Rupiah Jebol Rp17.900, Konflik Timur Tengah Dan Harga Minyak Jadi PemicuRupiah Jebol Rp17.900, Konflik Timur Tengah Dan Harga Minyak Jadi Pemicu

JAKARTA (Waspada.id): Tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin berat. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda menembus level psikologis Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal dan domestik yang membayangi perekonomian nasional.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.40 WIB, rupiah sempat melemah ke level Rp17.905 per dolar AS. Tak lama kemudian, pelemahan berlanjut hingga 75 poin atau 0,42 persen ke posisi Rp17.914 per dolar AS.
Di saat yang sama, indeks dolar AS bergerak di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,01 persen ke level 99,227, menandakan mata uang Negeri Paman Sam masih mempertahankan kekuatannya terhadap berbagai mata uang global.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan faktor domestik yang mendorong tingginya permintaan dolar AS.
"Amerika Serikat kembali melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah di Iran. (Teheran) juga berbalik melakukan penyerangan," kata Ibrahim dalam keterangannya, dilansir Investor Daily, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, memanasnya konflik antara AS dan Iran telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko stagflasi global. Situasi tersebut diperburuk oleh lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, khususnya di Amerika Serikat.
"Kemudian juga tingginya harga minyak yang mendorong biaya transportasi semakin mahal sehingga mendorong inflasi di AS cukup tinggi. Hal ini berdampak terhadap prospek kenaikan suku bunga yang semakin menguat," bebernya.
Selain konflik geopolitik, data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan penurunan tingkat pengangguran turut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor global.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk berbagai keperluan, termasuk impor energi dan pembayaran kewajiban utang.
"Impor minyak (Indonesia) begitu besar, kemudian kebutuhan dolar AS untuk deviden, kemudian hutang jatuh tempo sebesar Rp 600 triliun yang disertai tingginya bunga. Pada saat jatuh tempo, surat utang negara sulit untuk dibeli kembali, jadi utang dibayar dengan utang. Di sisi lain, masyarakat terus memindahkan dananya dari tabungan konvensional menjadi tabungan valas," papar Ibrahim.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor yang semakin membebani Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Saat harga energi meningkat, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor ikut bertambah, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Menembusnya level Rp17.900 per dolar AS menjadi perhatian pasar karena menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap stabilitas mata uang nasional. Pelaku pasar kini mencermati langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (invid)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda