minggu lalu bahwa bantuan apa pun kepada Iran, baik langsung maupun tidak langsung, baik berupa intelijen, suku cadang, maupun peralatan militer, sama sekali tidak bisa diterima," kata Duta Besar AS untuk China David Perdue, dikutip dari CNBC, Sabtu (26/9/2026).
Perdue menyebut pesan tersebut merupakan "seruan berkelanjutan" yang terus disampaikan Washington kepada Beijing.
Trump-Xi Bahas Masa Depan AI
Di tengah persaingan teknologi AS-China, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi salah satu topik pembicaraan.
Xi mengatakan kepada Trump bahwa terdapat lebih banyak peluang kerja sama dibandingkan persaingan dalam pengembangan AI.
"Kedua pihak bisa melanjutkan dialog AI, bertukar pandangan soal risiko dan manfaatnya, serta bersama-sama menjaga agar AI tidak disalahgunakan," kata Xi, menurut terjemahan CNBC atas catatan resmi tersebut.
Pernyataan tersebut tercatat dalam catatan resmi media pemerintah China mengenai pertemuan Trump dan Xi di Oval Office Gedung Putih.
Diplomasi Panda Kembali Muncul
Hubungan Washington dan Beijing juga diwarnai pendekatan yang lebih simbolis. Xi kembali menghidupkan strategi yang dikenal sebagai "diplomasi panda" dengan rencana mengirim panda ke kebun binatang Atlanta, Amerika Serikat.
Langkah tersebut menjadi salah satu simbol hubungan bilateral di tengah berbagai isu yang masih berpotensi menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Trump dan Xi juga dijadwalkan bertemu dua kali lagi pada tahun ini.
Pertemuan pertama dijadwalkan berlangsung dalam KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Shenzhen, China, pada November. Selanjutnya, keduanya akan kembali bertemu dalam KTT G20 di Miami pada Desember.
Ketegangan Masih Bisa Kembali
Meski pertemuan Trump dan Xi berlangsung dalam suasana yang relatif tenang, sejumlah analis mengingatkan bahwa hubungan kedua negara masih menghadapi berbagai persoalan.
Analis Kennedy dalam program Squawk Box Asia CNBC menggambarkan situasi tersebut sebagai ketenangan di permukaan, tetapi masih menyimpan potensi ketegangan.
"Di permukaan situasinya terlihat relatif tenang seperti pertandingan polo, tapi di bawahnya ada banyak 'tendangan', dan tendangan itu akan makin terlihat menjelang tahun baru," kata analis Kennedy dalam program Squawk Box Asia CNBC. (Lip6)
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda