RSUD Amri Tambunan Luncurkan Teknologi Penanganan Stroke Melalui DSA dan CoilingRSUD Amri Tambunan Luncurkan Teknologi Penanganan Stroke Melalui DSA dan Coiling

Bupati: Kecacatan stroke dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga
LUBUK PAKAM (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang bersama RSUD Drs. H. Amri Tambunan resmi memperkenalkan layanan tindakan Digital Subtraction Angiography (DSA) dan coiling dalam kegiatan seremonial dan Expose Media Proctoring di Aula RSUD Drs. H. Amri Tambunan, Lubukpakam, Senin (10/8/26).
Peluncuran layanan tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat penanganan stroke, khususnya stroke akibat penyumbatan pembuluh darah maupun pecahnya aneurisma otak. Kehadiran layanan ini diharapkan membuat masyarakat Deliserdang dan daerah sekitarnya tidak lagi harus selalu dirujuk ke rumah sakit di tingkat provinsi untuk mendapatkan pelayanan intervensi pembuluh darah otak.
Bupati Deliserdang dr. H. Asri Ludin Tambunan mengatakan, investasi pemerintah dalam pengembangan fasilitas dan teknologi kesehatan harus memiliki tujuan yang jelas, terutama dalam menyelamatkan masyarakat dan mencegah kecacatan akibat stroke.
"Persoalan stroke tidak hanya berkaitan dengan angka kematian, tetapi juga dampak kecacatan yang dapat mengubah kondisi sosial dan ekonomi sebuah keluarga. Kalau orang stroke langsung meninggal, memang angkanya tinggi. Tapi yang lebih berat menurut saya, ketika pasien stroke mengalami kecacatan. Ini menjadi beban keluarga dan ekonominya,” kata Asri Ludin Tambunan.
Ia mencontohkan, seorang anggota keluarga yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi dapat kehilangan kemampuan bekerja setelah mengalami stroke. Kondisi tersebut, kata dia, pada akhirnya dapat membuat keluarga yang sebelumnya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari justru terjerumus ke dalam kemiskinan.
Karena itu, tambahnya, Pemkab Deliserdang mendukung pengembangan layanan DSA dan coiling meski membutuhkan investasi besar.
Dijelaskannya, pengadaan peralatan penunjang layanan tersebut sebagai investasi yang harus dikembalikan dalam bentuk manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kalau masih bisa ditolong dalam 24 jam, ya dibantu. Paling tidak dia bisa tetap beraktivitas, tetap menjadi tulang punggung keluarganya, tetap mempunyai penghasilan, dan keluarga itu tetap mempunyai harapan,” pesannya.
Asri Ludin juga menekankan pentingnya kerja tim antara dokter, tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, pemerintah daerah, serta pihak-pihak terkait lainnya. Menurutnya, layanan baru tidak cukup hanya didukung teknologi canggih, tetapi harus dibarengi tata kelola dan koordinasi yang solid.
Ia berharap keberadaan layanan tersebut nantinya mampu menekan angka kematian, sekaligus kecacatan akibat stroke di Deliserdang.
“Harapannya, angka kematian dan kecacatan akibat stroke ini bisa kita tekan. Kita berharap menjadi salah satu jawaban bagi keluarga-keluarga, khususnya masyarakat miskin, agar mereka memiliki opsi dan harapan untuk mendapatkan penanganan,” paparnya.
Sebelumnya, Direktur Pelayanan Kementerian Kesehatan RI yang diwakili dr. Reza Arfandy melalui sambungan Zoom mengatakan, stroke masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang memiliki tingkat kematian tinggi.
Ia menyebutkan, sekitar tiga hingga empat dari 10 pasien stroke dapat meninggal, atau berada pada kisaran 30–40 persen. Khususnya pada kasus tertentu, seperti stroke akibat pecahnya aneurisma.
Dijelaskan Reza, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mempercepat akses terhadap layanan stroke yang komprehensif.
Kementerian Kesehatan, lanjutnya, mendorong agar pelayanan seperti Cath Lab, DSA, trombektomi, dan coiling tidak hanya tersedia di rumah sakit tingkat provinsi, tetapi secara bertahap dapat diakses masyarakat di kabupaten/kota.
“Layanan Cat Lab, DSA, layanan trombektomi, layanan coiling, tersebut itargetkan bisa diakses di layanan kabupaten/kota hingga tahun 2027 di seluruh Indonesia,” jelasnya.
Karena itu, ia mengapresiasi RSUD Drs. H. Amri Tambunan yang telah memulai layanan tersebut. Dengan demikian, masyarakat dari Deliserdang dan wilayah sekitar, termasuk dari Serdang Bedagai maupun Tebing Tinggi, memiliki alternatif pelayanan yang lebih dekat tanpa harus langsung menuju ibu kota provinsi.
Namun, Reza mengakui pengembangan layanan intervensi stroke masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi pembiayaan. Karena sistem pembiayaan pelayanan kesehatan ke depan diharapkan semakin mendukung tindakan stroke, baik konservatif maupun tindakan intervensi di Cath Lab. Di sisi lain, efisiensi biaya tetap harus dijaga melalui kendali mutu dan kendali biaya.
Salah satu langkah yang didorong Kementerian Kesehatan adalah konsolidasi dan pembelian bahan medis habis pakai secara bersama-sama.
Reza mencontohkan harga coil yang sebelumnya dapat mencapai sekitar Rp18 juta hingga Rp20 juta per unit, bahkan lebih, kini dapat ditekan menjadi sekitar Rp 8 juta hingga Rp7 juta melalui mekanisme konsolidasi.
“Seandainya seluruh Indonesia sudah bergabung, maka harganya akan turun dengan sangat signifikan, sehingga cost-nya lebih rendah dan lebih banyak pasien yang bisa kita selamatkan,” tuturnya.

Sementara itu, dokter spesialis bedah saraf dr. Ahmad Brata Rosa menjelaskan, keberadaan Cath Lab memungkinkan dokter mengakses pembuluh darah otak melalui pembuluh darah tubuh tanpa harus membuka kepala pasien.
Akses dapat dilakukan melalui pembuluh darah paha atau arteri femoralis, maupun melalui arteri radialis di tangan.
“Jadi tidak ada buka-buka kepala. Kita mengaksesnya melalui pembuluh darah,” ungkap Ahmad.
Ia menerangkan, DSA merupakan pemeriksaan diagnostik berupa pencitraan pembuluh darah secara real-time. Melalui DSA, dokter dapat melihat aliran darah, sekaligus mengetahui kondisi pembuluh darah otak. Termasuk aneurisma, penyumbatan, kelainan pembuluh darah, maupun penyempitan pembuluh darah.
“DSA itu fungsinya diagnostik, bukan terapi. Ini adalah foto angiogram pembuluh darah otak secara real-time,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter kemudian dapat menentukan tindakan intervensi yang sesuai, seperti embolisasi, coiling, stenting, maupun trombektomi.
Untuk aneurisma, misalnya, tindakan coiling dilakukan dengan memasukkan coil melalui kateter untuk mengisi kantong aneurisma sehingga aliran darah tidak lagi masuk ke dalam aneurisma tersebut.
Selain itu, tindakan embolisasi juga dapat digunakan untuk menutup pembuluh darah tertentu, termasuk pembuluh darah yang memberi suplai pada tumor, sehingga dapat membantu mengecilkan tumor atau memudahkan tindakan operasi.
Ahmad juga menjelaskan bahwa keberadaan Cath Lab membuka peluang dilakukannya tindakan trombektomi bagi pasien stroke iskemik akibat sumbatan pembuluh darah otak.
Tindakan tersebut dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju lokasi sumbatan untuk mengambil atau menyedot bekuan darah. Sehingga aliran darah ke otak dapat kembali.
Menurutnya, perkembangan pedoman penanganan stroke memungkinkan sebagian pasien tertentu mendapatkan tindakan intervensi hingga 24 jam sejak gejala muncul, dengan mempertimbangkan kondisi dan hasil pemeriksaan pasien.
“Dulunya delapan jam, sekarang berdasarkan perkembangan terbaru bisa sampai 24 jam untuk pasien tertentu,” ujarnya.
Sementara Direktur RSUD Drs. H. Amri Tambunan, dr. Erlinda Yani mengatakan, peluncuran layanan DSA bukan sekadar penambahan fasilitas kesehatan, tetapi merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan mutu dan akses pelayanan modern, profesional, serta berorientasi pada keselamatan pasien.
“Launching DSA pada hari ini menjadi sebuah awal, bukan akhir. Setelah layanan ini terwujudkan, tanggung jawab kami adalah memastikan pelayanan dapat berjalan secara optimal, berkesinambungan, mengutamakan keselamatan pasien, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Erlinda menambahkan, keberhasilan layanan unggulan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sarana-prasarana, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, tata kelola yang baik, kolaborasi, serta dukungan berkelanjutan.
“Kita tidak kepingin menjadi yang pertama. Kita kepingin semakin banyak warga yang seharusnya tidak bisa bekerja lagi karena stroke, tetapi karena mendapatkan tindakan yang tepat, akhirnya bisa bekerja kembali, menghidupi keluarganya, dan anak-anaknya tetap punya masa depan,” tegasnya.(id.28/syahril)
Turut dihadiri kegiatan tersebut Sekda Deliserdang, Dedi Maswardy MAP, asisten, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kabag, Camat Lubukpakam Wahyu Rismiana, dan pejabat lainnya. (id.28/Syahril)
































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda