Poltekkes Kemenkes Medan Latih Warga Talimbaru Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai EkonomisPoltekkes Kemenkes Medan Latih Warga Talimbaru Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai Ekonomis

KARO (Waspada.id): Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Medan mengajak masyarakat Desa Talimbaru, Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo, mengubah cara pandang terhadap sampah. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM), warga dibekali keterampilan mengelola sampah rumah tangga organik dan anorganik menjadi produk yang bernilai guna sekaligus bernilai ekonomis.
Kegiatan bertema pengelolaan sampah rumah tangga organik dan anorganik menjadi bahan bernilai ekonomis ini dipimpin oleh Deli Syaputri, SKM, M.Kes bersama Susanti Br Perangin-angin, SKM, M.Kes dan Mustar Rusli, SKM, M.Kes, serta melibatkan mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat.

Sebanyak 80 warga mengikuti penyuluhan, demonstrasi, hingga praktik langsung mengenai pemilahan sampah, penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pembuatan kompos menggunakan tong komposter, serta pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick.
Ketua Tim PPDM, Deli Syaputri, SKM, M.Kes mengatakan, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah bukan sekadar limbah, tetapi dapat menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi lingkungan maupun perekonomian keluarga.
"Melalui pelatihan ini kami ingin masyarakat memiliki pengetahuan sekaligus keterampilan dalam mengelola sampah secara mandiri. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian, sedangkan sampah plastik bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Harapannya, kebiasaan mengelola sampah dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Deli.
Program ini dinilai sangat relevan dengan kondisi Desa Talimbaru yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Sampah organik rumah tangga maupun sisa hasil pertanian dapat diolah menjadi pupuk kompos untuk meningkatkan kesuburan lahan, sementara limbah plastik dimanfaatkan menjadi ecobrick yang dapat diolah menjadi berbagai produk seperti kursi, meja, hingga kerajinan.

Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan penggunaan tong komposter, proses pembuatan kompos menggunakan bioaktivator, serta teknik membuat ecobrick dari botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik bersih dan kering. Metode pelatihan yang menggabungkan teori dan praktik membuat peserta lebih mudah memahami sekaligus langsung menerapkan materi yang diberikan.
Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang sangat signifikan. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 47,5 persen sebelum pelatihan menjadi 99,5 persen setelah kegiatan. Seluruh peserta juga mencapai kategori pengetahuan tinggi pada akhir pelatihan.
Perubahan positif juga terlihat pada aspek sikap dan perilaku. Sikap positif terhadap pengelolaan sampah meningkat dari 32,5 persen menjadi 100 persen, sementara tindakan pengelolaan sampah yang baik naik dari hanya 10 persen sebelum kegiatan menjadi 100 persen setelah pelatihan.

Menurut Deli, capaian tersebut membuktikan bahwa pendekatan edukasi yang dipadukan dengan demonstrasi dan praktik langsung mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
"Kami berharap masyarakat Desa Talimbaru dapat terus membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta memanfaatkan sampah anorganik menjadi produk yang bermanfaat. Dengan dukungan pemerintah desa melalui penyediaan sarana pengelolaan sampah dan pendampingan berkelanjutan, Talimbaru diharapkan dapat menjadi desa yang bersih, sehat, ramah lingkungan, sekaligus memiliki peluang ekonomi dari pengelolaan sampah," tutupnya. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda