Breaking News
Memuat breaking news...

Rektor UT: Pendidikan Tinggi Harus Bisa Diakses Siapa Saja, Kapan Saja dan di Mana Saja

Redaksi
Redaksi
Selasa, 14 Juli 2026 - 11.01 AM WIB
Rektor UT: Pendidikan Tinggi Harus Bisa Diakses Siapa Saja, Kapan Saja dan di Mana Saja
Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto dan Warek UT Prof Rahmat Budiman berfoto bersama sejumlah lulusan terbaik UT pada Wisuda 2025/2026 Genap Wilayah 2 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Selasa (14/7). (wspdian)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Universitas Terbuka (UT) kembali menegaskan komitmennya membuka akses pendidikan tinggi yang berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, UT memastikan setiap orang dapat menempuh pendidikan tanpa dibatasi kondisi ekonomi, lokasi geografis, profesi, usia, maupun kesibukan.

Komitmen tersebut digaungkan Rektor Universitas Terbuka Prof. Dr. Ali Muktiyanto dalam pidato pada Wisuda Universitas Terbuka Tahun Akademik 2025/2026 Genap Wilayah 2 yang digelar di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Selasa (14/7). Wisuda mengusung tema "Mencetak Generasi yang Inovatif, Berintegritas, dan Mendunia".

"Tidak ada alasan pendidikan tinggi hanya bagi mereka yang mampu. Tidak ada alasan keterbatasan ekonomi atau jarak menghalangi seseorang untuk belajar. Hari ini dibuktikan bahwa setiap orang bisa menjadi pembelajar sejati," ujar Ali.

Menurutnya, UT hadir agar masyarakat tidak perlu memilih antara bekerja, mengabdi, mengurus keluarga, atau menempuh pendidikan.

"Dengan UT, pendidikan tinggi dapat dijangkau oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kampus tidak lagi menunggu mahasiswa datang, tetapi kampus yang mendatangi mahasiswa," katanya.

Ali menjelaskan, kemudahan tersebut didukung oleh berbagai layanan digital, mulai dari bahan ajar cetak dan digital yang dikirim ke rumah, Learning Management System (LMS) yang dapat diakses kapan saja, ujian akhir semester berbasis daring, ujian melalui perangkat mobile, hingga sistem registrasi dan layanan akademik yang semakin mudah diakses.

Ia juga menyampaikan bahwa pengakuan terhadap kualitas UT terus meningkat di tingkat internasional. Menurutnya, UT kini telah menembus peringkat 800–1.000 dunia, sekaligus mempertegas posisinya sebagai kampus berkelas dunia bagi para pembelajar mandiri.

"Kualitas adalah kunci utama. Kita berdiri di atas kualitas dan hidup dengan kualitas," tegasnya.

Rektor mengingatkan para lulusan agar tidak memandang kuliah hanya sebagai jalan memperoleh ijazah.

"Kuatkan kualifikasi, kompetensi, dan kapasitas diri. Kuliah bukan sekadar mencari ijazah, tetapi membangun kemampuan untuk menghadapi tantangan masa depan," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Terbuka Prof. Dr. Rahmat Budiman mengatakan, transformasi pembelajaran di UT terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja melalui penerapan Outcome Based Education (OBE).

Menurut Rahmat, kurikulum UT dirancang agar setiap lulusan tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman.

"Yang paling penting adalah link and match dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu UT menerapkan Outcome Based Education agar proses pembelajaran benar-benar menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja dan mampu memberikan dampak bagi masyarakat," katanya.

Ia menegaskan, kualitas tetap menjadi prioritas utama meski mahasiswa UT tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.

"Kualitas adalah kunci. Mahasiswa boleh belajar dari mana saja, tetapi standar mutu akademik tetap sama dan terus kami jaga," ujar Rahmat.

Pada kesempatan itu, UT juga menegaskan komitmennya memperluas akses pendidikan melalui pemberian 100 beasiswa bagi atlet nasional. Salah satu penerimanya adalah Muhammad Albagir, kiper Tim Nasional Futsal Indonesia yang berhasil menyelesaikan studi Program Studi Manajemen.

Wisuda Wilayah 2 diikuti sekitar 1.500 lulusan dari 13 UT Daerah, yakni Pangkal Pinang, Palembang, Bandar Lampung, Bogor, Yogyakarta, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Tarakan, Denpasar, Mataram, Palu, dan Manado.

Sejumlah tokoh dari berbagai profesi turut diwisuda, antara lain Kepala Bappeda Provinsi Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra yang meraih gelar Doktor Administrasi Publik, Anggota Komisi IV DPR RI Muhammad Habibur Rochman yang lulus Magister Manajemen, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Kutai Barat Agustinus, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Belitung Hilman, serta sejumlah lulusan penyandang disabilitas.

I Wayan Wiasthana Ika Putra mengatakan sistem pembelajaran di UT tetap menjaga standar akademik yang tinggi.

"UT terbukti menjaga standar kelulusan. Kompetensi keilmuan benar-benar diuji. Tidak bisa santai kuliah di UT karena waktu ketat dan ujian juga tidak boleh terlambat," katanya.

Sementara itu, Muhammad Habibur Rochman mengaku menyelesaikan studi Magister Manajemen selama lima tahun. Menurutnya, sistem di UT tidak memberikan perlakuan khusus kepada siapa pun.

"Kalau tidak lulus ya tidak lulus. UT mampu menjawab tantangan zaman sebagai kampus yang progresif dan lentur terhadap perkembangan zaman. UT memberikan keadilan dalam hak memperoleh pendidikan tinggi tanpa memandang status, termasuk pejabat," ujarnya.

Senada, Agustinus menilai kehadiran UT menjadi terobosan penting bagi daerah yang belum memiliki perguruan tinggi negeri.

"Di Kabupaten Kutai Barat, UT sangat diminati karena memberikan kesempatan masyarakat untuk kuliah tanpa harus meninggalkan daerah," katanya.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement