Breaking News
Memuat breaking news...

Pesan Wakil Bupati Tarmizi Panyang: Jangan Biarkan Aceh Utara Berjalan Sendiri

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 4.39 PM WIB
Pesan Wakil Bupati Tarmizi Panyang: Jangan Biarkan Aceh Utara Berjalan Sendiri
Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, Sabtu (22/8/26) siang, memberikan kata sambutan pada pembukaan Musda Daerah XI Partai Golkar Aceh Utara di MK Hotel Lhoksukon.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Sabtu siang itu, Sabtu (22/8/26), langit Lhoksukon tampak cerah. Di Mitra Hotel, ruang pertemuan dipenuhi kursi berderet rapi, spanduk kuning Golkar membentang di dinding, dan suara riuh percakapan politik bergema seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti. Musyawarah Daerah XI Partai Golkar Aceh Utara digelar, menjadi panggung konsolidasi sekaligus ajang silaturahmi para tokoh.

Di tengah keramaian, Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, berdiri dengan nada suara yang tenang namun tegas. Ia tidak sekadar menyapa hadirin, melainkan mengirimkan pesan yang lebih dalam: jangan biarkan Aceh Utara berjalan sendiri.

“Saya mengajak seluruh partai politik, DPRK, DPRA, DPR-RI dan seluruh tokoh politik untuk bergandengan tangan membantu kami, Ayahwa dan Panyang membangun Aceh Utara,” ucapnya, seolah menyalakan obor kebersamaan di ruangan itu.

Sorot mata para peserta sejenak terarah padanya. Ada yang mengangguk pelan, ada yang tersenyum tipis. Kata-kata itu terasa seperti panggilan, bukan hanya untuk Golkar, melainkan untuk semua warna politik yang hadir.

Tarmizi melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, mengingatkan bahwa pembangunan bukanlah tugas satu pihak. “Tanpa kita bergandengan tangan membangun Aceh Utara, saya rasa tidak mungkin orang lain yang akan mau membantu,” katanya. Kalimat itu menggema, seperti denting lonceng yang mengingatkan akan tanggung jawab bersama.

Musda Golkar XI hari itu dihadiri lintas tokoh: anggota DPRA, DPR-RI, DPRK Fraksi Golkar, Ketua KIP, Ketua Bawaslu, serta pimpinan partai lain seperti PAN, PAS, dan PKS. Kehadiran mereka menjadikan forum ini lebih dari sekadar agenda partai. Ia berubah menjadi ruang pertemuan lintas bendera, tempat benang merah kebersamaan mulai dirajut.

Suasana hotel seakan menjadi saksi: kursi yang penuh, tepuk tangan yang bersahutan, dan senyum yang sesekali muncul di wajah para politisi. Semua itu membentuk mozaik kecil tentang harapan besar. Musda bukan hanya konsolidasi, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen bersama.

Golkar dan Amanat Persatuan

Sementara itu, Ketua DPD Golkar Aceh Utara, Drs. As’ari, menegaskan bahwa Musda ini bukan sekadar acara rutin. Ia adalah amanat organisasi, dijalankan sesuai petunjuk pelaksanaan partai, sekaligus wadah menjaring kader berbakat dan menjaga persatuan.

“Tujuannya supaya Partai Golkar makin kompak ke depan dan terhindar dari perpecahan,” ujar As’ari.

Ia menengok perjalanan panjang pasca‑reformasi: hampir dua dekade berjuang, hingga akhirnya pada Pemilu 2024 Golkar kembali bangkit—menambah kursi di DPR RI dan DPRK, serta mempertahankan wakil di DPRA.

“Sebenarnya bukan ‘merebut’, melainkan kita mengambil kembali apa yang dulu pernah kita miliki. Dulu kita minimal meraih 8 kursi—jadi Golkar hanya meminta kembali haknya,” tegasnya.

Kini, Golkar Aceh Utara memasang target ambisius: minimal satu kursi di setiap daerah pemilihan, atau enam kursi dari enam dapil yang ada. “Artinya setiap dapil wajib terisi satu kursi,” tambahnya.

As’ari juga memberi apresiasi setinggi‑tingginya kepada pengurus kecamatan dan kader akar rumput yang bekerja keras bersama para calon legislatif di lapangan. “Melalui Musda ke‑XI ini, Golkar bertekad terus berupaya meningkatkan wakil rakyat di periode mendatang,” pungkasnya.

Musda sebagai Panggung Kebangkitan

Ketua Panitia Penyelenggara, Hendra Suwardi, melaporkan rincian peserta: 46 wakil dari 27 kecamatan, 20 orang dari organisasi Hasta Karya, serta 40 pengurus DPD II Aceh Utara. Acara berlangsung meriah, dihadiri sekitar 150 peserta, mulai dari pengurus partai, organisasi sayap, hingga tokoh politik penting.

Nama‑nama besar turut hadir: Ketua DPD I Golkar Aceh, H. M. Salim Fakhri; Anggota DPR RI Dapil II Aceh, Ilham Pangestu; Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang; Ketua KIP Aceh Utara, Hidayatullah Akbar; serta Ketua Bawaslu Aceh Utara, Syahrizal.

Suasana hotel seakan menjadi saksi: kursi yang penuh, tepuk tangan yang bersahutan, dan senyum yang sesekali muncul di wajah para politisi. Semua itu membentuk mozaik kecil tentang harapan besar. Musda bukan hanya konsolidasi, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen bersama.

Perahu Aceh Utara

Di luar hotel, Aceh Utara menunggu. Jalan‑jalan desa, sawah yang terbentang, dan wajah rakyat yang penuh harapan. Pesan Wakil Bupati hari itu jelas: kebangkitan daerah bukanlah sorak podium, melainkan kerja bersama yang nyata.

Aceh Utara adalah sebuah perahu besar yang sedang berlayar di lautan tantangan. Perahu itu tidak akan sampai ke dermaga kesejahteraan jika hanya satu orang mendayung. Ia membutuhkan semua tangan, semua tenaga, semua niat baik.

Dan di Musda Golkar XI, suara Tarmizi Panyang berpadu dengan tekad As’ari dan semangat para kader. Pesan mereka sama: jangan biarkan perahu itu berlayar sendirian.

Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement