Rol Model Aceh: Ayahwa Memuliakan Imum Gampong, Teladan untuk Kabupaten/Kota LainRol Model Aceh: Ayahwa Memuliakan Imum Gampong, Teladan untuk Kabupaten/Kota Lain

“Apa yang dilakukan Ayahwa adalah bentuk pengakuan bahwa imum gampong memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Hadiah sepeda motor ini, adalah tanda penghormatan, bukan sekadar bantuan.” -Pimpinan Dayah QAHA, Waled Jamal.
Di Aceh Utara, sebuah langkah sederhana menjelma menjadi gema besar: Bupati Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayahwa, Senin (27/7/26) pagi, di lapangan landing, Lhoksukon, menyerahkan fasilitas transportasi kepada 852 imum gampong. Sepeda motor itu bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol penghormatan, pengakuan, dan pemuliaan terhadap sosok yang selama ini menjadi benteng kokoh kehidupan desa.
Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur’an, Waled Jamaluddin H. Kadir, menyebut kebijakan ini sebagai bukti nyata bahwa pemerintah hadir dengan hati. “Program pemberian bantuan sepeda motor untuk imum gampong, seperti yang dilakukan Ayahwa di Aceh Utara patut ditiru oleh 22 kabupaten/kota lainnya di Aceh,” ujarnya penuh apresiasi.
Imum Gampong: Pilar Kehidupan Desa
Di Aceh, imum gampong bukan hanya pemimpin spiritual. Mereka adalah penjaga adat, mediator sosial, dan pengikat harmoni masyarakat. Setiap kenduri, walimah, hingga doa selamat, imum gampong selalu hadir. Ketika ada sengketa, merekalah penenang. Ketika ada duka, merekalah pemimpin doa. Ketika ada suka, merekalah pengikat kebersamaan.
Namun, tugas mulia itu sering dijalankan dengan keterbatasan. Banyak imum gampong yang harus berjalan kaki berkilometer, menumpang kendaraan tetangga, atau mengandalkan motor tua yang sering mogok. Kini, dengan fasilitas transportasi yang diberikan, jarak bukan lagi penghalang. Kehadiran mereka akan lebih sigap, lebih dekat, lebih menyatu dengan denyut masyarakat.

Teladan untuk Seluruh Aceh
Langkah Ayahwa ini seharusnya menjadi rol model bagi kabupaten/kota lain di Aceh. Sebab, imum gampong bukan hanya figur lokal, melainkan benteng terakhir dalam menjaga ketertiban sosial dan keagamaan. Mereka adalah penjaga tradisi, pengawal syariat, dan pengikat harmoni desa.
Ketika deru motor itu mulai terdengar di jalan-jalan kampung, ia akan menjadi suara penghormatan. Suara yang menegaskan bahwa pemerintah hadir bukan hanya dengan kebijakan, tetapi dengan penghargaan. Suara yang mengingatkan bahwa imum gampong adalah pilar yang harus dimuliakan, bukan dilupakan.
Dan kelak, setiap kali imum gampong melaju menuju meunasah (surau), kenduri, atau majelis taklim, masyarakat akan tahu: di balik roda yang berputar, ada komitmen seorang bupati yang memilih untuk memuliakan, bukan mengabaikan. Sebuah teladan yang layak ditiru, agar seluruh Aceh berdiri tegak dengan benteng moral dan spiritual yang kokoh.
Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda