Profil Perry Warjiyo, Gubernur BI yang Mundur Setelah 42 Tahun MengabdiProfil Perry Warjiyo, Gubernur BI yang Mundur Setelah 42 Tahun Mengabdi

JAKARTA (Waspada.id): Perry Warjiyo resmi mengakhiri pengabdiannya di Bank Indonesia (BI) setelah mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI. Keputusan tersebut menutup perjalanan panjang Perry yang telah berkarier selama 42 tahun di bank sentral dan memimpin BI selama lebih dari tujuh tahun.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, surat pengunduran diri Perry telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (26/7/2026). Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pemberhentian secara hormat, sementara posisi Gubernur BI untuk sementara dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti.
"Bapak presiden menerima pengunduran diri dari Bapak PerryWarjiyodan disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian beliau selama 7 tahun lamanya," ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Bank Indonesia, Senin (27/7/2026).
Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 1959, Perry menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada 1982. Ia kemudian melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Master pada 1989 dan gelar doktor (Ph.D.) pada 1991.
Karier Perry di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama empat dekade lebih mengabdi, ia menempati berbagai posisi strategis yang membentuk rekam jejaknya sebagai salah satu ekonom dan bankir sentral paling berpengaruh di Indonesia.
Sebelum dipercaya menjadi Gubernur BI pada 23 Mei 2018, Perry menjabat sebagai Deputi Gubernur BI periode 2013–2018 pada masa kepemimpinan Agus Martowardojo. Ia juga pernah menjadi Asisten Gubernur yang membidangi kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional, serta menjabat Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter.
Pengalaman internasional Perry juga cukup panjang. Pada 2007–2009, ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) dan mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.
Sepanjang kariernya di BI, Perry banyak berkecimpung dalam bidang riset ekonomi, kebijakan moneter, isu internasional, transformasi organisasi, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, hingga pendidikan dan riset kebanksentralan.
Selama memimpin BI sejak 2018, Perry mengedepankan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi (pro growth) sekaligus menjaga stabilitas (pro stability). Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai gejolak global.
Salah satu pencapaian penting pada era kepemimpinan Perry adalah peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada 2019. Inovasi tersebut menjadi tonggak transformasi sistem pembayaran digital nasional dan mempercepat adopsi transaksi non-tunai di Indonesia. (cnni)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda