Pidie Berkabut, Hati Ibu Terpaut


Suara azan Subuh baru saja mengalun ketika Nurhayati mulai menata kesibukan di rumahnya di Kemukiman Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Usai salat, ia bergegas ke dapur menyiapkan sarapan dan bekal, lalu merapikan pakaian sekolah anak-anaknya.
Namun, pagi itu ada kegelisahan yang menyelinap di antara rutinitasnya. Kabut asap menyelimuti kawasan tempat tinggalnya, membuat udara tampak kelabu. Di hadapan seragam sekolah yang telah disiapkan, Nurhayati dihadapkan pada dilema, membiarkan anak-anak berangkat menuntut ilmu atau menahan mereka di rumah demi menjaga kesehatan.
“Saya sangat khawatir dengan kesehatan anak-anak. Kalau kabut asap semakin tebal, tentu kami sebagai orang tua takut mereka jatuh sakit. Saya berharap pihak sekolah dapat memberikan perlindungan, salah satunya dengan menyediakan masker bagi para murid,” harap Nurhayati.
Bagi seorang ibu, sekolah merupakan jalan menuju masa depan. Namun, ketika udara yang dihirup mulai mengkhawatirkan, keselamatan anak-anak menjadi pertimbangan yang tak bisa diabaikan.
Ketika Ruang Kelas Diuji Kabut
Kekhawatiran Nurhayati bukan sekadar kecemasan pribadi. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan di Pidie memunculkan pertanyaan tentang keamanan anak-anak saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika mereka harus menempuh perjalanan menuju sekolah dan mengikuti kegiatan di ruang terbuka.
Sejumlah kawasan dilaporkan terdampak, di antaranya Gampong Blang dan Kemukiman Bungie di Kecamatan Simpang Tiga, serta Bambi dan Lampoih Saka di Kecamatan Peukan Baro.
Dalam situasi seperti ini, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang memperhatikan keselamatan peserta didik. Penyediaan masker, pembatasan kegiatan luar ruangan saat kondisi udara memburuk, serta komunikasi dengan orang tua menjadi langkah yang patut dipertimbangkan sesuai kondisi di lapangan.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang memastikan murid hadir di ruang kelas. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk menjaga agar proses belajar berlangsung dengan tetap memperhatikan kesehatan dan keselamatan mereka.
BPBD Ingatkan
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pidie, Apriadi, S.Sos., mengingatkan bahwa keselamatan masyarakat, terutama anak-anak, harus menjadi perhatian bersama di tengah kondisi kabut asap.
“Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi perhatian bersama. Jika kondisi asap semakin pekat, aktivitas luar ruangan perlu dibatasi. Pihak sekolah juga diharapkan berkoordinasi dengan orang tua dan instansi terkait untuk menentukan langkah perlindungan yang sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujar Apriadi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka yang dapat memperburuk pencemaran udara.
“Pembakaran terbuka hanya akan menambah beban pencemaran udara. Dalam situasi seperti ini, masyarakat harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, bukan justru memperburuk kondisi lingkungan,” tegasnya.
Imbauan tersebut menegaskan bahwa menghadapi kabut asap tidak cukup hanya dengan menunggu udara kembali jernih. Kewaspadaan, pencegahan, dan koordinasi antarpihak diperlukan agar dampaknya tidak semakin meluas.
Asap Tak Kenal Batas Kampung
Kabut asap tidak mengenal batas administrasi. Ia dapat menyelimuti permukiman, mengaburkan pandangan pengguna jalan, dan mengusik ketenangan warga yang menjalani rutinitas sehari-hari.
Berdasarkan informasi yang disampaikan BPBD Pidie setelah berkoordinasi dengan BMKG Blang Bintang, Aceh Besar, kondisi cuaca saat itu berkabut dan dinamis, dengan jarak pandang sekitar dua hingga tiga kilometer. Informasi tersebut juga menyebut adanya titik panas di Aceh Utara serta dugaan asap kiriman dari wilayah Sumatra Selatan dan Kalimantan berdasarkan arah angin.
Dugaan asal asap tersebut masih memerlukan pemantauan lebih lanjut. Namun, bagi warga yang terdampak, langkah perlindungan tetap menjadi kebutuhan mendesak.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap menebal, menggunakan masker yang sesuai saat harus bepergian, menutup pintu dan jendela jika asap masuk ke rumah, serta menghindari pembakaran terbuka. Warga yang mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk perlu segera mencari pertolongan medis.
Jangan Biarkan Orang Tua Memilih
Di balik kabut yang menggelapkan langit Pidie, ada kegelisahan yang tumbuh di rumah-rumah warga. Para orang tua ingin anak-anak mereka tetap bersekolah, tetapi mereka juga tidak ingin kesehatan buah hati dipertaruhkan oleh udara yang tercemar.
Nurhayati mewakili suara para ibu yang berharap perhatian nyata dari sekolah dan pemerintah. Penyediaan masker, komunikasi dengan orang tua, serta kebijakan yang tanggap terhadap kondisi udara menjadi bagian dari perlindungan yang mereka nantikan.
Kabut asap boleh menggelapkan langit Pidie, tetapi jangan sampai memadamkan cahaya masa depan anak-anaknya. Mereka ibarat tunas yang baru tumbuh, membutuhkan udara bersih, tanah yang subur, dan perlindungan agar kelak menjelma pohon yang kokoh.
Kegelisahan Nurhayati menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, melainkan amanah bersama. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat perlu berjalan beriringan menghadapi persoalan ini.
Matahari mungkin membutuhkan waktu untuk menembus kabut, tetapi kepedulian terhadap keselamatan anak-anak tidak boleh menunggu sampai langit kembali cerah. WASPADA.id
Muhammad Riza
Berita Terkait






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda