Breaking News
Memuat breaking news...

Rupiah Melemah Dua Pekan, Pengamat: Waspadai Lonjakan Inflasi hingga Akhir Tahun

Redaksi
Redaksi
Rabu, 23 September 2026 - 5.59 PM WIB
Rupiah Melemah Dua Pekan, Pengamat: Waspadai Lonjakan Inflasi hingga Akhir Tahun
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pasar setelah mengalami tekanan dalam dua pekan terakhir. Meski pada perdagangan hari ini rupiah bergerak menguat di kisaran Rp17.800 per dolar AS, pelemahan yang terjadi sejak awal September dinilai perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya produksi dan harga kebutuhan masyarakat.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berkaitan dengan sentimen pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap perekonomian domestik, khususnya melalui kenaikan biaya input produksi.

"Namun jika ditarik data dalam satu bulan terakhir, mata uang Rupiah alami pelemahan, dan tren pelemahan tersebut dimulai pada 9 september kemarin," kata Gunawan, Rabu (23/9).

Menurutnya, pada 9 September rupiah sempat berada di level Rp17.500 per dolar AS. Rupiah sebelumnya sempat membentuk tren penguatan setelah terpilihnya Gubernur Bank Indonesia. Namun tekanan kembali muncul seiring memburuknya tensi geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak mentah serta perubahan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Bank Indonesia sendiri pada 23 September 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. BI juga mencatat rupiah pada 22 September berada di level Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78% dibandingkan posisi akhir Agustus. Bank sentral menyebut tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Di sisi lain, The Federal Reserve pada 16 September menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Dalam proyeksi terbarunya, median proyeksi suku bunga The Fed untuk akhir 2026 berada di 4,1%, sehingga ruang kebijakan moneter global masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Gunawan menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan biaya modal. Jika tekanan nilai tukar berlanjut, biaya bahan baku impor maupun berbagai komponen produksi yang bergantung pada dolar AS berpotensi ikut terdorong.

"Pelaku pasar kembali dihantui rasa takut seiring dengan arah kebijakan The Fed yang akan menaikkan bunga acuan hingga akhir tahun 2026. Nah sikap The Fed yang bernada hawkish tersebut perlu diwaspadai, baik oleh pelaku pasar keuangan maupun terjadinya potensi kenaikan biaya modal yang akan memicu lompatan inflasi," ujarnya.

Harga Kebutuhan Pokok Berpotensi Ikut Terdorong

Menurut Gunawan, tekanan inflasi ke depan tidak hanya berasal dari nilai tukar. Kenaikan biaya produksi, kebutuhan bahan baku, kondisi cuaca, hingga perkembangan harga energi global menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

"Harga kebutuhan pokok masyarakat berpeluang alami kenaikan. Lompatan biaya pokok produksi ditambah dengan peningkatan kebutuhan Rupiah sejalan dengan pelemahannya berpeluang membuat sjeumlah harga kebutuhan pokok masyarakat bertahan mahal," katanya.

Ia menambahkan, gangguan El Nino di sejumlah wilayah Indonesia juga berpotensi menambah tekanan terhadap sisi pasokan komoditas pangan.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting apabila harga minyak mentah kembali mengalami gejolak. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya distribusi sekaligus biaya produksi berbagai sektor, sehingga efeknya dapat merembet ke harga barang dan jasa.

Gunawan menjelaskan, respons kebijakan moneter terhadap pelemahan rupiah juga memiliki konsekuensi terhadap perekonomian. Jika pelemahan rupiah diredam melalui kenaikan suku bunga, tekanan terhadap biaya impor dapat lebih terkendali, tetapi biaya pembiayaan bagi dunia usaha berpotensi meningkat.

"Jika pelemahan Rupiah direspon dengan kenaikan bunga acuan, maka produk barang maupun jasa dari industri manufaktur akan mendominasi laju kenaikan inflasi," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai kenaikan suku bunga juga dapat membantu menahan tekanan harga pada sejumlah bahan baku dan produk impor karena permintaan terhadap dolar AS dapat ditekan.

"Meski demikian langkah tersebut bisa menghindarkan sejumlah harga kebutuhan langsung produsen (petani/peternak) dari potensi kenaikan harga. Saat pelemahan Rupiah diredam dengan kenaikan bunga acuan, maka harga bahan baku maupun produk jadi impor tidak lantas alami lompatan," katanya.

Akhir 2026 Masih Dibayangi Tekanan Inflasi

Gunawan mengingatkan bahwa tekanan inflasi hingga penghujung tahun perlu diantisipasi karena sumber tekanannya berasal dari berbagai arah, mulai dari nilai tukar, biaya input produksi, geopolitik, harga minyak mentah hingga faktor cuaca.

"Jadi tetap bnerhati-hati terhadap potensi tekanan inflasi kedepan. Ada banyak faktor yang akan menekan kemampuan produksi ditambah dengan potensi kenaikan biaya input," tegasnya.

"Terlebih jika harga minyak mentah kembali bergejolak. Hingga tutup tahun kita sulit keluar dari tekanan inflasi, dikarenakan Rupiah dan sejumlah faktor lain (geopolitik dan el nino) berpeluang mendorong lonjakan inflasi itu sendiri," pungkas Gunawan. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement