Breaking News
Memuat breaking news...

RI Berhenti Impor Beras, Amran Sebut Petani Negara Eksportir Demo

Redaksi
Redaksi
Rabu, 23 September 2026 - 9.01 AM WIB
RI Berhenti Impor Beras, Amran Sebut Petani Negara Eksportir Demo
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan perubahan posisi Indonesia dari negara pengimpor beras menjadi negara yang tidak melakukan impor pada 2025 ikut memberikan tekanan terhadap pasar beras global.

Amran bahkan menyebut petani di sejumlah negara eksportir beras mengalami tekanan hingga menggelar aksi unjuk rasa setelah Indonesia menghentikan impor beras.

"Kita importir terbesar di 2023-2024 importir terbesar beras dunia, yaitu 7 juta ton. Alhamdulillah 2025 tidak ada impor. Karena tidak ada impor, pasti negara-negara eksportir beras dunia, Thailand, Vietnam, India, Pakistan, dan lain-lain, petaninya tertekan, bahkan demo. Boleh Anda baca itu petani negara lain demo," ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta Timur, Selasa (22/9).

Indonesia memang mencatat impor beras dalam jumlah besar pada 2023 dan 2024. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor beras mencapai sekitar 3,06 juta ton pada 2023 dan 4,52 juta ton pada 2024, atau total sekitar 7,58 juta ton dalam dua tahun tersebut.

Namun, pemerintah menyatakan Indonesia tidak melakukan impor beras pada 2025. Pemerintah mengaitkan kondisi tersebut dengan peningkatan produksi dan penguatan cadangan beras dalam negeri.

Perubahan tersebut membuat Indonesia yang sebelumnya menjadi pasar besar bagi beras dari negara eksportir seperti Thailand, Vietnam, India dan Pakistan tidak lagi menyerap impor dalam jumlah yang sama.

Harga Beras Dunia Turun dari US$660 Jadi US$368

Menurut Amran, perubahan permintaan Indonesia turut memberikan dampak terhadap harga beras di pasar internasional.

Ia menyebut harga beras dunia yang sebelumnya berada di sekitar US$660 per ton kemudian turun menjadi sekitar US$368 per ton.

"Ini produksi kita sesuai yang disampaikan oleh FAO. Nah, apa dampaknya? Dampaknya adalah harga beras dunia itu US$660 per ton tiba-tiba turun, ini kami hafal angkanya, US$368 per ton," tuturnya.

Data Bank Dunia yang dikutip ANTARA menunjukkan harga acuan Thailand White Rice 5 persen memang turun dari sekitar US$660 per metrik ton pada Januari 2024 menjadi US$368 per metrik ton pada November 2025. Badan Pangan Nasional juga mencatat penurunan harga beras global sekitar 44 persen dalam periode tersebut.

Amran Sebut Ada Permintaan Agar RI Kembali Impor Beras

Amran juga mengungkapkan adanya permintaan dari sejumlah pemimpin negara lain agar Indonesia kembali membuka keran impor beras.

Menurut dia, permintaan tersebut berkaitan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar beras terbesar dunia. Namun, Amran menyampaikan pertimbangan agar kebijakan impor tidak kembali dilakukan karena dinilai dapat memengaruhi motivasi petani dalam negeri.

"Kami sampaikan ke Bapak Presiden, pak ini tidak mungkin karena ini melukai petani Indonesia 115 juta orang. Karena petani demotivasi kalau kita impor. Nah ini selundupan, bukan dampak nilainya, tapi bisa demotivasi," jelas Amran.

Impor Beras Disebut Bisa Pengaruhi Petani Indonesia

Amran menilai keputusan membuka kembali impor beras perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap petani domestik. Menurutnya, ketika produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan dan impor kembali dilakukan, harga serta insentif yang diterima petani menjadi salah satu aspek yang harus diperhatikan.

Pemerintah sebelumnya juga menyatakan tidak adanya impor beras pada 2025 didukung oleh peningkatan produksi dan ketersediaan cadangan beras pemerintah. Kementerian Pertanian mencatat produksi beras nasional pada 2025 diproyeksikan meningkat dibandingkan 2024.

Dengan perubahan posisi Indonesia tersebut, kebijakan beras nasional kini tidak hanya berdampak pada petani dan konsumen di dalam negeri, tetapi juga ikut menjadi perhatian dalam perdagangan beras internasional. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement