Rektor UIN Ar Raniry, Prof Mujiburrahman: Aceh Sedang Sakit

Di dalam Gedung Convention Centre Harun Square Lhokseumawe, Sabtu (26/9/2026) pagi, dipenuhi wajah-wajah penuh harapan. Mereka adalah para mahasiswa Jamiatut Tarbiyah (Jamitar) Lhoksukon, Aceh Utara, duduk berjejer di kursi masing-masing menyambut gelar baru, sementara orasi ilmiah Rektor UIN Ar Raniry bergema sebagai doa dan amanah.
Namun, di balik kemeriahan wisuda, Aceh—Serambi Mekkah yang pernah harum namanya—sedang sakit. Kemiskinan, pengangguran, stunting, narkoba, hingga degradasi moral menjadi luka yang nyata. Wisuda ini bukan sekadar seremoni, melainkan pernyataan lahirnya generasi yang siap menjadi obat bagi negeri yang sedang perih.
Ilmu, Budi, Bakti: Resep Penyembuh
Dalam orasi itu, di hadapan Ketua Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Dr Fauzan, seluruh wisudawan dan para tamu undangan, sang rektor menegaskan falsafah segitiga emas: Ilmu, Budi, Bakti. “Ilmu tanpa budi hanyalah kesombongan. Budi tanpa bakti hanyalah retorika dan bakti tanpa ilmu hanyalah keterbatasan,” ucapnya.
Ketiganya adalah resep untuk menyembuhkan Aceh yang sedang sakit. Sebagaimana perintah iqra` bismi rabbikallazi khalaq, membaca, belajar, dan bekerja mesti selalu berlandaskan pengakuan akan kehadiran Allah.
Al-Qawiyyu Al-Amin: Prototipe Cendekiawan
Orang nomor satu di Kampus UIN Ar Raniry Banda Aceh ini kembali melanjutkan orasinya, Al-Qur’an menggambarkan sosok al-Qawiyyu al-Amin: kuat dan amanah. Kata dia, Al-Qawiyyu bukan sekadar fisik, melainkan kompetensi, profesionalisme, ketangguhan mental, dan kecakapan intelektual. Sedangkan Al-Amin adalah integritas moral, kejujuran, dan kesadaran bahwa setiap langkah diawasi Allah.
“Menggabungkan keduanya berarti melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga jujur; bukan hanya tangguh, tetapi juga amanah,” sebut Prof Mujiburahman.
Rasulullah SAW menegaskan: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Maka, wisuda ini adalah deklarasi lahirnya cendekiawan Muslim yang kuat sekaligus amanah, siap menjadi penyembuh bagi Aceh yang sedang sakit.
Wisuda sebagai Amanah Perjuangan
Kata Prof Mujiburahman, para wisudawan patut bersyukur: mereka dididik bukan hanya untuk berilmu, tetapi juga berakhlak mulia. Eksistensi mereka adalah prototipe al-Qawiyyu al-Amin. Dari Gedung Convention Centre Harun Square Lhokseumawe, mereka melangkah ke dunia dengan lentera ilmu dan amanah, membawa harapan bahwa Aceh akan bangkit dari sakitnya, bahwa bangsa akan kembali kuat, dan bahwa umat akan kembali bercahaya.
Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I
















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda