Breaking News
Memuat breaking news...

Retorika KISS di Atmosfer Sei Mangkei

Redaksi
Redaksi
Minggu, 13 September 2026 - 1.19 PM WIB
Retorika KISS di Atmosfer Sei Mangkei
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Pemerintah Sumut perlu berhenti menjual KISS semata sebagai proyek besar. Tawarkan ia sebagai ekosistem industri yang masuk akal secara bisnis.

ADA GODAAN lama dalam pembangunan kawasan industri: mengira peta adalah pabrik, hektare adalah investasi, dan seremoni adalah pertumbuhan ekonomi.

Sumatera Utara sebaiknya tidak terjebak di retorika ambisius ketika membicarakan Kawasan Industri Strategis Sumatera Utara (KISS) di Tanjung Kasau. Kawasan seluas sekitar 2.445 hektare itu memang terdengar menjanjikan. Gubernur Sumut Bobby Nasution bahkan kembali mempromosikannya dalam forum Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle di Medan, 10 September 2026.

Namun KISS perlu berkaca pada perjalanan Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei—Sei Mangkei Special Economic Zone.

KEK Sei Mangkei ditetapkan melalui PP Nomor 29 Tahun 2012 dan mulai beroperasi pada Januari 2015. Ia lahir dengan modal yang tidak kecil: basis perkebunan sawit dan karet, lahan luas, infrastruktur dasar, fasilitas energi, insentif fiskal, hingga konektivitas menuju pelabuhan dan bandara.

Tetapi investasi tidak datang karena papan nama kawasan dipasang seukuran raksasa.

Sei Mangkei membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk membentuk ekosistem industrinya. Hingga pertengahan 2026, kawasan itu tercatat menarik akumulasi investasi sekitar US$1,87 miliar dari 29 pelaku usaha dan menyerap lebih dari 16 ribu tenaga kerja. Salah satu penopangnya ialah Unilever Oleochemical Indonesia, yang pada Agustus lalu meresmikan ekspansi senilai US$155 juta.

Angka itu penting dibaca KISS untuk mesin ukur.

Investor tidak membeli pidato berlumur janji. Mereka membeli kepastian.

Mereka menghitung harga tanah, listrik, gas, air industri, ongkos logistik, akses pelabuhan, ketersediaan tenaga kerja, perizinan, insentif, keamanan investasi, sampai berapa lama barang dapat bergerak dari pabrik menuju pasar. Bahkan setelah semua infrastruktur tersedia, adakah industri jangkar yang membuat perusahaan lain merasa perlu ikut masuk?

Di sinilah pelajaran Sei Mangkei menjadi relevan untuk ditengok dan disadur.

Kawasan industri yang sehat tidak boleh hanya menjadi hamparan tanah menunggu pembeli. Ia harus memiliki rantai nilai yang jelas. Sei Mangkei mempunyai keunggulan alamiah karena berdiri di jantung produksi sawit dan karet. Industri hilir dapat mendekati sumber bahan bakunya. Ekspansi Unilever membuktikan bagaimana satu industri besar kemudian membentuk aktivitas produksi, ekspor, tenaga kerja, dan kebutuhan industri pendukung.

KISS harus mampu menjawab pertanyaan serupa: apa alasan ekonomi yang membuat investor memilih Tanjung Kasau dibanding kawasan industri lain?

Jawabannya tidak cukup: lahannya luas.

Indonesia sedang berlomba menarik modal. Sepanjang 2025, realisasi investasi nasional mencapai Rp1.931 triliun. Pada semester pertama 2026 saja sudah Rp1.010 triliun. Artinya, modal tersedia. Tetapi modal akan mencari lokasi yang paling efisien dan paling pasti.

Karena itu pemerintah Sumut perlu berhenti menjual KISS semata sebagai proyek besar. Tawarkan ia sebagai ekosistem industri yang masuk akal secara bisnis.

Tetapkan sektor unggulan. Datangkan anchor investor—perusahaan penghuni awal dengan investasi jumbo. Pastikan utilitas tersedia sebelum pabrik datang. Integrasikan kawasan dengan pelabuhan, jalan tol, kereta barang, dan pusat logistik. Pangkas birokrasi hingga izin benar-benar menjadi pelayanan, bukan labirin meja pemerintahan yang penuh kolusi, korupsi, dan nepo.

Dan yang terpenting, alat ukur keberhasilan bukan dari luas lahan yang diumumkan, tetapi dari berapa pabrik yang berproduksi, berapa modal yang benar-benar masuk, berapa barang yang diekspor, dan berapa orang Sumatera Utara memperoleh pekerjaan layak.

Sei Mangkei telah memperlihatkan bahwa membangun kawasan industri adalah maraton, bukan panggung cuap-cuap seremonial.

KISS masih di garis awal, jauh dari atmosfer bisnis KEK Sei Mangkei.

Jangan sampai KISS hanya melesat di layar presentasi. Sebab jika kelak yang tumbuh paling subur di Tanjung Kasau justru ilalang, maka kawasan industri itu tak lebih dari hamparan luas tempat retorika gubernur diparkir.

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement