Breaking News
Memuat breaking news...

Peternak Ayam di Simalungun Kini Punya Mesin Pemecah Jagung, Biaya Pakan Berpotensi Lebih Hemat

Redaksi
Redaksi
Rabu, 5 Agustus 2026 - 6.36 PM WIB
Peternak Ayam di Simalungun Kini Punya Mesin Pemecah Jagung, Biaya Pakan Berpotensi Lebih Hemat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Tingginya biaya pakan pabrikan yang selama ini menjadi beban utama peternak ayam kampung mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Medan (Unimed) menghadirkan solusi teknologi tepat guna bagi peternak di Nagori Sahkuda Bayu, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun.

Pada Sabtu, 1 Agustus 2025, tim PKM Unimed menyerahkan sekaligus melatih penggunaan mesin pemecah jagung kepada Kelompok Ternak Mekar Jadi yang mengelola sekitar 200 ekor ayam kampung. Kehadiran mesin ini diharapkan mampu membantu peternak memanfaatkan jagung lokal sebagai bahan baku pakan sehingga dapat menekan biaya produksi.

Selama ini, kelompok ternak masih bergantung pada pakan pabrikan karena proses pengolahan jagung dilakukan secara manual. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan jagung sebagai bahan pakan alternatif belum berjalan optimal.

Ketua Tim PKM Unimed, Bagoes Maulana, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa mesin yang dikembangkan memiliki kapasitas hingga 200 kilogram jagung per jam. Mesin mampu mengolah jagung dalam bentuk gelondong maupun pipilan menjadi pecahan dengan ukuran yang lebih halus dan seragam sehingga siap digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak.

"Kapasitas mesin ini bisa mengolah hingga 200 kilogram jagung per jam, baik dalam bentuk gelondong maupun pipilan, menjadi pecahan yang lebih halus dan ukurannya seragam. Harapannya mitra bisa memproduksi pakan sendiri secara mandiri dan lebih hemat," ujar Bagoes.

Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada penyerahan alat, tetapi juga memastikan peternak mampu mengoperasikan dan merawat mesin secara mandiri. Tim memberikan pendampingan berupa sistem pencatatan sederhana berbasis spreadsheet untuk mendata jumlah jagung yang diolah, hasil produksi pakan, konsumsi harian ternak, hingga log penggunaan dan perawatan mesin.

Sebagai pelengkap, tim juga menyediakan modul digital serta video panduan agar peternak dapat mempelajari pengoperasian mesin secara mandiri kapan pun diperlukan.

Program PKM ini merupakan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang melibatkan Eviyona Laurenta Br Barus, S.Pd., M.S. dari Program Studi Fisika, Muhammad Dani Solihin, S.Pd., M.T. dari Program Studi Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unimed, serta Rosma Siregar, M.Kom. dan Saras Pratama, S.Pd., M.Kom. dari Program Studi Pendidikan Teknologi Informatika dan Komputer Fakultas Teknik Unimed. Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik juga turut ambil bagian dalam pelaksanaan kegiatan.

Rangkaian program diawali dengan identifikasi kebutuhan mitra di lapangan, dilanjutkan proses perancangan dan perakitan mesin, uji coba langsung di lokasi, hingga pelatihan operasional bersama para peternak.

Ketua Kelompok Ternak Mekar Jadi, Alex Damanik, menyambut baik bantuan tersebut. Ia menilai kehadiran mesin beserta pendampingan yang diberikan membuka peluang bagi kelompoknya untuk memproduksi pakan secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan yang selama ini menyerap sebagian besar biaya usaha.

Melalui program ini, Unimed kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi teknologi tepat guna yang menjawab kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan mesin pemecah jagung diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha peternakan ayam kampung, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi peternak rakyat melalui optimalisasi potensi pangan lokal di pedesaan. (Id13)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement