Breaking News
Memuat breaking news...

Pipa Vital Arab Saudi Ditutup, Harga Minyak Dunia Tembus US$107 per Barel

Redaksi
Redaksi
Senin, 14 September 2026 - 7.13 AM WIB
Pipa Vital Arab Saudi Ditutup, Harga Minyak Dunia Tembus US$107 per Barel
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak mentah dunia melonjak pada Minggu (13/9/2026) waktu setempat setelah Arab Saudi menutup jalur pipa vital yang melintasi wilayah daratan untuk menghindari Selat Hormuz. Penutupan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Mengutip CNBC, Senin (14/9/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi US$102,87 per barel pada pukul 18.27 waktu setempat (ET). Sementara itu, harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional mendaki 3,1% menjadi US$107,87 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari Irak merusak jalur pipa Timur-Barat pada Kamis. Kerusakan tersebut memaksa pemerintah Saudi menutup jalur utama distribusi minyak mentah.

Pihak Riyadh belum mengungkapkan seberapa parah kerusakan pipa itu atau berapa lama penutupan akan berlangsung. Ketidakpastian ini menambah kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dari salah satu negara produsen terbesar dunia.

Pertemuan diplomatik antara Iran dan negara-negara Arab Teluk untuk membahas situasi di Selat Hormuz, yang sedianya dijadwalkan berlangsung Senin di Oman, ditunda secara mendadak setelah terjadinya serangan terhadap jalur pipa tersebut.

"Demi mencapai konsensus, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah telah ditunda," ujar Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dalam sebuah unggahan media sosial pada Minggu.

"Kami tetap berkomitmen untuk mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami,” ia menambahkan.

Situasi keamanan di Selat Hormuz juga masih rawan. Sebuah kapal tanker lainnya diserang pada Minggu dan menyebabkan kebakaran hebat di atas kapal, menurut Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).

Jalur Pipa Strategis Arab Saudi

Jalur pipa Timur-Barat milik Arab Saudi memiliki kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari. Infrastruktur ini memainkan peran penting dalam meredakan gangguan pasokan minyak yang terjadi akibat konflik yang melibatkan Iran.

Pipa tersebut membentang melintasi wilayah kerajaan dari Timur ke Barat, menghubungkan kawasan penghasil minyak di dekat Teluk Persia dengan terminal ekspor di pesisir Laut Merah. Jalur ini memungkinkan Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak mentah tanpa sepenuhnya bergantung pada jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Arab Saudi mengandalkan jalur pipa tersebut untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz di tengah perebutan kendali atas jalur strategis itu antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, sebelumnya menyebut jalur pipa tersebut memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasar minyak. Menurutnya, fungsi strategis infrastruktur itu bahkan lebih besar dibandingkan pelepasan besar-besaran cadangan minyak strategis yang dipimpin AS. Pernyataan tersebut disampaikan dalam panggilan konferensi laporan keuangan perusahaan pada Agustus.

Ancaman Serangan Meluas

Arab Saudi juga menghadapi peningkatan serangan dari kelompok militan yang bersekutu dengan Iran dalam beberapa hari terakhir. Militan Houthi di Yaman menyerang fasilitas energi dan aset sipil lainnya di wilayah kerajaan pada awal pekan lalu. Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 70 orang terluka, menurut laporan media pemerintah Saudi.

Kelompok Houthi juga dilaporkan telah menguasai Pulau Perim yang strategis di Selat Bab el-Mandeb setelah merebut kota pelabuhan Mokha di pesisir barat Yaman.

Kemajuan tersebut berpotensi memberikan posisi yang lebih kuat bagi kelompok militan itu untuk mengganggu arus minyak melalui Bab el-Mandeb, jalur pelayaran yang menghubungkan bagian selatan Laut Merah dengan pasar global.

Kelompok Houthi sebelumnya telah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada Juli. Perkembangan ini semakin memperbesar risiko gangguan terhadap jalur distribusi minyak dunia, baik melalui Selat Hormuz maupun Bab el-Mandeb. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement