RSUD-TP Abdya Seimbangkan Pelayanan dan SpiritualRSUD-TP Abdya Seimbangkan Pelayanan dan Spiritual

BLANGPIDIE (Waspada.id): Pelayanan kesehatan tidak hanya membutuhkan kompetensi medis dan profesionalitas, tetapi juga kekuatan spiritual.
Semangat itu terus dibangun keluarga besar Rumah Sakit Umum Daerah Teungku Peukan (RSUD-TP), Aceh Barat Daya (Abdya), melalui kegiatan pembacaan Surat Yasin, yang rutin digelar setiap tiga kali Jumat, di Masjid Baitul Syifa, kompleks rumah sakit.
Sebagaimana amatan Waspada.id Jumat (21/8), kegiatan baca surat Yasin yang diikuti keluarga besar RSUD-TP Abdya tersebut, slain menjadi sarana ibadah, kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi, sekaligus membangun keseimbangan, antara tugas pelayanan kepada masyarakat dan penguatan kehidupan spiritual para tenaga kesehatan.

Direktur RSUD-TP Abdya dr. Ismail Muhammad, SpB, dalam sambutannya sebelum pembacaan Yasin mengingatkan seluruh jajaran agar tidak memisahkan profesionalitas dalam bekerja, dengan nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, rumah sakit merupakan tempat manusia datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan. Karena itu, pelayanan yang diberikan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan ilmu kedokteran, tetapi juga harus disertai keikhlasan, kesabaran dan kepedulian terhadap kondisi psikologis pasien. “Di rumah sakit, kita berhadapan dengan orang yang sedang diuji. Karena itu, kita tidak hanya dituntut memiliki ilmu dan keterampilan, tetapi juga hati yang ikhlas. Pelayanan kepada pasien, harus kita niatkan sebagai bagian dari ibadah dan amanah,” ujar Ismail.
Ia menegaskan, tenaga medis dan tenaga kesehatan, memiliki kewajiban untuk memberikan ikhtiar terbaik sesuai ilmu dan profesinya. Namun, manusia tetap harus menyadari bahwa, kesembuhan merupakan kehendak Allah SWT. “Dokter mengobati, perawat merawat, obat diberikan dan berbagai ikhtiar medis dilakukan. Tetapi kesembuhan adalah hak prerogatif Allah SWT. Maka ikhtiar medis harus berjalan bersama doa dan tawakal,” katanya.

Ismail menilai, kegiatan membaca Surat Yasin secara rutin, dapat menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar RSUD-TP, agar di tengah kesibukan memberikan pelayanan, hubungan dengan Allah SWT tetap terjaga. “Jangan karena sibuk melayani pasien, kita kemudian lupa bahwa kita juga membutuhkan pertolongan Allah. Justru ketika kita bekerja melayani orang lain, hati harus semakin dekat kepada Allah,” tuturnya.
Ia juga mengajak seluruh jajaran RSUD-TP, menjadikan kegiatan keagamaan tersebut, bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari upaya membangun budaya kerja yang religius, humanis dan penuh tanggung jawab. “Pelayanan yang baik lahir dari ilmu yang benar, tetapi pelayanan yang menyentuh hati lahir dari keikhlasan. Kita ingin RSUD-TP tidak hanya kuat dari sisi pelayanan kesehatan, tetapi juga memiliki lingkungan kerja yang sehat secara spiritual,” katanya.
Menurut Ismail, keberadaan Masjid Baitul Syifa di kompleks rumah sakit, juga harus dimanfaatkan sebagai pusat pembinaan spiritual bagi keluarga besar RSUD-TP.

Ia berharap, tradisi membaca Yasin setiap tiga kali Jumat, dapat terus dipertahankan dan menjadi kekuatan moral bagi seluruh jajaran dalam menjalankan tugas. “Kita ingin masjid ini hidup, bukan hanya ketika ada kegiatan tertentu. Dari masjid inilah kita menguatkan hati, memperbaiki niat dan mengingatkan diri bahwa, setiap amanah yang kita jalankan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” ujar Ismail.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin secara bersama-sama dan doa.
Melalui kegiatan tersebut, keluarga besar RSUD-TP Abdya berupaya membangun keseimbangan antara profesionalitas pelayanan kesehatan, dengan penguatan spiritual, sehingga tugas kemanusiaan yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pelayanan, tetapi juga dilandasi nilai ibadah dan amanah.(id82)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda