Breaking News
Memuat breaking news...

Reformasi Pasar Modal Angkat IHSG, Rupiah Terpuruk

Redaksi
Redaksi
Rabu, 28 Oktober 2026 - 5.21 PM WIB
Reformasi Pasar Modal Angkat IHSG, Rupiah Terpuruk
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Kabar percepatan reformasi pasar modal memberikan angin segar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia. IHSG berhasil ditutup menguat tipis pada perdagangan hari ini, Rabu (28/10), sementara nilai tukar rupiah justru bertahan di zona merah hingga menyentuh Rp18.175 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menilai, pergerakan pasar keuangan saat ini masih diwarnai tarik-menarik sentimen. Harapan terhadap pembenahan pasar modal mulai menopang pergerakan saham, tetapi tekanan di pasar surat utang dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih membebani rupiah.

"Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.185 per dolar AS. Mata uang Garuda kemudian memangkas sebagian pelemahannya sebelum ditutup di kisaran Rp18.175 per dolar AS," ujar Gunawan, Rabu sore.

Menurutnya, pelemahan tersebut terjadi seiring tekanan yang juga terlihat di pasar surat utang domestik. Pada saat bersamaan, dolar AS mendominasi pergerakan terhadap rupiah, meskipun penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index tidak terlalu signifikan.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berkaitan dengan pergerakan dolar AS secara global. Sikap investor terhadap aset keuangan domestik dan perkembangan sentimen di pasar obligasi turut menjadi faktor yang perlu dicermati.

Pelaku Pasar Menanti Keputusan The Fed

Selain tekanan di pasar surat utang, perhatian investor juga tertuju pada keputusan The Fed mengenai suku bunga acuan. Arah kebijakan moneter bank sentral AS menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Ketidakpastian mengenai kebijakan The Fed ke depan mendorong pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," ujarnya.

Jika kebijakan moneter AS dipersepsikan masih ketat, aset berbasis dolar berpotensi tetap menarik bagi investor. Situasi tersebut dapat membatasi ruang penguatan rupiah, terutama ketika pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan.

Karena itu, perkembangan suku bunga AS dan respons investor terhadap aset keuangan Indonesia akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam perdagangan berikutnya.

Reformasi Pasar Modal Jadi Penopang IHSG

Di tengah tekanan terhadap rupiah, IHSG justru mampu mengakhiri perdagangan di zona hijau. Indeks ditutup menguat 0,31 persen ke level 5.282,312 setelah sempat terpuruk hingga 5.167.

Pergerakan tersebut memperlihatkan volatilitas pasar saham yang masih tinggi. Tekanan jual sempat membawa IHSG turun cukup dalam, sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang penutupan perdagangan.

Salah satu sentimen yang mewarnai transaksi saham adalah percepatan reformasi pasar modal menjelang tenggat evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sejumlah agenda pembenahan yang menjadi perhatian investor meliputi rencana peningkatan batas minimum kepemilikan saham publik atau free float menjadi 15 persen, peningkatan transparansi pemilik manfaat (beneficial ownership), serta pembentukan satuan tugas penegakan hukum terpadu.

Langkah-langkah tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi upaya memperbaiki tata kelola dan transparansi pasar modal Indonesia.

Kejelasan kepemilikan saham publik, keterbukaan informasi, dan penegakan hukum merupakan aspek penting dalam membangun kepercayaan investor, khususnya investor institusi yang mempertimbangkan kualitas tata kelola sebelum menempatkan dana di suatu pasar.

Dalam konteks evaluasi MSCI, pembenahan tersebut juga menjadi perhatian karena persepsi mengenai transparansi dan investabilitas pasar dapat memengaruhi penilaian investor global terhadap saham-saham Indonesia.

"Meski demikian, penguatan IHSG pada perdagangan hari ini belum cukup untuk memastikan tekanan pasar telah berakhir. Volatilitas indeks yang masih tinggi menunjukkan bahwa pelaku pasar tetap mencermati perkembangan kebijakan reformasi serta respons investor terhadap berbagai agenda pembenahan tersebut," ujar Gunawan.

Harga Emas Dunia Cenderung Mendatar

Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif terbatas di kisaran US$4.053 per ons troy atau setara sekitar Rp2,8 juta per gram berdasarkan estimasi dalam naskah sumber.

Minimnya pergerakan harga emas mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu kejelasan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pergerakan emas ke depan akan dipengaruhi oleh kombinasi arah suku bunga AS, dinamika dolar, dan perubahan minat investor terhadap aset lindung nilai.

Apabila suku bunga AS dipertahankan tinggi lebih lama, emas berpotensi menghadapi tekanan karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga. Sebaliknya, perubahan ekspektasi kebijakan moneter dan meningkatnya kebutuhan terhadap aset lindung nilai dapat memengaruhi permintaan emas.

Dengan demikian, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi dua dinamika berbeda. Reformasi pasar modal memberikan harapan bagi pemulihan kepercayaan terhadap saham domestik, sedangkan tekanan rupiah menunjukkan bahwa risiko di pasar keuangan belum sepenuhnya mereda.

Pelaku pasar kini menanti perkembangan reformasi pasar modal dan keputusan The Fed untuk melihat apakah penguatan IHSG dapat berlanjut serta apakah rupiah memiliki ruang untuk keluar dari tekanan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement