Breaking News
Memuat breaking news...

Polbangtan Kementan Gelar Seminar Nasional, Dorong Transformasi Penyuluhan Demi Pertanian Berkelanjutan

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 3 Oktober 2026 - 7.57 AM WIB
Polbangtan Kementan Gelar Seminar Nasional, Dorong Transformasi Penyuluhan Demi Pertanian Berkelanjutan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Politeknik Pembangunan Pertanian Medan bersama Asosiasi Program Studi Penyuluhan, Komunikasi Pembangunan, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (APP-KPPMI) menyelenggarakan Seminar Nasional Penyuluhan, Komunikasi Pembangunan, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Tahun 2026.

Kegiatan berlangsung di Aula Polbangtan Medan, Sumatera Utara, pada Kamis, 1 Oktober 2026 dan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 30 September hingga 2 Oktober 2026.

Mengangkat tema "Transformasi Penyuluhan Berbasis Inovasi, Digitalisasi, dan Sinergitas Pemangku Kepentingan untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Swasembada Pangan", pertemuan ini mempertemukan akademisi, peneliti, penyuluh pertanian, praktisi, perwakilan pemerintah, pelaku usaha, serta mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 120 pemakalah mempresentasikan karyanya secara luring maupun daring.

Penyuluhan merupakan instrumen strategis dalam pembangunan pertanian karena berperan menghubungkan kebijakan pemerintah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan petani dan masyarakat perdesaan.

Melalui penyuluhan, petani memperoleh pengetahuan, keterampilan, informasi, dan pendampingan yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, serta kesejahteraan. Namun perubahan iklim, perkembangan teknologi digital, ketidakpastian ekonomi global, perubahan struktur sosial perdesaan, regenerasi petani, serta meningkatnya kebutuhan pangan kini menuntut transformasi menyeluruh.

Penyuluhan tidak lagi cukup dilaksanakan melalui pendekatan konvensional, melainkan harus berbasis inovasi, pemanfaatan teknologi digital, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Direktur Polbangtan Medan menyampaikan kata sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan ini. Suasana makin meriah dengan persembahan tari dari tim Rampak Agricia Polbangtan Medan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa penyuluh pertanian adalah garda terdepan keberhasilan pembangunan pertanian nasional. Ia menegaskan perlunya pergeseran dari cara kerja yang bersifat tradisional menuju pendekatan modern, di mana digitalisasi mempercepat penyebaran informasi teknologi budidaya, pemupukan, hingga pengendalian hama agar dapat menjangkau wilayah yang lebih luas.

Menurutnya, swasembada pangan tidak hanya dicapai dengan memperluas lahan, melainkan dengan meningkatkan produktivitas setiap hektar melalui penerapan teknologi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti hadir sebagai pembicara utama. Dalam paparannya, ia menyatakan bahwa penyuluh harus mampu menjembatani inovasi bagi petani, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital.

Sumber daya manusia pertanian perlu dibekali kemampuan tidak sekadar mengakses informasi, melainkan mendampingi petani menerapkannya langsung di lapangan.

Sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan praktisi menjadi kunci agar gagasan yang lahir dari ruang diskusi dapat turun ke sawah dan kebun. Setelah penyampaian materi, dilakukan penyerahan cenderamata sebagai tanda penghargaan.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin menekankan bahwa pendidikan pertanian harus terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Peran penyuluh kini tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, melainkan mengelola pengetahuan, data, dan membangun jejaring kerja sama.

"Seminar ini menjadi bukti nyata langkah Polbangtan Medan menghasilkan lulusan yang tidak hanya terampil, tetapi mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung," kata Amin.

Sesi pemaparan materi dipandu oleh Alia Bihrajihant Raya, Ketua Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Universitas Gadjah Mada sekaligus Sekretaris APP-KPPMI. Empat pembicara menyampaikan gagasannya secara berurutan.

Pertama, Siti Amanah, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia IPB yang juga Ketua Forum Penyuluhan Asia Tenggara (RASSEA) mengangkat topik transformasi penyuluhan pertanian untuk memperkuat sistem pertanian-pangan berkelanjutan di era ketidakpastian global, mencakup pergeseran paradigma menuju pembelajaran partisipatif, penguatan kapasitas penyuluh dan petani, serta peran penyuluhan membangun sistem pertanian yang produktif dan berkeadilan.

Kedua, Subejo, Guru Besar dan Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM membahas pembangunan kelembagaan penyuluhan baru melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi digital, mencakup pengembangan jaringan kerja sama, perluasan jangkauan penyuluhan, serta penguatan literasi digital dan integrasi pembelajaran tatap muka dengan digital.

Ketiga, Agung Wibowo, Guru Besar dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Pertanian UNS memaparkan sinergi antara akademisi, dunia usaha, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan, mencakup model pembagian peran, penguatan hubungan antarlembaga, serta strategi kemitraan yang setara dan berkelanjutan.

Keempat, Surip Mawardi, Peneliti Utama Kopi dan Kakao serta Maestro Pemulia Varietas Kopi Indonesia menguraikan kontribusi praktisi dan dunia usaha dalam pengembangan kopi di Sumatera Utara, mencakup peningkatan kualitas dan daya saing, penguatan kapasitas kelompok tani, serta pengembangan kemitraan dalam rantai nilai kopi.

Acara ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada seluruh pembicara dan pengumuman penutup kegiatan. Siang harinya dilanjutkan dengan istirahat dan makan siang, sebelum memasuki sesi paralel presentasi karya tulisan peserta yang berlangsung hingga sore hari.

Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap menyampaikan bahwa pembangunan pertanian saat ini dihadapkan pada tantangan yang semakin beragam, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi, perubahan pasar, keterbatasan sumber daya, hingga kebutuhan regenerasi petani. Dalam kondisi tersebut, peran penyuluh menjadi sangat strategis sebagai jembatan antara kebijakan, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan nyata di lapangan.

"Tugas penyuluh kini telah berkembang. Mereka tidak cukup hanya menyampaikan informasi, melainkan harus menjadi komunikator, pendamping, penggerak perubahan, sekaligus mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan dampak. Tema yang diangkat dalam seminar ini dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana inovasi, digitalisasi, dan kerja sama antarberbagai pihak menjadi syarat utama kemajuan," ujar Nurliana.

Sebagai lembaga pendidikan vokasi, Polbangtan Medan berkomitmen menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga mampu berkomunikasi, berinovasi, membangun jejaring, dan memecahkan masalah nyata di lingkungan masyarakat. Seminar ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, melainkan melahirkan rekomendasi, model, dan kerja sama yang dapat diterapkan secara langsung demi kemajuan pertanian Indonesia.

Hasil kajian dan tulisan peserta akan dipublikasikan melalui jurnal dan prosiding nasional. Semua pihak berharap pertemuan ini menjadi awal langkah bersama memperkuat peran penyuluh, memperluas pemanfaatan teknologi, dan mempererat kerja sama demi terwujudnya pertanian yang berkelanjutan dan kedaulatan pangan yang kokoh. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement