Poltekkes Kemenkes Medan Latih Warga Namo Bintang Olah Air Sumur dan Wujudkan Rumah Sehat


DELI SERDANG (Waspada.id): Tim dosen dan mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Kemenkes Poltekkes Medan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, baru-baru ini.
Kegiatan yang diketuai Haesti Sembiring, SST., MSc., bersama anggota Jernita Sinaga, SKM., MPH., mengangkat tema “Pelatihan Peningkatan Kualitas Fisik, Kimia dan Mikrobiologi Sumber Air dan Edukasi Rumah Sehat”. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan masyarakat dalam mengolah air sumur gali serta menciptakan lingkungan rumah yang lebih bersih dan sehat.
Haesti Sembiring menyebutkan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi kondisi sebagian sumber air sumur gali masyarakat yang tampak keruh, berwarna kekuningan dan berbau karat. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan masalah estetika, tetapi juga menjadi perhatian dari sisi kualitas air yang digunakan masyarakat sehari-hari.
"Selain persoalan air, tim juga menemukan perlunya peningkatan pemahaman mengenai sanitasi rumah, termasuk penataan barang, kebersihan lingkungan, ventilasi serta pencegahan keberadaan vektor dan binatang pengganggu seperti nyamuk, kecoak dan tikus. Karena itu, kegiatan dirancang tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada masyarakat," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, warga mendapatkan edukasi mengenai persyaratan kualitas air, dampak penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan, prinsip rumah sehat serta cara menjaga lingkungan tempat tinggal. Masyarakat kemudian dilatih membuat dan mengoperasikan filter seri multimedia dengan beberapa media penyaring, di antaranya pasir aktif, ferroline, resin, zeolit, karbon aktif serta membran filter.
Peserta terlibat mulai dari pencucian dan penyiapan media, perakitan tabung filter, pengisian media hingga pengoperasian sistem penyaringan pada air sumur gali. Pendekatan praktik langsung ini diharapkan membuat masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan untuk melakukan pengolahan air secara mandiri.
Haesti Sembiring menyebutkan, hasil kegiatan menunjukkan perubahan positif. Dari 17 peserta, proporsi masyarakat dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 64,71 persen sebelum pelatihan menjadi 88 persen setelah pelatihan, sedangkan kategori pengetahuan kurang tidak lagi ditemukan setelah kegiatan. Pengujian air juga menunjukkan bahwa nilai TDS turun dari 179 mg/L menjadi 100 mg/L, sedangkan kadar besi atau Fe turun tajam dari 6,593313 mg/L menjadi 0,036476 mg/L setelah melewati rangkaian filter.
"Pemeriksaan mikrobiologi dalam kegiatan ini juga tidak menemukan Escherichia coli pada sampel sebelum maupun setelah penyaringan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada parameter yang diperiksa, teknologi filtrasi yang diterapkan mampu memperbaiki kualitas air sumur masyarakat," jelasnya.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Kemenkes Poltekkes Medan berharap keterampilan yang telah diberikan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh warga Desa Namo Bintang. Masyarakat juga didorong untuk melakukan perawatan filter secara berkala agar media penyaring tidak mengalami penyumbatan serta tetap menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.
Ke depan, pendampingan dan dukungan pemerintah desa diharapkan dapat memperluas penerapan teknologi pengolahan air sederhana ini ke lebih banyak rumah tangga. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa dan masyarakat, kegiatan pengabdian diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan hidup bersih dan sehat yang berkelanjutan. (id09)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda