Perusahaan Mulai Menyesal PHK Karyawan Gegara AI, Kini Ramai-Ramai Rekrut Kembali


JAKARTA (Waspada.id): Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai berbalik menjadi masalah bagi sejumlah perusahaan. Setelah sebelumnya memangkas tenaga kerja dengan alasan efisiensi dan otomatisasi, kini sebagian perusahaan justru menyesali keputusan tersebut dan kembali merekrut karyawan yang pernah diberhentikan.
Fenomena yang dikenal sebagai AI rebounding atau efek pantulan balik AI ini menunjukkan bahwa menggantikan tenaga manusia dengan teknologi ternyata tidak semudah yang dibayangkan perusahaan.
Perusahaan layanan karier asal Amerika Serikat, Outplacement Challenger, Gray & Christmas, dalam temuannya pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa sebanyak 40% perusahaan melakukan PHK dengan AI sebagai alasan utama.
Namun, riset terbaru memperlihatkan perubahan strategi di kalangan perusahaan. Sejumlah organisasi mulai menyadari bahwa penerapan AI tanpa mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja manusia justru dapat menimbulkan persoalan baru.
Dalam survei terhadap lebih dari 1.000 pekerja di Amerika Serikat (AS), hampir satu dari lima responden mengaku pernah mengalami PHK akibat AI. Menariknya, sebagian pekerja tersebut justru kembali dipanggil perusahaan untuk bekerja.
Survei yang dilakukan perusahaan perekrutan dan manajemen talenta SHL bersama perusahaan riset pasar Propeller Insights itu juga melibatkan lebih dari 1.000 pekerja di Inggris. Penelitian berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dengan margin kesalahan sebesar 5%.
Wakil Presiden Senior Bidang Produk dan Desain Global SHL, Lucy Beaumont, mengatakan hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan mulai menyadari keputusan PHK akibat AI dilakukan terlalu terburu-buru.
"Temuan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyadari telah mengambil keputusan terlalu cepat dalam melakukan PHK," ujar Lucy, dilansir dari CNBC, Selasa (3/11/2026).
Sejumlah perusahaan besar seperti Ford dan Amazon menjadi contoh organisasi yang mulai mengubah strategi setelah melakukan PHK terkait penggunaan AI dalam setahun terakhir.
Laporan Orgvue pada Maret 2026 bahkan menemukan bahwa 32% organisasi yang sebelumnya memberhentikan karyawan dengan alasan penerapan AI justru harus kembali merekrut tenaga kerja.
AI Belum Mampu Menggantikan Pemahaman Manusia
Profesor Praktik Manajemen di Harvard Business School, Joseph Fuller, menilai salah satu kesalahan perusahaan adalah menganggap penerapan AI dapat diperlakukan sama seperti penggunaan teknologi perangkat lunak lainnya.
Menurutnya, perusahaan kerap menjadikan penghematan anggaran melalui PHK sebagai sumber pembiayaan investasi teknologi baru. Padahal, pendekatan tersebut belum tentu menghasilkan efisiensi yang diharapkan.
“Dari sudut pandang perusahaan, untuk mendanai teknologi baru, kami harus menghemat anggaran. Salah satu cara yang selama ini kami lakukan adalah melalui PHK,” ujarnya.
Fuller menjelaskan, AI justru berpotensi memberikan manfaat lebih besar apabila dikombinasikan dengan kecerdasan kontekstual manusia. Kemampuan memahami latar belakang, proses bisnis, hingga persoalan yang dihadapi perusahaan tetap menjadi keunggulan pekerja.
“Semakin banyak pemahaman seseorang terhadap proses bisnis yang penting, semakin besar pula nilai yang dapat diperoleh dari penggunaan AI,” kata Fuller.
Pandangan serupa disampaikan Lucy Beaumont. Menurutnya, teknologi AI belum sepenuhnya mampu menggantikan manusia, terutama dalam memahami bisnis, mengenali pelanggan, mengambil keputusan, menunjukkan empati, dan membangun hubungan antarmanusia.
“AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan orang yang memahami bisnis, mengenal pelanggan, memiliki penilaian, mampu menunjukkan empati, serta membangun hubungan antarmanusia,” ujar Beaumont.
Pekerja yang Kembali Minta Gaji Lebih Tinggi dan Jaminan Kerja
Fenomena PHK akibat AI ternyata juga mengubah hubungan antara perusahaan dan karyawan. Pekerja yang bersedia kembali tidak serta-merta menerima tawaran perusahaan tanpa persyaratan.
Survei menunjukkan hanya 6,6% karyawan di AS yang menyatakan tidak akan kembali bekerja di perusahaan sebelumnya dengan syarat apa pun.
Namun, Beaumont mengungkapkan bahwa karyawan yang kembali bekerja cenderung memiliki tuntutan lebih tinggi. Hampir setengah dari pekerja yang disurvei membutuhkan kenaikan gaji signifikan agar bersedia kembali ke posisi sebelumnya.
Selain itu, sebanyak 43% menginginkan jaminan tertulis terkait keberlangsungan pekerjaan mereka.
Sebanyak 40% pekerja juga menuntut transparansi penuh mengenai bagaimana AI akan digunakan dalam pekerjaan mereka sebelum bersedia kembali. Sementara itu, 30% menyatakan permintaan maaf atau pengakuan dari pimpinan menjadi syarat mutlak sebelum kembali bekerja di perusahaan tersebut.
Beaumont mengatakan kepastian menjadi kebutuhan utama para pekerja yang terdampak PHK. Bahkan ketika perusahaan kembali mempekerjakan mereka, dampak psikologis akibat keputusan sebelumnya tidak bisa diabaikan.
Dampak PHK secara fundamental mengubah kontrak psikologis antara karyawan dan perusahaan. Karena itu, mempekerjakan kembali seseorang tidak otomatis memulihkan hubungan yang telah rusak.
“ Anda (perusahaan) sudah merusak kepercayaan orang-orang ini,” kata Beaumont.
Akibatnya, karyawan yang kembali bekerja berpotensi tidak memiliki tingkat produktivitas dan keterlibatan yang sama seperti sebelum PHK.
“Budaya itu sulit diubah, dan saat sudah memengaruhinya secara negatif, akan sulit untuk diperbaiki,” kata Beaumont.
Keterampilan AI Jadi Modal Bertahan Pekerja
Di tengah perubahan dunia kerja akibat perkembangan AI, para pekerja mulai menyadari pentingnya meningkatkan keterampilan agar tetap relevan di pasar tenaga kerja.
Survei menunjukkan sebanyak 44% pekerja memilih mempelajari penggunaan berbagai perangkat AI. Kemudian, 42,6% membangun keterampilan spesifik industri yang sulit digantikan teknologi.
Selain itu, 40% pekerja mengasah kemampuan interpersonal dan kepemimpinan, sedangkan 38% meningkatkan kreativitas serta kemampuan berpikir strategis.
Fuller menilai kemampuan beradaptasi menjadi salah satu keterampilan paling penting yang harus dimiliki pekerja di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
"Akibat pertumbuhan AI yang pesat, keterampilan utama yang penting bagi karyawan adalah adaptabilitas," kata Fuller.
Ia mendorong pekerja untuk membiasakan diri menggunakan AI dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari sekaligus mencari peluang untuk mengembangkan kemampuan melalui teknologi tersebut.
Fuller juga memperkirakan perkembangan AI akan terus memicu perubahan besar dalam struktur ketenagakerjaan berbagai organisasi.
Di sisi lain, Beaumont menyarankan pekerja untuk mengenali bidang-bidang yang memungkinkan keterampilan khusus mereka memberikan kontribusi besar bagi perusahaan.
“Para pemimpin sebaiknya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘Jenis peningkatan keterampilan apa yang dibutuhkan karyawan? Peluang baru apa saja yang tersedia bagi mereka? Jenis mobilitas internal apa yang saya buka berkat AI?’” ujarnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa investasi teknologi tidak selalu berarti pengurangan tenaga kerja. Perusahaan tetap membutuhkan manusia untuk memberikan pemahaman, kreativitas, pertimbangan, dan kemampuan membangun hubungan yang belum sepenuhnya dapat digantikan AI. (Lip6)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda