Rancang Pembangunan Hijau, Bapperida Sumut Bekali Perencana Lewat Pelatihan System Dynamics


MEDAN (Waspada.id): Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sumatera Utara memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam merancang pembangunan yang ramah lingkungan dan tahan perubahan iklim. Langkah ini diwujudkan melalui Pelatihan System Dynamics dan Modeling yang digelar di Cambridge Hotel, Medan, pada 26–29 Oktober 2026.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bapperida Sumut, Sry Puspa Sari. Dalam sambutannya, Sry menegaskan bahwa pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) tidak bisa dilakukan secara parsial. Butuh kebijakan yang terintegrasi, berbasis data, serta mampu memperhitungkan dampak jangka panjang antarsektor.
Sebagai gambaran, Indonesia menargetkan penurunan emisi GRK pada 2030 sebesar 31,89 persen secara mandiri, dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional. Menjawab tantangan tersebut, Sumatera Utara telah menetapkan target penurunan emisi GRK kumulatif sebesar 12,92 persen pada 2029 dan 14,24 persen pada 2030.
“Pencapaian target ini memerlukan kebijakan yang terintegrasi dengan mempertimbangkan keterkaitan lintas sektor dan dampak jangka panjang,” tegas Sry Puspa Sari.
Sry menjelaskan, pendekatan systems thinking (berpikir sistem) menjadi kunci utama untuk memahami pembangunan sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. Melalui metode system dynamics, perangkat Causal Loop Diagram (CLD), dan Stock and Flow Diagram (SFD), para perencana pembangunan dapat memetakan hubungan sebab-akibat, memproyeksikan emisi, hingga menguji simulasi skenario kebijakan—mulai dari skenario business as usual (BAU), moderat, hingga ambisius.
“Harapan kita, pelatihan ini melahirkan model yang aplikatif serta rekomendasi kebijakan yang terukur untuk menyempurnakan RPJMD, Renstra OPD, RKPD, dan RPRKBI-D Sumatera Utara. Mari perkuat kolaborasi demi pembangunan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Dorong Perencanaan Berbasis Bukti
Apresiasi tinggi disampaikan oleh Senior Provincial Coordinator Oxford Policy Management (OPML) Sumatera Utara, Dr. Agus Marwan, M.SP. Ia memuji komitmen Bapperida Sumut dalam mengimplementasikan program Low Carbon Development Initiative (LCDI).
Menurut Agus, penguatan sumber daya manusia dan pemanfaatan pemodelan dinamis adalah fondasi penting agar perencanaan daerah lebih terukur dan berbasis bukti (evidence-based).
Pelatihan ini, kata Agus, memiliki tiga sasaran utama:
Meningkatkan pemahaman peran system dynamics dalam dokumen Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI).
Membangun kemampuan peserta menyusun CLD serta membaca diagram Stock and Flow pada model PRKBI Sumut.
Melatih peserta melakukan simulasi dan menafsirkan berbagai skenario kebijakan pembangunan hijau.
“Melalui pelatihan ini, peserta tak sekadar memahami teori pemodelan, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menganalisis persoalan nyata, menguji alternatif kebijakan, dan melahirkan rekomendasi yang tepat sasaran,” terang Agus.
Fokus pada Empat Sektor Kunci
Pelatihan intensif selama empat hari ini diikuti oleh 33 peserta. Mereka merupakan perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis Sumut, Bapperida dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) kabupaten/kota, serta LPPM Universitas Sumatera Utara (USU).
Selama kegiatan, para peserta mendalami materi teori dan praktik yang difokuskan pada empat sektor vital:
Persampahan
Tutupan Lahan
Transportasi
Energi
Keempat sektor ini menjadi perhatian utama karena memegang peranan kunci dalam mengidentifikasi sumber emisi, memetakan perubahan penggunaan sumber daya, dan merumuskan intervensi pembangunan rendah karbon.
Kegiatan ini difasilitasi oleh narasumber dari OPML Jakarta dengan dukungan teknis dari PT Hatfield Indonesia, serta didukung penuh melalui program LCDI2—sebuah kemitraan strategis antara Kementerian PPN/Bappenas dan UK Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO).
Sebagai salah satu provinsi penerima manfaat program LCDI2, Sumatera Utara diharapkan mampu memimpin sinergi lintas sektor demi mewujudkan perencanaan pembangunan yang adaptif, terukur, dan berkelanjutan. (id96)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda