Breaking News
Memuat breaking news...

RSUDZA Dorong Banda Aceh Jadi Episentrum Gastroenterologi dan Endoskopi

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 5 September 2026 - 5.59 AM WIB
RSUDZA Dorong Banda Aceh Jadi Episentrum Gastroenterologi dan Endoskopi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BANDA ACEH (Waspada.id): RSUD Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh mulai memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan layanan gastroenterologi dan endoskopi di kawasan barat Indonesia.

Langkah itu ditandai dengan penyelenggaraan ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 yang menghadirkan pakar endoskopi dan gastroenterologi dari Indonesia dan Malaysia di RSUDZA, Banda Aceh, Kamis (4/9/2026).

Workshop yang digelar melalui Instalasi Endoskopi, Hepatologi dan Bronkoskopi RSUDZA bersama PGI-PPHI-PEGI Cabang Aceh tersebut tidak hanya menjadi forum peningkatan kompetensi dokter, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan praktisi dari pusat layanan gastroenterologi regional.

Salah satu pembicara yang hadir adalah Dr. Chiam Keng Hoong dari Pantai Hospital Penang, Malaysia. Sementara dari Indonesia hadir Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE dari RS Cipto Mangunkusumo, serta Dr. dr. Fauzi Yusuf, Sp.PD-KGEH, FACG, FACP, FINASIM dan Dr. dr. Azzaki Abubakar, Sp.PD-KGEH, FINASIM dari RSUDZA.

Kepala Instalasi Endoskopi dan Hepatologi RSUDZA, Dr. dr. Azzaki Abubakar, mengatakan perkembangan teknologi endoskopi menuntut dokter tidak hanya menguasai teknik tindakan, tetapi juga memahami keseluruhan proses pelayanan, mulai dari pemilihan dan persiapan pasien hingga pemantauan setelah prosedur.

“Endoskopi bukan hanya alat, tapi seni dan sains. Workshop ini kita rancang untuk membahas tuntas mulai dari Upper GI, Lower GI, hingga ERCP dan teknologi terkini NBI Classification agar teman-teman sejawat memiliki bekal yang paripurna,” ujar Azzaki.

Kegiatan tersebut membahas empat bidang utama, yakni Upper GI Endoscopy, Lower GI Endoscopy, Image Enhanced Endoscopy (IEE) dan NBI Classification, serta Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP).

Teknologi NBI menjadi salah satu materi penting karena dapat membantu dokter melihat pola permukaan mukosa dan pembuluh darah secara lebih jelas. Kemampuan tersebut dapat mendukung karakterisasi lesi dan membantu proses deteksi dini kelainan pada saluran cerna.

Selain aspek diagnostik, peserta juga mendapat penguatan mengenai ERCP sebagai salah satu prosedur endoskopi terapeutik yang membutuhkan keterampilan khusus karena berkaitan dengan sistem bilier dan pankreas.

Workshop secara resmi dibuka Wakil Direktur Penunjang RSUDZA, dr. Muhammad Fuad, Sp.PD-KHOM, mewakili Direktur RSUDZA.

Fuad menilai kegiatan yang menghadirkan pakar internasional tersebut merupakan bagian dari investasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Dengan peningkatan kompetensi dokter-dokter kita, masyarakat Aceh tidak perlu lagi berobat jauh-jauh ke luar daerah atau luar negeri untuk mendapatkan layanan endoskopi terbaik. Semua bisa kita lakukan di RSUDZA,” katanya.

ENDO-ID Endoscopy Workshop 2026 diikuti 20 peserta, terdiri atas 16 dokter spesialis penyakit dalam dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dan empat dokter spesialis penyakit dalam dari Sumatera Utara. (id64)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement