Revitalisasi SDN 104231 Sugiharjo, Susmanto dan Indah Rasakan Kehadiran Negara Pascabencana


DELI SERDANG (Waspada.id): SDN 104231 Sugiharjo di Kecamatan Batang Kuis tengah menjalani revitalisasi pascabencana senilai Rp379.991.946 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta berkoordinasi dengan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR). Wali murid Susmanto serta siswi Kelas VI Indah Syafira menyambut positif perubahan tersebut, meskipun ancaman banjir dan keterbatasan ruang belajar masih menjadi perhatian warga sekolah.
Susmanto (52), wali murid sekaligus warga Desa Sugiharjo, menyatakan telah merasakan suasana baru di sekolah. Ia menyebut wilayah Sugiharjo secara geografis menjadi tempat tumpahan aliran air dari sejumlah kawasan Kecamatan Batang Kuis sehingga banjir kerap melanda lingkungan sekolah saat musim hujan.
“Kami senang sekali melihat sekolah mulai diperbaiki. Sebelumnya kalau banjir datang, air bisa mencapai lutut sehingga anak-anak sulit berangkat dan sekolah terpaksa libur belajar,” ujar Susmanto, (28/10/2026).
Susmanto berharap pemerintah tidak berhenti hanya pada rehabilitasi bangunan. Ia mendambakan penanganan drainase yang menyeluruh serta penambahan ruang kelas mengingat jumlah penduduk dan murid terus bertambah. Ia juga menyampaikan harapan agar jalur pembuangan air yang direncanakan pemerintah desa melalui lahan perkebunan segera terealisasi agar genangan tidak berlangsung lama.

Susmanto, wali murid SDN 104231 Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (28/10/2026). (Dok Tim Media Satgas PRR)
Harapan serupa disampaikan Indah Syafira (12), siswi Kelas VI SDN 104231 Sugiharjo. Ia mengaku pernah mengalami banjir yang masuk ke ruang kelas setinggi betis sehingga dirinya harus diantar ibunya saat berangkat sekolah. Kini setelah ruang kelas diperbaiki, ia merasa lebih semangat belajar dan berencana bersama teman-teman membuat pojok baca serta karya daur ulang untuk dipajang di dinding kelas.
“Ruangannya cantik dan nyaman. Saya jadi lebih semangat belajar. Saya berharap sekolah terus memberikan yang terbaik untuk masa depan saya,” tutur Indah.

Indah, murid SDN 104231 Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Rabu (28/10/2026). (Dok Tim Media Satgas PRR)
Kepala UPT SPF SDN 104231 Sugiharjo Agus Salim Lubis menjelaskan bahwa awalnya bantuan dialokasikan untuk merehabilitasi tiga ruangan, yaitu satu ruang administrasi dan dua ruang kelas. Melalui koordinasi dengan tim Pelaksana Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) serta fasilitator, sisa anggaran dimanfaatkan untuk menambah dua ruangan lagi, yakni satu ruang kepala sekolah dan satu ruang kelas.
Dengan demikian, total lima ruangan direvitalisasi: satu ruang kepala sekolah, satu ruang administrasi/ruang guru, serta tiga ruang kelas. Pengerjaan dimulai pada 22 Juni 2026 dan hingga awal November telah mencapai progres sekitar 70 persen. Pekerjaan yang masih berjalan mencakup pengadaan mebel, penataan halaman, pengecatan pagar, serta perbaikan gapura dengan konsep gentengisasi.
“Kami telah mengajukan adendum penambahan durasi selama 90 hari sehingga total masa pengerjaan menjadi 240 hari dan ditargetkan selesai pada 15 Desember 2026,” ujar Agus.
Ia menambahkan bahwa dampak revitalisasi sudah terlihat dari meningkatnya semangat siswa dan tenaga pendidik. Meskipun demikian, persoalan banjir belum sepenuhnya teratasi. Pada September 2026 sekolah kembali tergenang meskipun air hanya sampai halaman dan tidak masuk ke ruang kelas.
Guru kelas Fitriana Siregar menyampaikan bahwa banjir besar November 2025 hampir merendam seluruh ruangan sekolah, membuat perabot rusak, dinding berjamur, dan siswa harus belajar dari rumah. Setelah adanya revitalisasi, suasana kelas menjadi lebih nyaman dan anak-anak tampak lebih antusias.
“Sebelumnya setiap musim hujan kami cemas karena air bisa masuk ke ruang kelas. Sekarang alhamdulillah ada perbaikan. Kami berharap fasilitas ini tetap terjaga dan banjir tidak lagi mengganggu kegiatan belajar mengajar,” ujar Fitriana.
Proyek di SDN 104231 Sugiharjo menjadi bukti bahwa negara hadir melalui APBN untuk memulihkan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir. Namun, warga sekolah berharap pemulihan tidak berhenti pada perbaikan bangunan saja, melainkan diiringi penanganan drainase, penambahan ruang kelas, serta penguatan kesiapan menghadapi musim hujan mendatang.
Data dan Latar Belakang
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengungkapkan pemerintah akan memperbaiki sebanyak 4.992 fasilitas sekolah di kawasan terdampak bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemerintah menargetkan perbaikan selesai dalam waktu tiga tahun, tetapi pengerjaannya akan dilakukan sesegera mungkin.
Meski berbagai layanan mulai pulih, Tito mengingatkan bahwa hujan berintensitas tinggi masih memicu banjir dan longsor susulan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menambah pekerjaan pemerintah dalam memulihkan akses dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, Tito meminta kementerian/lembaga yang telah memperoleh alokasi anggaran mempercepat pelaksanaan kegiatan sesuai target tahun ini. Ia menegaskan, kegiatan yang mencakup perbaikan sekolah, rumah, jalan, jembatan, serta fasilitas ekonomi masyarakat perlu terus dikerjakan agar manfaatnya segera dirasakan oleh warga terdampak.
“Harapan kami dengan koordinasi ini akan mempercepat semua proses dan teman-teman K/L semua bergerak dan juga bisa mendorong semua pemerintah daerah dengan anggaran masing-masing dan tambahan anggaran itu juga bisa bergerak dengan lebih cepat,” tandasnya.
Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam (Renduk PRRP), intervensi untuk sektor pendidikan berfokus pada pemulihan fasilitas, penjaminan kelangsungan belajar, serta kesejahteraan guru. Berdasarkan koordinasi Satgas PRR bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), alokasi total anggaran untuk sektor ini mencapai sekitar Rp4,65 triliun hingga Rp5 triliun untuk memulihkan sekolah-sekolah terdampak.
RIincian Intervensi Sektor Pendidikan
1. Rekonstruksi fisik dengan prinsip aman bencana (Build Back Better)
Pemerintah mengalokasikan Rp3,03 triliun khusus untuk merevitalisasi 3.132 sekolah. Pembangunan fisik tidak sekadar mengembalikan bentuk lama, tetapi menerapkan perubahan struktur agar lebih tahan bencana, antara lain peninggian fondasi gedung hingga 70 cm di sejumlah lokasi, penguatan struktur tiang, pembangunan ruang kelas baru, ruang UKS, pagar keliling, tempat berwudu, serta perbaikan toilet dan sanitasi. Perbaikan juga mencakup pondok pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi keagamaan.
2. Kesejahteraan dan pelatihan guru (trauma healing)
Dukungan nonfisik menyasar 90.962 guru dengan pagu anggaran Rp122,95 miliar. Langkahnya meliputi pemberian insentif atau tunjangan khusus selama masa pemulihan, pelatihan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, serta pelatihan aspek psikososial agar guru siap mendampingi peserta didik dalam pemulihan trauma.
3. Distribusi perlengkapan dan sarana belajar
Pemerintah mengalokasikan Rp786,43 miliar untuk pemenuhan sarana pendidikan. Cakupannya meliputi meja dan kursi kelas, peralatan laboratorium, perlengkapan digital seperti papan interaktif, serta buku teks pelajaran untuk memulihkan sarana literasi yang rusak.
4. Bantuan operasional sekolah darurat dan PIP
Bantuan operasional pemulihan diberikan kepada sekolah, terutama yang progres fisiknya masih di bawah 50 persen, agar administrasi dan kegiatan belajar mengajar darurat tetap berjalan. Pemerintah juga memperluas dan mempercepat penyaluran bantuan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) agar peserta didik dari keluarga terdampak tidak putus sekolah.
5. Relokasi sekolah dari zona bahaya
Bagi sekolah yang berada di area kritis, seperti sempadan sungai rawan longsor atau wilayah dengan pergeseran tanah, Renduk PRR mengatur relokasi ke zona aman yang direkomendasikan badan geologi untuk menjamin keberlanjutan sekolah dalam jangka panjang.
Melalui intervensi terpadu tersebut, Satgas PRR mencatat kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah terdampak di wilayah Sumatera pada prinsipnya telah kembali berjalan, meskipun sejumlah proyek fisik permanen masih terus dikejar hingga tuntas.
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda