Breaking News
Memuat breaking news...

Potensi Mineral dan Migas Papua Jadi Akselerator Pembangunan, IA-ITB Soroti Pencerdasan Bangsa dan Kesenjangan IPM

Redaksi
Redaksi
Kamis, 22 Oktober 2026 - 4.00 PM WIB
Potensi Mineral dan Migas Papua Jadi Akselerator Pembangunan, IA-ITB Soroti Pencerdasan Bangsa dan Kesenjangan IPM
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Pengurus Daerah Papua dan Papua Barat menggelar Seminar Nasional bertema “Potensi Mineral dan Migas sebagai Akselerator Pembangunan di Tanah Papua” pada Rabu (21/10/2026) di JS Luwansa Hotel and Convention Center, Jakarta.

Forum strategis ini diselenggarakan untuk membahas optimalisasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) guna menggerakkan perekonomian sekaligus mengeskalasi kesejahteraan masyarakat di Tanah Papua.

Ketua IA-ITB Papua-Papua Barat, Agustin Peranginangin, menyampaikan bahwa Tanah Papua menyimpan kekayaan mineral dan migas yang luar biasa—mulai dari emas, tembaga, nikel, hingga minyak dan gas bumi.

Potensi ini dinilai mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, mendorong industrialisasi, dan membuka lapangan kerja jika dikelola secara optimal, adil, dan berkelanjutan.

Melalui seminar ini, IA-ITB mendorong dialog lintas sektor antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, masyarakat adat, hingga generasi muda Papua.

"Hasil dari seminar ini diharapkan dapat menumbuhkan pencerdasan kehidupan bangsa, khususnya untuk masyarakat di Tanah Papua dan masyarakat seluruh Indonesia pada umumnya," tegas Agustin.

Pesan Mendiktisaintek, Riset Kampus dan Industri Harus Saling Terhubung
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) dan riset terapan merupakan kunci utama dalam mengelola potensi kekayaan alam di Papua. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi di Papua dengan kampus di Pulau Jawa serta pihak industri sangat krusial untuk memperkuat penguasaan teknologi.

Kemdiktisaintek juga mendorong pengembangan pusat penelitian serta laboratorium material maju di Papua agar inovasi dan riset dapat langsung dirasakan manfaatnya di daerah.

"Kami mempersilakan pihak industri jika ada permasalahan teknis di lapangan untuk dibagikan kepada kampus. Supaya perguruan tinggi bisa berkontribusi melakukan penelitian, dan topik tugas akhir para mahasiswa menjadi topik yang langsung menjawab kebutuhan industri serta daerah," ungkap Menteri Brian.

Tantangan Nyata IPM di Enam Provinsi Papua

Kendati memiliki potensi ekonomi yang besar, pengelolaan SDA Papua dihadapkan pada tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pemerataan pembangunan.

Hal ini tecermin dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Moderator sekaligus Praktisi Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, Yusak Reba.

Dalam diskusi yang melibatkan perwakilan mahasiswa Papua dan pemangku kepentingan lainnya, dampak pengelolaan mineral dan migas terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi sorotan utama.

Yusak Reba memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang menunjukkan kesenjangan IPM yang cukup lebar di antara enam provinsi di Tanah Papua:
- Provinsi Papua: 74,69
- Provinsi Papua Barat Daya: 70,55
- Provinsi Papua Selatan: 69,54
- Provinsi Papua Barat: 68,48
- Provinsi Papua Tengah: 60,64
- Provinsi Papua Pegunungan: 54,91

Sebagai pembanding, IPM nasional Indonesia pada 2025 berada pada angka 75,90. Dari data tersebut, hanya Provinsi Papua dan Papua Barat Daya yang mendekati rerata nasional, sementara Provinsi Papua Pegunungan masih tergolong dalam kategori IPM rendah.

Kondisi ini makin mempertegas pernyataan IA-ITB bahwa pemanfaatan hasil tambang dan migas harus dialokasikan secara nyata untuk peningkatan kualitas pendidikan, fasilitas kesehatan, serta pembangunan infrastruktur dasar.

Seminar nasional ini turut mengundang sejumlah pejabat dan tokoh nasional, di antaranya perwakilan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Pendikti Saintek Brian Yuliarto, serta Menteri Ketenagakerjaan Yassierli.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat merumuskan langkah konkret dalam menciptakan investasi yang inklusif, peningkatan mutu SDM lokal, serta pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat Papua secara berkelanjutan. (Rel)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement