Puluhan Santri Korban Keracunan Dirujuk Ke RS Haji Medan


DELISERDANG (Waspada.id): Peringatan Hari Santri Nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara (Sumut) di alun-alun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang, Kamis (22/10/2026), menyisakan persoalan serius. Puluhan santri dari sejumlah pondok pesantren diduga mengalami keracunan dan dilarikan ke Rumah Sakit Haji Medan, setelah menyantap nasi bungkus yang disediakan panitia melalui Pemkab Deliserdang.
Dugaan keracunan massal yang dialami puluhan santri tersebut mulai terungkap setelah para santri mengalami sakit perut, mual, dan muntah, enam hingga sepuluh jam usai para santri menyantap nasi bungkus yang disediakan pihak panitia.
Pada tengah malam, kondisi para santri terus memburuk hingga harus dilarikan ke klinik terdekat dan kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan untuk mendapatkan penanganan medis.

Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang Muhammad Dahnil Ginting,SE dari Fraksi Partai Gerindra yang sangat peduli dengan warganya, saat mendapat informasi adanya puluhan santri menderita keracunan langsung memerintahkan stafnya agar puluhan santri yang sedang dirawat di klinik, untuk dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan agar mendapatkan perawatan yang maksimal, Sabtu ( 24/10/2026) siang, puluhan santri yang menderita keracunan seluruhnya telah berada di Rumah Sakit Haji Medan dan telah mendapatkan perawatan medis dari pihak rumah sakit.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Mazilah Darussalam, Desa Sampali, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Muhammad Fahrul Yusuf, Sabtu (24/10/2026) menyebutkan sebanyak 38 santri dan santriwati dari pesantren Mazilah Darussalam, saat ini harus dilarikan ke Rumah Sakit Haji Medan karena mengalami sakit perut, pusing, mual dan muntah-muntah.
Ustadz Darul menceritakan, awalnya untuk komsumsi makan siang dalam peringatan Hari Santri itu disiapkan Pemkab Deliserdang melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Terdapat empat jenis menu yang dibagikan kepada para peserta kegiatan Hari Santri.
Menu tersebut terdiri atas nasi kotak dengan lauk daging, nasi bungkus berlauk ayam, serta dua jenis nasi bungkus dengan lauk ikan nila.
Namun, kata ustadz Darul rombongan santri mereka, mendapat jatah nasi bungkus dengan lauk ikan nila yang diduga kondisinya sudah tidak layak dikonsumsi.
“Jenis makan siangnya ada empat. Yang pertama nasi kotak dengan lauk daging. Kedua nasi bungkus dengan lauk ikan ayam, ketiga nasi bungkus ikan nila yang bagus dan keempat nasi bungkus ikan nila sudah mulai berlendir dan bau. Jadi kita dapat jatah yang ke empat, jumlah santri kita ada 55 orang,” ungkapnya.

Pada saat makan siang nasi bungkus tersebut dibagikan kepada seluruh santri dan oleh para santri di santap. Para santri mulai merasakan gejala gangguan kesehatan pada malam hari setelah beberapa jam menyantap hidangan yang dibagikan dalam kegiatan tersebut, mereka merasa pusing, mual hingga muntah muntah, menghindari hal tidak diinginkan puluhan santri yang diduga mengalami keracunan, langsung dilarikan ke klinik terdekat guna mendapatkan pertolongan.
Meski demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis dan pengujian terhadap sampel makanan.
Atas peristiwa yang dialami para santri, ustadz Darul meminta agar pihak Pemkab Deliserdang untuk tidak lepas tangan atas kejadian tersebut.
Menurutnya, para santri menjadi korban setelah mengonsumsi makanan yang disediakan dalam kegiatan resmi pemerintah dan Pemerintah Deliserdang harus bertanggung jawab.
Sementara itu salah seorang santri Haifal Habibi, korban keracunan, mengatakan sebelumnya Ia menyantap makan siang, nasi bungkus yang dibagikan oleh pihak panitia dengan lauk ikan nila, namun pada sore harinya Ia merasa pusing, perutnya sakit, mual dan muntah hingga kondisi tubuhnya lemas disusul dengan puluhan santri lainnya yang juga mengalami hal yang serupa, hingga akhirnya mereka dibawa ke klinik Supi Sehat untuk mendapatkan pertolongan awal.
Humas klinik Supi Sehat Ir.Hj .Sri Astuti, ada 27 santri mengalami keracunan yang dibawa ke klinik pada jam 05:00 WIB, pihak klinik telah memberikan pelayanan dengan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan pihak klinik. Ia juga sangat berterima kasih adanya kebijakan dari Anggota DPRD Muhammad Dahnil Ginting untuk merujuk semua para santri yang mengalami keracunan untuk dibawa ke Rumah Sakit Haji Medan untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih maksimal.
Direktur Rumah Dakit Haji Medan dr Yulinda Evi Nasution, sampai siang ini ada lebih kurang 30 puluh santri yang telah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Haji Medan, seluruh santri sedang diobservasi, para pasien yang nantinya sudah bisa mendapatkan rawat jalan ya kita rawat jalan, dan nanti apa bila ada keluhan dipersilahkan kembali ke Rumah Sakit Haji Medan. Sementara ada beberapa santri yang harus mendapatkan rawat inap.
Sementara itu Muhammad Dahnil Ginting SE Anggota DPRD Kabupaten Deliserdang turun langsung ke lokasi dan mendampingi para santri ke Rumah Sakit Haji Medan mengatakan, Ia atas nama Partai Gerindra Kabupaten Deliserdang meminta maaf kepada para korban yang menderita keracunan dan berharap ke depannya pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Deliserdang agar lebih waspada memberikan makan di acara acara yang mengundang orang banyak, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Sebelum membawa puluhan santri yang mengalami keracunan ke Rumah Sakit Haji Medan, Ia terlebih dahulu menghubungi Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Utara Ade Jona Prasetyo, serta Sugiat Santoso dan Ayen dan mereka memerintahkan agar para santri dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan untuk mendapatkan perawatan yang lebih maksimal," ucapnya.
Muhammad Dahnil Ginting juga sedikit merasa kecewa kepada pihak Pemerintah Kabupaten Deliserdang, mengapa para santri yang menderita keracunan tidak segera langsung dibawa ke Rrumah Sakit Amri Tambunan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Deliserdang untuk mendapatkan perawatan medis.(id29)
Berita Terkait
































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda