PUISI AGUSNI AH; DARI HAMPARAN KOSMOS MENUJU LORONG BATIN MANUSIA

PENGANTAR REDAKSI:
Agusni AH kini tampak sedang bergerak dari hamparan kosmos menuju lorong batin manusia. Jika sebelumnya puisi-puisinya dipenuhi metafora galaksi: senja, matahari, bulan, bintang, cahaya, ruang hampa, dan semesta yang retak, maka belakangan larik-lariknya mulai memasuki ruang jiwa yang lebih lirih, lebih personal, dan terasa seperti percakapan sunyi dengan diri sendiri.
Pada fase ini, kosmik dalam puisinya tidak lagi sekadar bentangan alam raya, melainkan menjadi simbol dari luka, rindu, kehilangan, dan kenangan yang berdiam di dalam batin manusia. Cahaya tak lagi hanya milik bulan dan bintang, tetapi juga pantulan harapan yang nyaris padam. Ruang hampa bukan sekadar semesta tanpa isi, melainkan dada manusia yang dipenuhi gema kehilangan.
Pergeseran ini membuat puisi-puisinya terasa lebih dekat dan intim, seolah pembaca diajak berjalan di antara dua dunia:
antara langit yang luas--kokoh
dan hati yang kecil--rapuh.
Mungkin, ini adalah kekuatan baru puisinya tumbuh, ketika kosmos tidak lagi berada jauh di luar manusia, melainkan hidup di dalam jiwa itu sendiri. Seperti frasa-frasa yang mengapung di dalam empat puisi Agusni AH berikut ini:
LUKA YANG TAK SELESAI
Ruang hampa yang tak pernah kosong,
ia dipenuhi gema langkah-langkah sunyi
yang berjalan tanpa tubuh,
tanpa wajah,
namun menetap di dada paling dalam
Di antara kosmik yang pecah oleh cahaya,
ada raksasa rasa
mengambang seperti rahu purba,
mengunyah waktu perlahan-lahan
hingga usia tinggal serpihan kenangan
Dan, kepingan yang kini menjadi beling-beling itu kukutip sepanjang masa,
satu demi satu
seperti memungut serbuk nan bebijian yang runtuh di telapak tangan sang pengembara
Ada yang masih berpendar seperti doa,
ada yang telah menjadi jelaga,
hitam dan dingin
di sudut ingatan yang tak lagi bernama
Dan, berjalan terus
melewati galaksi kehilangan,
sementara semesta diam
menyaksikan seorang manusia
sibuk merakit dirinya kembali
dari pecahan cahaya, dari luka yang tak selesai...//(a.ah).
MENGGUMPAL
Jika tiba-tiba telingamu terasa berisik,
maka pahami itu sebuah lantunan malam,
suara-suara sunyi
yang berjalan pelan di lorong ingatan,
membawa gema dari masa lalu
yang belum selesai berpamitan
Jika tiba-tiba matamu terpejam
dengan penuh gangguan bayang,
maka pahami itu sebagai sebuah ziarah kenangan,
saat jiwa diam-diam kembali
menelusuri luka dan rindu
yang pernah dikuburkan waktu
Sebab tidak semua yang datang
adalah mimpi
Ada yang menjelma desir,
ada yang berubah menjadi bayang,
lalu menetap sebentar
di ruang paling sepi, di ingatan pikiran nan menggumpal di hati...//(a.ah).
RINDU DIKUBURKAN HIDUP-HIDUP
Bisik itu adalah kenangan
yang datang tanpa mengenal musim.
Ia tak menunggu hujan,
tak pula meminta senja
untuk sekadar singgah.
Ia hadir tanpa pesan,
tanpa mengetuk pintu ingatan,
lalu duduk diam
di sudut paling lirih dari dada
seperti seseorang
yang telah lama mengenal luka.
Dan selalu tiba merajah jiwa—
perlahan,
namun dalam—
meninggalkan gurat-gurat sunyi
yang tak terlihat mata,
tetapi nyerinya menetap
hingga malam kehilangan suara.
Kadang ia hanya berupa aroma masa lalu,
kadang menjelma bayang
yang melintas di sela cahaya.
Namun sekali ia datang,
waktu seakan berhenti bergerak,
dan hati kembali menjadi
ruang tua
tempat rindu dikuburkan hidup-hidup...//(a.ah).
CINTA BELUM MATI
Tatkala sunyi itu datang
tiba-tiba menghampirimu,
itulah aku
menjelma desir angin
yang pelan menyentuh jendela malammu
Aku mungkin tak lagi memiliki suara,
namun diamku masih tinggal
di sela napas dan ingatanmu
Dan, jika engkau membaca puisi luka,
itu juga aku
yang menuliskan rindu
dengan tinta paling gelap
dari dasar kehilangan
Setiap larik adalah jejak
dari hati yang pernah terbakar
oleh cinta dan perpisahan, setiap jeda
adalah tangis yang disembunyikan
agar dunia tak mengetahui
betapa rapuhnya seseorang
saat sedang merindukan
Maka jangan bertanya
mengapa malam terasa lebih panjang,
sebab di sana
cinta belum benar-benar mati...



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda