Ruang Kelas SDN 3 Meurah Dua Pulih Pascabanjir, Pagar Sekolah Masih Menanti


MEUREUDU (Waspada.id): Banjir yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya pada akhir November 2025 meninggalkan kerusakan yang turut mengganggu kenyamanan anak-anak dalam menuntut ilmu. Di SDN 3 Meurah Dua, harapan untuk bangkit mulai tumbuh melalui bantuan revitalisasi pemerintah.
Enam ruang kelas dan sejumlah fasilitas pendukung telah diperbaiki. Namun, pemulihan belum sepenuhnya tuntas. Pagar sekolah yang turut terdampak banjir masih menanti pembangunan, menjadi pengingat bahwa perjuangan memulihkan fasilitas pendidikan belum berakhir.
Bagi anak-anak, sekolah bukan sekadar tempat membaca dan menulis, melainkan ruang untuk tumbuh, belajar, dan merajut cita-cita. Karena itu, perbaikan fasilitas menjadi langkah penting untuk mengembalikan suasana belajar yang nyaman setelah bencana.
Plt. Kepala SDN 3 Meurah Dua, Mursinah, mengaku bersyukur dan bangga atas bantuan revitalisasi dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

“Kami merasa sangat bersyukur, senang, dan bangga karena sekolah mendapatkan bantuan revitalisasi dari pemerintah. Dengan bantuan ini, kami dapat meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan agar peserta didik belajar dengan lebih aman, nyaman, dan kondusif,” ujar Mursinah, Sabtu (17/10).
Bantuan tersebut mencakup enam ruang kelas, satu ruang UKS, satu ruang administrasi guru, serta satu fasilitas kamar mandi yang terdiri atas empat bilik.
Berdasarkan perjanjian kerja sama, anggaran program terdiri atas Rp717.242.000 untuk pekerjaan fisik, Rp100.032.000 untuk pengadaan perabot, dan Rp45 juta untuk pengelolaan program. Total anggaran yang disebutkan mencapai Rp862.274.000.
Mursinah menjelaskan, pihak sekolah mengajukan revitalisasi sekitar satu minggu setelah banjir melanda Pidie Jaya. Bantuan tersebut menjadi langkah penting untuk memulihkan sarana pendidikan agar kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung dengan baik.
Selain membantu sekolah, program ini turut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Sebagian tenaga kerja berasal dari warga lokal, bahan bangunan dibeli dari toko sekitar, sedangkan kebutuhan konsumsi pekerja turut mendukung usaha kuliner masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi program ini karena manfaatnya tidak hanya dirasakan sekolah dan peserta didik, tetapi juga masyarakat sekitar,” katanya.
Ia berharap program revitalisasi terus berlanjut dan menjangkau sekolah-sekolah lain yang membutuhkan, dengan penentuan penerima bantuan berdasarkan data yang akurat dan kebutuhan di lapangan.
Belajar Kembali dengan Nyaman
Perubahan suasana belajar dirasakan langsung oleh siswa. salah seorang murid SDN 3 Meurah Dua, mengaku lebih nyaman mengikuti pelajaran setelah ruang kelas diperbaiki.
“Belajar menjadi lebih nyaman sehingga mudah bagi saya untuk mengerti apa yang diberikan oleh guru,” ujarnya.
Pembelajaran juga semakin menarik dengan hadirnya perangkat pembelajaran digital (PID). Menurutnya, guru menggunakan permainan edukatif dan media yang sesuai dengan perkembangan anak.
Salah seorang guru, Hasni Maulida, menilai fasilitas yang lebih baik mendukung proses belajar mengajar yang lebih tertib dan kondusif. PID juga membantu guru menyampaikan materi secara inovatif sesuai kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

Ia berharap pemerintah terus melanjutkan program revitalisasi secara merata. Data dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik), berdasarkan usulan sekolah, juga perlu menjadi perhatian agar bantuan tepat sasaran.
Pagar Sekolah Masih Menanti
Meski sejumlah fasilitas utama telah diperbaiki, SDN 3 Meurah Dua masih membutuhkan pembangunan pagar yang terdampak banjir pada akhir 2025. Paving blok juga menjadi salah satu kebutuhan untuk mendukung kenyamanan lingkungan sekolah.
Harapan itu turut disampaikan oleh salah satu ibu yang sedang menunggu anak pulang sekolah. Ia ingin sekolah anaknya memiliki pagar dan lingkungan yang lebih baik agar kegiatan belajar berlangsung semakin nyaman.

Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki ruang kelas. Fasilitas pendukung juga perlu mendapat perhatian agar lingkungan pendidikan menjadi lebih aman dan layak bagi anak-anak.
Mursinah menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas bantuan yang telah diberikan. Ia berharap fasilitas yang sudah direvitalisasi dapat dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan.
Di SDN 3 Meurah Dua, ruang kelas yang kembali layak menjadi awal dari harapan baru. Anak-anak kembali belajar, guru terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang menarik, dan sekolah perlahan bangkit dari dampak bencana.
Namun, pagar yang masih dinantikan menjadi pengingat bahwa pemulihan belum sepenuhnya selesai. Sebab, bagi anak-anak, sekolah yang pulih bukan sekadar bangunan yang berdiri kembali, melainkan tempat yang aman untuk belajar, tumbuh, dan merajut masa depan.(Nas)
Berita Terkait






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda