Rajali Usman Menanti Huntap yang Tak Kunjung Rampung DikerjakanRajali Usman Menanti Huntap yang Tak Kunjung Rampung Dikerjakan

Keriput di wajah Rajali Usman seolah menyimpan cerita panjang tentang kehilangan dan penantian.
Di usianya 64 tahun, lelaki berkulit agak gelap dengan rambut yang memutih itu masih setia memandang bangunan Hunian Tetap (Huntap) yang berdiri tepat di belakang kios usaha jahit pakaian miliknya, di tepi jalan besar Medan - Banda Aceh, Kampung Lhok Medang Ara, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang.
Namun bangunan itu belum benar-benar menjadi rumah. Yang tampak baru sebatas dinding batako yang berdiri tanpa atap, tanpa pintu, dan tanpa jendela.
Pembangunan Huntap yang diperuntukkan bagi korban banjir bandang Aceh Tamiang tahun 2025 itu terhenti begitu saja, menyisakan bangunan yang belum mampu melindungi penghuninya dari panas maupun hujan.
"Sudah sekitar tiga bulan lalu mulai dikerjakan. Tapi sampai sekarang berhenti. Kata tukangnya, semen tidak ada, jadi pekerjaan tidak bisa dilanjutkan," tutur Rajali Usman dengan nada lirih, saat ditemui Waspada.id, Selasa (28/7/2026), di kios usaha jahit miliknya.
Bagi sebagian orang, bangunan yang belum selesai mungkin hanya persoalan proyek yang tertunda. Namun bagi Rajali, bangunan yang mangkrak itu sebuah harapan yang belum juga menjadi kenyataan.
Setiap malam, ia masih harus beristirahat di kios usaha jahit pakaian yang berada tepat di depan Huntap tersebut.
Tempat sederhana itu menjadi ruang tidur sekaligus saksi bagaimana seorang kepala keluarga bertahan setelah bencana merenggut kenyamanan hidupnya.
Sementara itu, keluarganya pun belum bisa berkumpul di bawah satu atap. Dari empat orang anaknya, dua di antaranya terpaksa menumpang tidur di rumah tetangga karena keterbatasan tempat.
"Di belakang Huntap itu memang ada Hunian Sementara (Huntara) bantuan pemerintah. Tapi ukurannya hanya cukup untuk istri saya dan dua anak yang lain beristirahat pada malam hari," ungkapnya.
Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada 2025 bukan hanya menghanyutkan harta benda, tetapi juga memaksa banyak keluarga memulai hidup dari nol.
Program pembangunan Huntap menjadi secercah harapan agar para korban bajir dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak. Sayangnya, harapan itu kini kembali diuji.
Rajali juga menyampaikan, bahwa bukan hanya Huntap miliknya yang belum selesai. Hampir seluruh pembangunan Huntap milik warga korban banjir di Kampung Lhok Medang Ara hingga kini masih belum dirampungkan oleh pihak pelaksana.
Deretan bangunan yang belum selesai itu menjadi pemandangan yang kontras. Dinding-dinding berdiri, tetapi belum mampu menjadi rumah. Di baliknya, ada keluarga-keluarga yang masih berpindah tempat untuk sekadar melewati malam.
Rajali tidak meminta lebih. Ia hanya ingin janji pembangunan itu segera dituntaskan sehingga keluarganya, bersama warga korban banjir lainnya, dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mengambil langkah tegas terhadap pihak pelaksana agar pembangunan Huntap yang mangkrak segera diselesaikan.
"Besar harapan kami pemerintah bisa bertindak tegas supaya Huntap ini cepat selesai. Kami hanya ingin segera punya rumah yang layak untuk ditempati," harap Rajali.
Di Kampung Lhok Medang Ara, bangunan-bangunan yang belum selesai itu bukan sekadar proyek fisik yang tertunda.
Di balik setiap dinding batako yang belum beratap, tersimpan harapan para korban banjir yang hingga kini masih menunggu kepastian untuk kembali pulang ke rumah mereka sendiri.
Kesan mangkraknya pembangunan Huntap itu Waspada.id pertanyakan kepada Tim Teknis dari BPBD Aceh Tamiang, Mursal. Melalui pesan WhatsApp Mursal dikonfirmasi, Selasa (28/7/2026) mengatakan dirinya akan mengecek terlebih dahulu inventor (perancang) Huntap tersebut.
"Tak cek dulu bang ya, inventor apa yang bangun itu," balasnya singkat pesan WhatsApp.
Tak lama kemudian, Mursal melayangkan pesan WhatsApp kembali dengan mengatakan Informasi yang ia peroleh, bahwa inventornya mengalami kendala untuk merampungkan Huntap tersebut, karena bahan material kerja, berupa semen belum masuk.
"Informasi dari inventornya kendala bahan kerja, semen belum masuk," tutup Mursal dalam pesan WhatsApp.
Sementara itu, Rizal, pihak yang mengaku sebagai inventor (perancang) Rumah Aman Gempa (RAG) Huntap tersebut kepada Waspada.id melalui telepon WhatsApp mengatakan hal sama.
"Pengerjaan Huntap tersebut terhenti karena tidak ada bahan material semen. Sehingga para tukang sudah tidak mau mengerjakan pembangunan Huntap tersebut bang," jelasnya mengakhiri.
Sutrisno































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda