Breaking News
Memuat breaking news...

Ribuan Warga Serbu Final Pacuan Kuda Tanoh Gayo, Lapak Rp13 Juta dan Toilet Tanpa Air Jadi Sorotan

Redaksi
Redaksi
Minggu, 30 Agustus 2026 - 2.25 PM WIB
Ribuan Warga Serbu Final Pacuan Kuda Tanoh Gayo, Lapak Rp13 Juta dan Toilet Tanpa Air Jadi Sorotan
Ribuan warga saksikan pacuan kuda.Waspada.id/Sumarsono
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

TAKENGON (Waspada.id): Ribuan warga memadati Lapangan Pacuan Kuda H.M. Hasan Gayo di Belang Bebangka, Aceh Tengah, Minggu (30/8/2026), untuk menyaksikan laga final pacu kuda Tanoh Gayo.

Kemeriahan terlihat di hampir seluruh kawasan arena. Warga datang dari berbagai daerah, tidak hanya untuk menyaksikan ketangkasan kuda pacu, tetapi juga menikmati berbagai wahana permainan yang tersedia bagi anak-anak.

Pantauan Waspada.id, antusiasme penonton begitu tinggi. Sejumlah pejabat juga tampak hadir menyaksikan kegiatan tersebut, di antaranya Danrem Brigjen Ali Imran, Bupati Aceh Tengah, Kapolres Aceh Tengah serta unsur terkait lainnya.

Pacuan kuda Tanoh Gayo sendiri merupakan tradisi tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan biasanya berlangsung pada momentum bulan Agustus.

Bagi sebagian masyarakat, kegiatan ini bukan sekadar perlombaan. Setelah bencana yang melanda sebelumnya, pacu kuda menjadi momentum bagi warga untuk kembali berkumpul, berekreasi dan menikmati hiburan bersama keluarga.

Salah seorang pengunjung asal Jakarta, ER, mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat Tanoh Gayo.

“Wow, ini sangat keren. Banyak masyarakat yang begitu antusias menyaksikan pacu kuda, apalagi hari ini merupakan final,” ujarnya.

ER mengatakan, kedatangannya ke lokasi juga sekaligus untuk mengunjungi keluarga dan mencari suasana santai setelah bencana.

“Kami datang kemari untuk refreshing pascabencana kemarin. Kebetulan ada keluarga di sini dan bertepatan dengan perlombaan pacu kuda,” katanya.

Lapak Rp13 Juta, Pedagang Mengaku Berat

Di balik meriahnya pesta rakyat tersebut, sejumlah penyedia wahana permainan anak-anak justru mengeluhkan tingginya biaya sewa lapak.

Salah seorang penyedia permainan yang enggan disebutkan namanya mengaku harus membayar Rp1,5 juta untuk menyewa lapak selama satu minggu.

Ironisnya, hingga hari terakhir, pendapatannya baru sekitar Rp800 ribu. Jumlah itu belum dikurangi biaya transportasi dan kebutuhan selama berada di lokasi.

“Kami menyewa lapak ini seminggu Rp1,5 juta, sementara pendapatan kami baru Rp800 ribu. Belum lagi biaya kami selama seminggu di sini,” ungkapnya.

Menurutnya, pengunjung baru benar-benar ramai pada Sabtu dan puncaknya terjadi Minggu saat final pacu kuda berlangsung.

Keluhan lebih besar disampaikan penyedia permainan lainnya yang mengaku menyewa lapak berukuran 20x20 meter dengan harga Rp13 juta.

“Kami menyewa lapak ukuran 20x20 senilai Rp13 juta,” ujarnya.

Menurut dia, biaya tersebut cukup membebani pelaku usaha karena belum termasuk biaya transportasi, kebutuhan selama berada di lokasi serta penerangan.

“Banyak yang sebenarnya merasa keberatan. Tapi karena sudah terlanjur, mau bagaimana lagi. Kami juga menanggung biaya transportasi dan biaya selama seminggu di sini. Hari yang ramai ya hari ini,” katanya.

Ia menambahkan, biaya sewa Rp13 juta tersebut juga belum termasuk lampu. “Sewa Rp13 juta itu tidak termasuk lampu. Untuk lampu tidak ditanggung,” ujarnya.

Ribuan Pengunjung, Toilet Tanpa Air Dikeluhkan

Tak hanya persoalan biaya lapak, fasilitas umum juga menjadi sorotan pengunjung.

Sejumlah pengunjung mengeluhkan kondisi toilet di kawasan tribun yang disebut tidak memiliki ketersediaan air yang memadai.

Salah seorang pengunjung, IR, mengaku kesulitan ketika hendak menggunakan toilet.

“Waduh, air di tribun ini sulit. Apalagi toiletnya tidak ada air, jadi sulit,” keluhnya.

Menurutnya, persoalan air dan toilet semestinya menjadi perhatian, terlebih jumlah pengunjung mencapai ribuan orang.

“Gedung sebesar ini kok sulit air. Kalau orang sudah mendesak ke kamar mandi, mau tidak mau bagaimana? Ini seharusnya menjadi perhatian,” katanya.

Meriahnya final pacu kuda Tanoh Gayo akhirnya menyisakan dua sisi cerita: arena dipenuhi ribuan penonton, tetapi pedagang mengeluhkan mahalnya sewa lapak dan pengunjung menyoroti minimnya fasilitas toilet serta air.(id.86)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement