Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Rehab Pascabanjir SDN Bintang Meriah Berjalan, Ibu Guru Noni: Siswa Kini Semangat Kembali ke Perpustakaan

Redaksi
Redaksi
Minggu, 1 November 2026 - 2.38 PM WIB
Rehab Pascabanjir SDN Bintang Meriah Berjalan, Ibu Guru Noni: Siswa Kini Semangat Kembali ke Perpustakaan
Suasana baru di SD Negeri 101865 Bintang Meriah, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (28/10/2026). (Dok: Tim Media Satgas PRR)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BATANG KUIS (Waspada.id): SD Negeri 101865 Bintang Meriah di Kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang, kini tampil dengan wajah baru. Ruang kelas yang dulu terendam banjir telah direhabilitasi, lantai ditinggikan sekitar 35 sentimeter, dan perpustakaan yang sempat lumpuh akibat air masuk, mulai kembali difungsikan.

Noni Maharani (40), guru di sekolah tersebut, menyambut gembira pemulihan ini. "Siswa sangat antusias kembali ke perpustakaan. Kami atur jadwal bergiliran, sekitar 30–40 menit setiap sesi. Ruangan yang dulu basah dan berbau lembap, kini nyaman kembali untuk membaca," ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Perpustakaan kini menyimpan buku pelajaran, cerita, Al-Qur’an, Juz Amma, Iqra, dan dilengkapi televisi untuk kegiatan belajar. Siswa terlihat senang memiliki sudut baru untuk menyalurkan minat baca mereka.

Banjir November 2025 Lumpuhkan Aktivitas Belajar

Kondisi ini sangat berbeda dengan situasi November lalu. Banjir besar melanda sekolah ini, air merendam ruang kelas setinggi lutut hingga separuh badan orang dewasa. Buku-buku di perpustakaan bagian bawah basah kuyup. Genangan air bertahan hingga tiga hari, dan pembersihan lumpur setebal di bawah mata kaki memakan waktu sekitar satu minggu.

"Kelas rendah di bagian belakang sempat diliburkan hampir seminggu. Proses pembersihan dilakukan secara bertahap oleh guru, penjaga sekolah, dibantu paguyuban orangtua siswa," kenang Noni.

Rehab Pascabanjir SDN Bintang Meriah Berjalan, Ibu Guru Noni: Siswa Kini Semangat Kembali ke Perpustakaan

Rehabilitasi APBN Rp872 Juta, Lantai Ditinggikan Anti-Banjir

Pemerintah melalui program revitalisasi sekolah pascabencana menyalurkan anggaran APBN sebesar Rp872.118.624. Pekerjaan berlangsung 15 Juni–15 Agustus 2026, mencakup rehabilitasi enam ruang kelas, satu ruang administrasi, satu perpustakaan, pengadaan mebel untuk tiga kelas, serta penataan lingkungan.

Peninggian lantai 35 sentimeter menjadi terobosan utama agar air tidak mudah masuk ke ruang belajar. Gedung A dan Gedung B sama-sama mendapat penanganan menyeluruh, mulai dari perbaikan atap, dinding, kusen, hingga pemasangan keramik baru. Pagar pembatas dan penimbunan tanah rendah juga dilakukan untuk memutus aliran air dari area persawahan.

Hasilnya terasa nyata. Sejak musim hujan kembali sekitar Agustus 2026, air tidak lagi masuk ke ruang kelas. "Biasanya kalau hujan semalaman, sekolah pasti tergenang. Sekarang, alhamdulillah air tidak sampai masuk ke dalam," kata Yudi Saputra Siregar, bendahara sekolah.

Orang Tua Rasakan Perubahan, Semangat Belajar Meningkat

Para wali murid pun merasakan dampak positifnya. Nina Gadjah dan Yunita Siregar yang ikut membantu membersihkan sekolah pascabanjir, kini melihat anak-anak mereka belajar di ruangan yang lebih segar, aman, dan nyaman.

"Anak saya bilang sekolah sekarang lebih nyaman. Ruangan rapi, tidak becek saat hujan. Itu membuat kami tenang menyekolahkan anak ke sini," ujar Nina. Yunita menambahkan: "Dulu teras rendah, air mudah masuk. Sekarang sudah ditinggikan. Semoga prestasi anak-anak juga ikut meningkat karena lingkungannya lebih kondusif."

Masih Menunggu Termin Kedua, Harap Ruang Belajar Tambahan

Meski progres mencapai sekitar 70%, sekolah masih menunggu pencairan termin kedua sebesar Rp261.635.887 (30% dari total anggaran). Dana tersebut direncanakan untuk pengecoran lapangan di bagian belakang sekolah agar tidak lagi becek saat hujan.

Sekolah yang menampung sekitar 300 siswa dengan 12 rombongan belajar namun hanya memiliki sembilan ruang kelas, masih menerapkan sistem belajar paralel — tiga kelas masih masuk siang. Harapan Noni dan warga sekolah sederhana:

"Semoga ada program lanjutan. Kami butuh ruang belajar tambahan agar semua siswa kelak bisa bersekolah di pagi hari dengan fasilitas yang lengkap," pungkas Noni Maharani.

Negara Hadir

Rehabilitasi SD Negeri 101865 Bintang Meriah menjadi bukti bahwa rehabilitasi terus berjalan untuk memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir. Melalui anggaran APBN sebesar Rp872,11 juta, pemerintah menunjukkan bahwa negara hadir untuk memastikan siswa kembali mendapatkan ruang belajar yang lebih layak, aman, dan nyaman. Berbagai pekerjaan, mulai dari peninggian lantai sekitar 35 sentimeter, perbaikan ruang kelas dan perpustakaan, hingga penataan lingkungan sekolah, menjadi bagian dari upaya negara bekerja keras mengurangi dampak banjir terhadap kegiatan belajar.

Pemulihan ini juga merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat melalui program revitalisasi sekolah, pemerintah daerah melalui penanganan sungai dan saluran air, serta guru, penjaga sekolah, dan paguyuban orangtua yang bergotong royong membersihkan sekolah pascabanjir. Meski sebagian pekerjaan masih menunggu pencairan termin kedua dan kebutuhan ruang kelas tambahan belum terpenuhi, upaya perbaikan terus dilakukan agar kegiatan belajar mengajar semakin baik dan seluruh siswa kelak dapat bersekolah pada pagi hari.

Background dan Renduk

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mengungkapkan, kegiatan belajar-mengajar telah kembali berjalan. Namun, ia menggarisbawahi masih ada 99 sekolah yang menggelar pembelajaran di kelas darurat karena membutuhkan relokasi.

Meski berbagai layanan mulai pulih, Tito mengingatkan bahwa hujan berintensitas tinggi masih memicu banjir dan longsor susulan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menambah pekerjaan pemerintah dalam memulihkan akses dan aktivitas masyarakat.

Karena itu, Tito meminta kementerian/lembaga yang telah memperoleh alokasi anggaran mempercepat pelaksanaan kegiatan sesuai target tahun ini. Ia menegaskan, kegiatan yang mencakup perbaikan sekolah, rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas ekonomi masyarakat perlu terus dikerjakan agar manfaatnya segera dirasakan oleh warga terdampak.

"Harapan kami dengan koordinasi ini akan mempercepat semua proses dan teman-teman K/L semua bergerak dan juga bisa mendorong semua pemerintah daerah dengan anggaran masing-masing dan tambahan anggaran itu juga bisa bergerak dengan lebih cepat," tandasnya.

Terkait itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menegaskan perlunya percepatan pada sejumlah titik yang belum selesai serta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh unsur Satgas. Langkah ini diperlukan agar rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dituntaskan sesuai target dan kebutuhan masyarakat terdampak.

"Memang beberapa tempat harus kita lakukan akselerasi tetapi saya kira semua itu bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan yang kita harapkan," ujarnya.

Selain mempercepat pemulihan, Sugiono mengingatkan pentingnya memasukkan mitigasi bencana ke dalam perencanaan pembangunan. Perubahan iklim berpotensi memengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia sehingga kesiapsiagaan perlu diperkuat untuk mengurangi risiko serta mempercepat penanganan apabila bencana kembali terjadi.

Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk merevitalisasi 4.922 fasilitas pendidikan yang terdampak bencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Upaya pemulihan ini mengacu pada Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) dengan target penyelesaian dalam kurun waktu tiga tahun.

Kebijakan tersebut mencakup perbaikan sekolah, madrasah, pesantren, serta perguruan tinggi negeri dan keagamaan. Pemulihan juga diarahkan melalui penyediaan fasilitas dan peralatan pembelajaran, dukungan operasional pendidikan, serta bantuan bagi peserta didik, mahasiswa, guru, dan dosen yang terdampak bencana.

Sasaran utamanya adalah seluruh satuan pendidikan dapat kembali beroperasi dengan fasilitas yang memadai. Karena itu, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya ditujukan untuk memulihkan fungsi bangunan, tetapi juga memperkuat ketahanan fasilitas pendidikan terhadap risiko bencana melalui prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement