Rupiah Kian Tertekan, Independensi BI Jadi Sorotan PasarRupiah Kian Tertekan, Independensi BI Jadi Sorotan Pasar

MEDAN (Waspada.id): Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Di tengah membaiknya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia turun, perhatian pelaku pasar kini beralih pada arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harga minyak mentah dunia turun signifikan ke kisaran US$87 per barel dari sekitar US$100 per barel pada akhir pekan lalu. Penurunan tersebut dipicu meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
"Turunnya harga minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi global untuk sementara waktu, selama kondisi geopolitik di Timur Tengah tetap terkendali," ujar Gunawan, Selasa (28/7).
Meski demikian, sentimen positif dari pelemahan harga minyak belum mampu mengangkat kinerja pasar keuangan domestik. Pada perdagangan pagi, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka melemah di level 6.175 sebelum berupaya kembali ke zona hijau.
Menurut Gunawan, pelaku pasar saat ini lebih banyak menunggu laporan keuangan emiten yang akan menjadi katalis pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Sementara itu, tekanan justru masih membayangi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda diperdagangkan di kisaran Rp18.070 per dolar Amerika Serikat dan dinilai masih berpotensi melemah.
"Setelah pengunduran diri Gubernur BI, rupiah berpeluang kembali mendekati level terlemahnya sepanjang masa di kisaran Rp18.150 per dolar AS apabila sentimen pasar tidak membaik," katanya.
Gunawan menilai perhatian investor kini tertuju pada proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia. Menurutnya, yang paling penting bukan hanya siapa yang akan memimpin BI, tetapi juga sejauh mana independensi bank sentral tetap terjaga dalam mengambil kebijakan moneter.
"Pasar membutuhkan kepastian bahwa independensi BI tetap terpelihara. Kepercayaan investor sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan moneter dan kredibilitas bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi," jelasnya.
Ia menambahkan, dalam sepekan ke depan pergerakan pasar keuangan domestik masih akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan politik dan geopolitik global.
Di sisi lain, harga emas dunia ikut terkoreksi seiring meredanya konflik di Timur Tengah. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.048 per troy ons atau sekitar Rp2,36 juta per gram.
"Meredanya permintaan terhadap aset safe haven membuat harga emas terkoreksi. Namun berbeda dengan emas, IHSG dan rupiah masih menghadapi tekanan dengan volatilitas yang cukup tinggi sehingga pergerakannya masih sulit diproyeksikan dalam jangka pendek," tutup Gunawan. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda