Breaking News
Memuat breaking news...

PUISI AGUSNI AH; ROMANTISME, REFLEKSI EKSISTENSIAL DAN RELIGIUS

Redaksi
Redaksi
Minggu, 7 Juni 2026 - 9.46 AM WIB
PUISI AGUSNI AH; ROMANTISME, REFLEKSI EKSISTENSIAL DAN RELIGIUS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PENGANTAR REDAKSI

Agusni AH kembali mengaduk-aduk rasa melalui frasa-frasa puitik yang lahir dari perenungan mendalam. Dalam rangkaian puisi Di Ujung Sunyi, Lubang Hitam, Surat Untukku, dan Surat Untuk-Mu, Agusni AH mengajak pembaca menyusuri lorong batin yang dipenuhi kesunyian, kerinduan, pencarian, hingga percakapan spiritual yang intim dengan Pencipta.

Puisi-puisi ini bergerak dari ruang yang personal menuju cakrawala yang lebih luas. Kesunyian tidak hanya hadir sebagai ketiadaan, melainkan sebagai tempat bertemunya manusia dengan dirinya sendiri. Cinta tidak sekadar menjadi gejolak rasa, tetapi juga medan pengorbanan. Sementara surat-surat yang ditulis penyair menjadi jembatan antara hati yang rapuh dengan harapan yang tak pernah padam.

Melalui metafora yang kuat dan diksi yang mengalir, Agusni AH menghadirkan dunia yang sarat kontemplasi. Lubang Hitam menggambarkan daya tarik cinta yang demikian dahsyat hingga menelan seluruh kesadaran, sementara Di Ujung Sunyi menempatkan manusia pada persimpangan antara kehilangan dan penemuan makna. Dalam Surat Untukku, penyair berdialog dengan dirinya sendiri, mengurai luka, kenangan, dan perjalanan hidup. Adapun Surat Untuk-Mu menjadi ungkapan kerinduan seorang hamba kepada Sang Maha Agung, sebuah doa yang dituliskan dengan bahasa sastra.

Keempat puisi ini memperlihatkan kecenderungan khas Agusni AH: memadukan romantisme, refleksi eksistensial, dan nuansa religius dalam satu tarikan napas. Pembaca tidak hanya diajak menikmati keindahan kata-kata, tetapi juga merenungi jejak-jejak kehidupan yang tersimpan di baliknya.

Pada akhirnya, puisi-puisi ini adalah undangan untuk memasuki ruang sunyi dalam diri, tempat manusia belajar memahami cinta, menerima kehilangan, dan menemukan cahaya yang tetap menyala di tengah gelap perjalanan. Sebab, seperti yang tersirat dalam karya-karya Agusni AH, sering kali jawaban atas segala kegelisahan justru menunggu di ujung sunyi. Pembaca dapat menyimak di bawah ini:

DI UJUNG SUNYI

Aku menyebut namamu perlahan

Seperti embun yang jatuh di daun-daun pagi

Tak ingin mengejutkan sunyi

Yang diam-diam menyimpan wajahmu dalam hati

Selama berabad lalu kutitipkan rindu

Pada bulan yang menggantung di jendela waktu

Namun cahaya yang datang dan pergi itu

Tak pernah mampu menggantikan hadirmu

Ada jarak yang membentang di antara kita

Seperti pantai yang memisahkan dua samudra

Tetapi cintaku adalah perahu sederhana tanpa kati

Yang tak lelah berlayar meski diterpa badai sunyi

Takkah kau mendengar namaku bergetar di antara kosmik

Di setiap doa yang kulepas ke langit

Tuhan pun tahu dari sekian banyak harapku

Kaulah yang paling sering terkemuka

Jika suatu hari pelayaranmu kembali merapat

Izinkanku menjadi dermaga bertambat, rumah bagi lelahmu

Tempat segala resah bercurah, segala gundah berlabuh

Seperti halnya sungai menemukan muaranya

Sebab mencintai bukan fatamorgana

Melainkan menjaga nan merawat segenap rasa

Meski musim berganti dan waktu berlari

Aku tetap menjadi seorang perindu yang menunggu di ujung sunyi...//(a.ah).

LUBANG HITAM

Engkau seperti lubang hitam

yang menyerap seluruh cahaya

yang berpendar di segenap jiwa raga

Engkau membuatku tenggelam tanpa dasar,

namun tetap rela beredar

di orbit cinta yang kau semburkan

Aku lebur nan kuyup pada pusaran kasihmu,

aku biarkan diriku tenggelam di dasar terdalam,

tanpa hasrat kembali ke tepian

Di kedalaman yang kau ciptakan,

tak kutemukan gelap yang menakutkan,

hanya hangat yang merengkuh diam-diam

Seperti semesta yang memeluk rembulan

di tengah sunyi yang tak berkesudahan

Aku hanyut menjadi debu cahaya,

terserak di antara denyut sepanjang masa

Engkau himpun kembali

menjadi rasi-rasi kerinduan

yang bertaburan di langit benak nan hati

Jika cinta adalah kehancuran,

aku rela menjadi sesuatu yang luruh,

jika kasih adalah pusaran,

aku rela menjadi arah yang berkelindan

Lantaran di pusat gravitasimu

aku menemukan ruang-ruang bagi seluruh resahku

Wahai penguasa rasa di dadaku

Telanlah aku seutuhnya,

agar tak lagi berserak

nan membiakkan renjana...//(a.ah).

SURAT UNTUKKU

Kutulis surat ini di pucuk malam, di sepertiga sunyi,

dengan tanganku yang menangkup langit

Dari hati yang berbisik dengan mata terpejam,

menguntai kata-kata rindu yang mengalir dari hulu ke hilir yang memuai

Kukirim surat ini kepada diriku sendiri,

yang kerap tersesat di belantara ambisi,

yang acap kali lupa bahwa setiap langkah

sesungguhnya sedang mendekat pada titik kembali

Kutulis dengan tinta airmata yang tak tampak mata

Pada lembar-lembar jiwa yang mulai rapuh dimakan usia

Kucatat satu demi satu luka seraya menghimpun segala syukur,

agar tak ada yang hilang dari pelajaran kehidupan

Wahai diriku,

jika kelak kau membaca surat ini di musim yang berbeda,

ingatlah bahwa kita pernah bersujud pada malam yang sama

Meminta kekuatan kepada Pemilik segala cahaya

Jangan terlampau sedih pada yang pergi, kemudian menjadi tiada

Karena tidak semua kehilangan adalah nestapa

Ada yang dicabut dari genggamanmu

agar kedua tanganmu cukup lapang menerima anugerah-Nya

Jika langkahmu terasa berat,

bacalah kembali bisikan yang kutitipkan pada angin malam ini:

bahwa harapan tidak pernah mati

selama doa masih menemukan jalannya

Dan kusudahi surat ini menjelang fajar,

ketika gelap perlahan menyerahkan dirinya pada cahaya

Ku lipat rapi dengan keyakinan nan kutitipkan kepada waktu

Agar suatu hari nanti, saat aku lupa diri karena bukan siapa-siapa

Kiranya surat ini membimbing arah jalanku pulang kepada Dia...//(a.ah).

SURAT UNTUK-MU

Izinkan surat cinta ini beralamatkan-Mu, dari goresan kalam kalbuku

Duhai Yang Maha Agung,

Engkau yang Maha Kupuja

Seperti malam-malam biasa,

senandung lirih mengapung di bilik dada

Di antara sunyi yang menetes dari langit-Mu

Membaluri jiwaku larut bersama tinta kelamku

Jika surat ini sampai di Arsy-Mu, berkenanlah...

Dari seribusatu hasrat nan jauh dari sebuah kemuliaan,

melainkan sejuta dosa atas sejuta dusta yang belum selesai kubenahi

Surat cinta lusuh ini kutulis bukan sebagai hamba yang paling taat,

melainkan sebagai jiwa yang berkali-kali tersesat namun selalu ingin kembali pada hakikat

Betapa sering aku menjauh,

namun aku yakin Engkau tak pernah menutup pintu

Betapa sering aku lalai,

namun rahmat-Mu tetap mengalir tanpa jemu

Duhai Yang Maha Pengasih,

aku mencintai-Mu dengan segala keterbatasanku

Cinta yang terkadang naik dan turun nan bergelombang seperti ombak,

namun tak pernah benar-benar padam dari relung terdalam jiwaku

Saat dunia menawarkan gemerlap yang memabukkan,

jangan biarkan hatiku terpaut selain kepada-Mu

Saat langkahku goyah diterpa angin kehidupan,

teguhkan aku agar tetap berpijak pada jalan yang Engkau ridhai

Duhai yang Maha Kuasa nan kaya

Aku tak memiliki apa-apa, aku adalah secuil debu

Namun ada rasa menggelegak yang selalu tumbuh di hati rapuhku

Aku tak memiliki sesembahan yang sempurna,

selain sujud yang basah dalam doa-doa purna

Maka terimalah ini sebagai sebuah surat cinta,

yang kutulis di sepertiga malam dengan tangan menangkup angkasa

Jika kata-katanya terlalu sederhana,

biarlah ketulusan menjadi makna yang menyempurnakannya

Sebab pada akhirnya,

tak ada rasa yang lebih menenangkan selain cinta kepada-Mu,

dan tak ada tujuan yang lebih indah

selain kembali ke hadirat-Mu dengan hati yang dipenuhi rindu...//(a.ah).

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement