Rupiah Dan IHSG Tertekan Usai Review MSCIRupiah Dan IHSG Tertekan Usai Review MSCI

JAKARTA (Waspada.id): Pasar keuangan Indonesia kembali berada dalam tekanan setelah hasil review Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian pelaku pasar.
Rupiah terpantau melemah ke kisaran Rp17.880 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka menguat ke level 6.388 berbalik arah dan masuk ke zona merah pada perdagangan pagi, Kamis (13/8).
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap pasar domestik tidak terlepas dari respons investor terhadap hasil review MSCI serta perkembangan inflasi AS.
Inflasi inti AS pada Juli tercatat naik 0,2% secara bulanan. Meskipun realisasinya masih sesuai dengan ekspektasi pasar, kenaikan tersebut berpotensi memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS atau The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih hawkish ke depan.
Sementara itu, inflasi AS secara bulanan maupun tahunan masih berada sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Kondisi tersebut sejauh ini masih menjadi sentimen yang relatif positif bagi pasar saham di Asia.
Dari dalam negeri, hasil review MSCI mempertahankan pasar saham Indonesia dalam kategori emerging market. Namun, terdapat sejumlah perubahan pada konstituen indeks.
Saham GOTO dikeluarkan dari indeks MSCI, sementara saham CPIN turun kelas dan masuk ke MSCI Global Small Caps Index.
"Sejauh ini data inflasi AS masih menjadi kabar baik bagi pasar saham di Asia. Sementara untuk pasar saham di tanah air, review MSCI masih mempertahankan pasar saham Indonesia dalam kategori emerging market," ujar Gunawan.
Menurutnya, reaksi pasar domestik terhadap hasil review MSCI terlihat dari pergerakan IHSG dan Rupiah yang sama-sama mengalami tekanan. Meski demikian, tekanan tersebut diperkirakan belum akan berlangsung secara berlebihan.
Sejumlah indikator eksternal juga menunjukkan pasar masih mencermati perkembangan global. Harga minyak mentah dunia bertahan di sekitar US$88 per barel, sedangkan indeks dolar AS atau USD Index masih berada di bawah level 100 meskipun terus berupaya menembus level psikologis tersebut.
"Ini menunjukan bahwa pergerakan pasar keuangan di tanah air tengah merespon keputusan MSCI, walaupun saya memproyeksikan potensi tekanan yang dihasilkan dari hasil review MSCI masih terbatas," kata Gunawan.
Emas Masih Bertahan di Level Tinggi
Di tengah tekanan pasar saham dan Rupiah, harga emas dunia masih bergerak relatif stabil di kisaran US$4.412 per troy ounce. Jika dikonversikan, harga tersebut setara sekitar Rp2,54 juta per gram.
Gunawan menilai pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan moneter The Fed setelah keluarnya data inflasi AS.
Kenaikan inflasi inti AS menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed ke depan. Namun, sejauh ini harga emas masih relatif mampu bertahan.
"Sejauh ini emas masih relatif aman dari kenaikan inflasi inti AS, yang untuk sementara waktu dispekulasikan membuat The Fed menahan bunga acuannya," jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil. Investor akan mencermati perkembangan kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, harga komoditas, serta dampak lanjutan dari perubahan komposisi indeks MSCI terhadap saham-saham domestik. (id09)























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda