PLN Butuh Investasi Rp627 Triliun Untuk Bangun PLTA 11,7 GWPLN Butuh Investasi Rp627 Triliun Untuk Bangun PLTA 11,7 GW

JAKARTA (Waspada.id): PT PLN (Persero) memperkirakan kebutuhan investasi mencapai sekitar Rp627,38 triliun untuk merealisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 11,7 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Proyek ini menjadi salah satu pilar utama transisi energi nasional menuju target net zero emission (NZE) pada 2060.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero), Suroso Isnandar mengatakan, pembangunan PLTA telah menjadi bagian penting dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang mengedepankan pemanfaatan energi baru terbarukan.
"Kita mempunyai transisi energi menuju net zero emission 2060. Basis kita salah satunya hydropower. Karena itu dalam RUPTL kita 2025–2034, yang merupakan RUPTL paling hijau sepanjang sejarah ini, 76% kapasitas pembangkit baru adalah dari energi baru terbarukan," ujar Suroso saat menyampaikan keynote speech dalam Indonesia Hydropower Summit 2026: Powering Indonesia's Clean Energy Pillar di Auditorium PLN, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, untuk membangun PLTA dengan kapasitas 11,7 GW dibutuhkan investasi sekitar US$35 miliar atau setara Rp627,38 triliun dengan asumsi kurs Rp17.925 per dolar AS. Estimasi tersebut dihitung berdasarkan kebutuhan investasi sekitar US$3 juta untuk setiap megawatt (MW) kapasitas pembangkit.
"Untuk merealisasikan target pembangunan PLTA sebesar 11,7 GW, dibutuhkan investasi sekitar US$35 miliar atau sekitar Rp627,38 triliun (dalam kurs 1 US$ Rp17.925). Perhitungan itu didasarkan pada kebutuhan investasi sekitar US$ 3 juta untuk setiap megawatt (MW) kapasitas pembangkit," papar Suroso.
Ia menambahkan, besarnya nilai investasi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan energi air di Indonesia.
"Karena 11.000 MW (11,7 GW) kita memerlukan kurang lebih, kalau 1 MW nya adalah US$ 3 juta, maka kita memerlukan paling tidak US$ 35 miliar," sambung dia.
Suroso menegaskan, kebutuhan pendanaan yang besar harus diimbangi dengan ekosistem investasi yang sehat dan memberikan kepastian bagi investor. Salah satu aspek penting adalah penerapan skema kontrak yang adil dan mampu membagi risiko maupun keuntungan secara proporsional.
"Kontrak yang stabil Itu prinsipnya hanya simple sebetulnya, fair buat dua pihak. Kalau ada risiko sama-sama kita bagi, kalau ada windfall juga sama-sama kita bagi," tutur dia.
Untuk mempercepat realisasi proyek, PLN juga melakukan berbagai inovasi dalam proses pengadaan pembangkit, termasuk merancang skema pengadaan berbasis gigawatt hydro guna menyederhanakan proses investasi.
Saat ini PLN tengah menjalankan proses lelang proyek Sumatra Peaker berkapasitas 1 GW. Selain itu, perusahaan juga bersiap membuka lelang Sumatra Base Load dengan total kapasitas 1,8 GW. Pada tahap awal, pengadaan akan dilakukan secara bertahap dengan kapasitas 350 MW.
"Minggu depan kita iklankan berbagai kelas di Sumatra Base Load yang akan disusul dengan Sulawesi," jelas Suroso. (Lip6)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda