Putin Janji Pasok 35,76 Juta Barel Solar, Harga BBM Tetap Sulit Turun


JAKARTA (Waspada.id): Janji Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memasok jutaan barel solar ke pasar global belum tentu mampu meredam lonjakan harga bahan bakar tersebut. Meski total pasokan yang dijanjikan mencapai 35,76 juta barel, volume itu dinilai masih terlalu kecil untuk mengimbangi besarnya kebutuhan solar dunia dan gangguan pasokan energi.
Kesepakatan yang melibatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Putin tersebut diperkirakan hanya memberikan dampak terbatas terhadap harga solar. Pasalnya, pasokan awal Rusia setara dengan sekitar 10 hari kebutuhan solar domestik AS berdasarkan perkiraan yang disampaikan dalam laporan tersebut.
Mantan Kepala Divisi Industri dan Pasar Minyak Badan Energi Internasional (IEA), Neil Atkinson, menilai jumlah pasokan awal yang dijanjikan Rusia belum cukup signifikan untuk memengaruhi keseimbangan pasar.
"Jumlahnya bahkan tidak menyentuh permukaan, sangat, sangat kecil," ujar Atkinson, dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026).
Trump menyatakan Rusia akan segera memasok 300.000 ton metrik diesel ke pasar global. Berdasarkan perhitungan S&P Global Platts, jumlah tersebut setara dengan sekitar 2,24 juta barel atau rata-rata 74.500 barel per hari apabila dibagi selama satu bulan.
Pasokan awal itu hanya sekitar 2% dari permintaan diesel AS yang mencapai 3,65 juta barel per hari pada pekan yang berakhir 2 Oktober.
Sementara itu, konsumsi diesel dunia melampaui 28 juta barel per hari. Dengan besarnya kebutuhan tersebut, pasokan awal Rusia hanya mewakili kurang dari 1% permintaan global.
Trump juga menyebut Rusia akan mengirim tambahan 500.000 ton diesel pada November. Setelah itu, pasokan diproyeksikan bertambah satu juta ton dan tiga juta ton pada periode berikutnya, bergantung pada kondisi kilang minyak Rusia.
Jika seluruh rencana pengiriman terealisasi, total pasokan akan mencapai 4,8 juta ton metrik atau setara 35,76 juta barel.
Harga Solar Diperkirakan Hanya Turun Tipis
Besarnya volume pasokan yang dijanjikan belum menjamin harga solar akan turun secara signifikan. Goldman Sachs memperkirakan tambahan pasokan Rusia yang dijadwalkan pada Oktober dan November hanya akan menekan harga grosir sekitar US$1–2 per barel di Pantai Teluk AS dan Eropa.
Dengan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS, penurunan tersebut setara sekitar Rp17.890–35.780 per barel.
Dampaknya diperkirakan terbatas karena pasar diesel global masih menghadapi tekanan pasokan. Selain itu, Amerika Serikat merupakan eksportir bersih diesel sehingga tidak bergantung pada pasokan Rusia untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
Analis Kpler menilai tambahan pasokan Rusia justru berpotensi mengurangi persaingan bagi produk diesel AS di pasar internasional, termasuk di Brasil dan Turki.
Artinya, pasokan dari Rusia tidak serta-merta membuat harga diesel di AS lebih murah. Perubahan arus perdagangan global juga dapat memengaruhi persaingan antarpemasok di berbagai negara.
Harga solar berjangka pun tidak banyak berubah setelah kesepakatan diumumkan. Sementara itu, data AAA menunjukkan harga rata-rata solar di AS mencapai US$6,28 per galon pada Selasa, atau setara sekitar Rp112.349 per galon dengan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS.
Harga tersebut tercatat naik 72% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Serangan Kilang Rusia dan Gangguan Selat Hormuz Tekan Pasokan
Kenaikan harga solar terjadi di tengah meningkatnya gangguan terhadap rantai pasokan energi global. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta gangguan ekspor energi melalui Selat Hormuz memperketat ketersediaan bahan bakar di pasar internasional.
Gangguan pada fasilitas pengolahan minyak Rusia membatasi kemampuan negara tersebut untuk meningkatkan produksi diesel. Padahal, tambahan produksi dibutuhkan agar pasokan baru dapat membantu menyeimbangkan permintaan global.
Goldman Sachs memperkirakan gangguan operasi kilang Rusia mencapai tiga juta barel per hari, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini membatasi peluang peningkatan produksi diesel untuk menambah pasokan pasar.
Di sisi lain, pemerintah AS sempat mempertimbangkan larangan ekspor diesel guna menekan harga di dalam negeri. Namun, gagasan tersebut akhirnya dibatalkan karena berpotensi mendorong kenaikan harga bensin.
Pemerintah AS juga mengizinkan pengemudi truk menggunakan diesel merah bebas pajak yang biasanya diperuntukkan bagi penggunaan di luar jalan raya. Kebijakan tersebut memberikan kelonggaran sementara, tetapi kewajiban pajaknya hanya ditunda dan tidak dihapuskan.
Dengan berbagai kendala tersebut, tambahan pasokan diesel dari Rusia diperkirakan belum cukup untuk mengatasi tekanan harga secara menyeluruh. Selama gangguan produksi kilang dan distribusi energi global masih berlangsung, harga solar berpotensi tetap tinggi meskipun kesepakatan pasokan baru telah diumumkan. (Lip6)
Berita Terkait

























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda