Breaking News
Memuat breaking news...

Purbaya Prediksi Ekonomi Indonesia Melambat di Kuartal II, Optimistis Pulih pada Semester II 2026

Redaksi
Redaksi
Selasa, 4 Agustus 2026 - 6.19 AM WIB
Purbaya Prediksi Ekonomi Indonesia Melambat di Kuartal II, Optimistis Pulih pada Semester II 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih berada di atas 5 persen, meski melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan tersebut dipengaruhi tingginya ketidakpastian ekonomi global, namun pemerintah optimistis laju ekonomi akan kembali menguat pada semester II tahun ini.

Dalam konferensi pers hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026), Purbaya mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II diperkirakan berada di kisaran 5,4 persen, lebih rendah dibanding capaian 5,61 persen pada kuartal I 2026.

"Kalau kita lihat prediksi semua empat lembaga, kelihatannya di bawah 5,6 persen untuk triwulan kedua, tapi enggak jauh dari 5,4 persen juga. Jadi melambat tapi enggak parah-parah amat," kata Purbaya.

Menurutnya, perlambatan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya tekanan ekonomi global yang terjadi pada kuartal II tahun ini.

"Karena pada triwulan kedua kita puncak-puncaknya ketidakpastian kan. Harga minyak tinggi, masih gak jelas, kita juga masih mengatur gimana supaya anggaran kita aman, banyak capital keluar dan lain-lain," jelas dia.

Meski demikian, Bendahara Negara itu meyakini kondisi ekonomi akan membaik pada paruh kedua 2026. Pemerintah bersama Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi untuk memastikan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi dapat berjalan optimal.

"Saya yakin untuk semester II ini harusnya pertumbuhannya akan lebih baik karena kami akan berkoordinasi ketat dengan bank sentral untuk memastikan semua mesin pertumbuhan bisa jalan," beber dia.

Untuk mendukung percepatan ekonomi, pemerintah telah menyiapkan berbagai stimulus, termasuk insentif kendaraan listrik, memperkuat likuiditas sektor perbankan, serta menjaga iklim investasi agar semakin kondusif.

"Langkah-langkah lain untuk mendorong ekonomi akan kita pastikan masuk ke perekonomian termasuk memastikan likuditas di sistem finansial cukup nanti koordinasi dengan bank sentral, juga memastikan iklim investasi menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Selain itu, pemerintah juga akan mempercepat realisasi belanja negara pada semester II guna mendorong aktivitas ekonomi.

"Kami juga memastikan belanja pemerintah di semester II lebih lancar, utamanya dibandingkan dengan triwulan kedua tahun ini. Kita prediksi sih di semester II ekonominya bisa tumbuh pulih ke arah 5,6% sampai 6%, dengan kerja keras tentunya," imbuh Purbaya.

Sebelumnya, KSSK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada pada kisaran 5,6 hingga 6 persen secara tahunan. Target tersebut diyakini dapat dicapai melalui penguatan sinergi kebijakan antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Kedepan, sinergi kebijakan antara lembaga anggota KSSK akan terus diperkuat guna menjaga keperlanjutan momentum pertumbuhan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6-6 persen year on year," ungkap Purbaya.

Di tengah perlambatan ekonomi global, pemerintah tetap optimistis fundamental ekonomi nasional mampu bertahan. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam pembaruan World Economic Outlook edisi Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen pada 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi April sebesar 3,1 persen.

Meski menghadapi tantangan eksternal, pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat.

"Ekonomi Indonesia pada triwulan kedua tahun 2026 diperkirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global," ucap dia. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement