Ratoh Duek Bergema di Menara Petronas, Penari Australia Promosikan Budaya Aceh ke Dunia

BANDA ACEH (Waspada.id): Tarian tradisional Aceh Ratoh Duek kembali mencuri perhatian publik internasional. Kali ini bukan di panggung pertunjukan, melainkan di pelataran salah satu ikon dunia, Petronas Twin Towers, Kuala Lumpur, Malaysia.
Usai tampil dalam rangkaian tur Asia Tenggara bersama Gondwana Choirs asal Australia, para penari muda Australia secara spontan membawakan Ratoh Duek di kawasan Menara Kembar Petronas. Penampilan singkat tersebut langsung menarik perhatian para wisatawan yang memadati lokasi.
Koreografer asal Aceh, Murtala, mengatakan pertunjukan tersebut sama sekali tidak direncanakan.
"Penampilan itu benar-benar spontan. Bahkan yang menjadi syeh bukan saya seperti biasanya, melainkan dua penari muda Australia. Mereka sudah mulai percaya diri membawakan Ratoh Duek," kata Murtala kepada Waspada.id Selasa (14/7/2026).
Menurut Murtala, aksi tersebut menjadi bagian dari perjalanan budaya Gondwana Choirs yang sedang menjalani tur di dua negara, Malaysia dan Singapura. Sebelumnya mereka telah tampil di Kuala Lumpur dan Kuching, serta dijadwalkan melanjutkan pertunjukan di Singapura.
Ia tidak menutup kemungkinan Ratoh Duek kembali ditampilkan secara spontan di lokasi-lokasi ikonik Singapura.
"Bisa saja dimainkan lagi di salah satu bangunan ikonik Singapura. Semua tergantung situasi di lapangan. Kalau memungkinkan, tentu kami ingin memperkenalkan budaya Aceh kepada lebih banyak orang," ujarnya.
Masuknya Ratoh Duek ke dalam repertoar Gondwana Choirs merupakan hasil proses panjang yang dilakukan Murtala bersama istrinya, Alfira O'Sullivan, pendiri Suara Indonesia Dance Australia. Melalui komunitas tersebut, mereka selama ini aktif memperkenalkan seni tari tradisional Indonesia, khususnya Aceh, kepada generasi muda Australia.
Keikutsertaan mereka dalam tur Asia Tenggara juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni serta KBRI Canberra. Dukungan tersebut memungkinkan Ratoh Duek tampil sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di panggung internasional.
Bagi Murtala, yang paling membanggakan bukan sekadar kemampuan anak-anak Australia menampilkan gerakan Ratoh Duek, tetapi bagaimana mereka memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
"Ratoh Duek mengajarkan kekompakan, disiplin, saling menghargai, dan bekerja sama. Nilai-nilai itu yang ingin kami wariskan. Jadi mereka tidak hanya belajar gerakan tari, tetapi juga belajar filosofi budaya Aceh," katanya.
Ia berharap semakin banyak ruang bagi seni budaya Aceh untuk tampil di forum internasional sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia, sehingga warisan budaya daerah semakin dikenal dan diapresiasi masyarakat dunia. (id64)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda