Breaking News
Memuat breaking news...

Rupiah dan IHSG Lanjutkan Pelemahan, Bayang-Bayang Ancaman MSCI Masih Menghantui

Redaksi
Redaksi
Selasa, 27 Oktober 2026 - 6.10 PM WIB
Rupiah dan IHSG Lanjutkan Pelemahan, Bayang-Bayang Ancaman MSCI Masih Menghantui
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia semakin terasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,99 persen ke level 5.266,13, sementara nilai tukar rupiah terpuruk ke posisi Rp18.145 per dolar Amerika Serikat (AS). Bayang-bayang ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan aset keuangan domestik.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai tekanan di pasar obligasi, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta kekhawatiran terhadap eskalasi konflik geopolitik menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.

Pada perdagangan Selasa (27/10), IHSG sempat menguat hingga menyentuh level 5.418 pada sesi pagi. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah tekanan jual kembali mendominasi perdagangan.

IHSG bahkan sempat menyentuh titik terendah di level 5.172 sebelum akhirnya ditutup melemah 1,99 persen ke posisi 5.266,13.

"Tekanan pasar saham terlihat dari jumlah saham yang terkoreksi. Sebanyak 611 saham mengalami penurunan, sedangkan 100 saham menguat dan 82 saham tidak mengalami perubahan harga," ungkap Gunawan, Selasa (27/10) sore.

Rupiah Tertekan, Imbal Hasil SBN Meningkat

Pelemahan juga terjadi pada pasar valuta asing. Rupiah ditutup di level Rp18.145 per dolar AS, sejalan dengan tekanan yang berlangsung di pasar obligasi pemerintah.

"Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat meningkat menjadi 7,454 persen. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan tekanan jual pada pasar obligasi domestik," ujarnya.

Gunawan menilai kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali berspekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan Dewan Gubernur mendatang.

"Spekulasi tersebut muncul di tengah tekanan pasar obligasi dan pelemahan rupiah yang masih berlangsung. Meski demikian, kemungkinan perubahan suku bunga BI tetap bergantung pada pertimbangan dan keputusan otoritas moneter," katanya.

Harga Minyak Brent Tembus US$116 per Barel

Selain tekanan dari pasar obligasi, kenaikan harga minyak mentah dunia turut menjadi perhatian. Harga minyak jenis Brent terpantau naik ke kisaran US$116 per barel pada perdagangan sore.

Kenaikan harga minyak di tengah kekhawatiran eskalasi konflik geopolitik berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global. Harga energi yang bertahan tinggi dapat meningkatkan risiko inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter di berbagai negara.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pasar keuangan Indonesia yang masih berhadapan dengan tekanan nilai tukar, obligasi, dan saham.

Di sisi lain, harga emas dunia justru kembali terkoreksi ke kisaran US$3.996 per troy ounce atau sekitar Rp2,34 juta per gram.

Pergerakan emas yang berlawanan dengan kenaikan harga minyak menunjukkan bahwa dinamika pasar tidak hanya dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, tetapi juga oleh ekspektasi suku bunga dan perkembangan ekonomi global.

Kebijakan The Fed Jadi Penentu Sentimen Pasar

Dalam beberapa hari ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat, terutama keputusan suku bunga acuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan serangkaian data inflasi.

Kedua faktor tersebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, harga emas, serta aliran modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah tekanan yang masih membayangi IHSG dan rupiah, perkembangan kebijakan The Fed, harga minyak mentah, serta respons otoritas terhadap persoalan MSCI akan menjadi faktor penting yang dicermati investor dalam menentukan langkah investasinya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement