Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI AGUSNI AH; DARI HAMPARAN KOSMOS MENUJU LORONG BATIN MANUSIA

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 9 Mei 2026 - 6.47 PM WIB
PUISI AGUSNI AH; DARI HAMPARAN KOSMOS MENUJU LORONG BATIN MANUSIA
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI:

Agusni AH kini tampak sedang bergerak dari hamparan kosmos menuju lorong batin manusia. Jika sebelumnya puisi-puisinya dipenuhi metafora galaksi: senja, matahari, bulan, bintang, cahaya, ruang hampa, dan semesta yang retak, maka belakangan larik-lariknya mulai memasuki ruang jiwa yang lebih lirih, lebih personal, dan terasa seperti percakapan sunyi dengan diri sendiri.

Pada fase ini, kosmik dalam puisinya tidak lagi sekadar bentangan alam raya, melainkan menjadi simbol dari luka, rindu, kehilangan, dan kenangan yang berdiam di dalam batin manusia. Cahaya tak lagi hanya milik bulan dan bintang, tetapi juga pantulan harapan yang nyaris padam. Ruang hampa bukan sekadar semesta tanpa isi, melainkan dada manusia yang dipenuhi gema kehilangan.

Pergeseran ini membuat puisi-puisinya terasa lebih dekat dan intim, seolah pembaca diajak berjalan di antara dua dunia:

antara langit yang luas--kokoh

dan hati yang kecil--rapuh.

Mungkin, ini adalah kekuatan baru puisinya tumbuh, ketika kosmos tidak lagi berada jauh di luar manusia, melainkan hidup di dalam jiwa itu sendiri. Seperti frasa-frasa yang mengapung di dalam empat puisi Agusni AH berikut ini:

LUKA YANG TAK SELESAI

Ruang hampa yang tak pernah kosong,

ia dipenuhi gema langkah-langkah sunyi

yang berjalan tanpa tubuh,

tanpa wajah,

namun menetap di dada paling dalam

Di antara kosmik yang pecah oleh cahaya,

ada raksasa rasa

mengambang seperti rahu purba,

mengunyah waktu perlahan-lahan

hingga usia tinggal serpihan kenangan

Dan, kepingan yang kini menjadi beling-beling itu kukutip sepanjang masa,

satu demi satu

seperti memungut serbuk nan bebijian yang runtuh di telapak tangan sang pengembara

Ada yang masih berpendar seperti doa,

ada yang telah menjadi jelaga,

hitam dan dingin

di sudut ingatan yang tak lagi bernama

Dan, berjalan terus

melewati galaksi kehilangan,

sementara semesta diam

menyaksikan seorang manusia

sibuk merakit dirinya kembali

dari pecahan cahaya, dari luka yang tak selesai...//(a.ah).

MENGGUMPAL

Jika tiba-tiba telingamu terasa berisik,

maka pahami itu sebuah lantunan malam,

suara-suara sunyi

yang berjalan pelan di lorong ingatan,

membawa gema dari masa lalu

yang belum selesai berpamitan

Jika tiba-tiba matamu terpejam

dengan penuh gangguan bayang,

maka pahami itu sebagai sebuah ziarah kenangan,

saat jiwa diam-diam kembali

menelusuri luka dan rindu

yang pernah dikuburkan waktu

Sebab tidak semua yang datang

adalah mimpi

Ada yang menjelma desir,

ada yang berubah menjadi bayang,

lalu menetap sebentar

di ruang paling sepi, di ingatan pikiran nan menggumpal di hati...//(a.ah).

RINDU DIKUBURKAN HIDUP-HIDUP

Bisik itu adalah kenangan

yang datang tanpa mengenal musim.

Ia tak menunggu hujan,

tak pula meminta senja

untuk sekadar singgah.

Ia hadir tanpa pesan,

tanpa mengetuk pintu ingatan,

lalu duduk diam

di sudut paling lirih dari dada

seperti seseorang

yang telah lama mengenal luka.

Dan selalu tiba merajah jiwa—

perlahan,

namun dalam—

meninggalkan gurat-gurat sunyi

yang tak terlihat mata,

tetapi nyerinya menetap

hingga malam kehilangan suara.

Kadang ia hanya berupa aroma masa lalu,

kadang menjelma bayang

yang melintas di sela cahaya.

Namun sekali ia datang,

waktu seakan berhenti bergerak,

dan hati kembali menjadi

ruang tua

tempat rindu dikuburkan hidup-hidup...//(a.ah).

CINTA BELUM MATI

Tatkala sunyi itu datang

tiba-tiba menghampirimu,

itulah aku

menjelma desir angin

yang pelan menyentuh jendela malammu

Aku mungkin tak lagi memiliki suara,

namun diamku masih tinggal

di sela napas dan ingatanmu

Dan, jika engkau membaca puisi luka,

itu juga aku

yang menuliskan rindu

dengan tinta paling gelap

dari dasar kehilangan

Setiap larik adalah jejak

dari hati yang pernah terbakar

oleh cinta dan perpisahan, setiap jeda

adalah tangis yang disembunyikan

agar dunia tak mengetahui

betapa rapuhnya seseorang

saat sedang merindukan

Maka jangan bertanya

mengapa malam terasa lebih panjang,

sebab di sana

cinta belum benar-benar mati...

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement