Rupiah Menguat ke Rp18.120 per Dolar AS Usai The Fed Tahan Bunga, IHSG Masih Tertekan


MEDAN (Waspada.id): Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan setelah bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4%. Namun, sentimen positif tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat kinerja pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih rentan berbalik ke zona merah meski sempat menguat pada awal perdagangan.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menyebutkan, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan masih sesuai dengan ekspektasi pasar. Meskipun perekonomian AS menghadapi ancaman kenaikan inflasi akibat meningkatnya harga minyak mentah dunia, meredanya tekanan jual di pasar obligasi AS memberikan ruang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga.
“Namun meredanya tekanan jual pada pasar surat utang AS membuat The Fed sementara waktu memilih mempertahankan bunga acuan,” ujar Gunawan, Kamis (29/10).
Keputusan tersebut turut memberikan sentimen positif bagi rupiah. Pada sesi perdagangan pagi, mata uang Garuda terpantau menguat ke level Rp18.120 per dolar AS.
Menurut Gunawan, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipengaruhi memburuknya tekanan jual di pasar obligasi domestik. Meski demikian, kebijakan The Fed setidaknya dapat meredakan tekanan pada pasar surat utang Indonesia sekaligus mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
IHSG Masih Rentan Berbalik Melemah
Berbeda dengan rupiah, pergerakan IHSG belum menunjukkan penguatan yang konsisten. Pada pembukaan perdagangan, indeks sempat naik ke level 5.305, tetapi kembali berbalik ke zona merah tidak lama setelah perdagangan dimulai.
Gunawan menilai reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas belum sepenuhnya mampu menopang penguatan IHSG. Di sisi lain, pergerakan pasar saham Asia yang cenderung mendatar atau sideways turut membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak dalam pola serupa sepanjang perdagangan.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif dari kebijakan moneter AS belum cukup kuat untuk menghilangkan tekanan di pasar saham domestik. Pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia," ujarnya.
Harga Emas Stabil, Inflasi Jadi Perhatian
Sementara itu, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran US$4.055 per troy ounce atau sekitar Rp2,37 juta per gram. Pergerakan emas yang cenderung terbatas terjadi setelah keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan, di tengah harga minyak mentah dunia yang masih bertahan pada kisaran yang tidak jauh berbeda.
Meski rupiah memperoleh sentimen positif dan harga emas bergerak stabil, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai perkembangan ekonomi global maupun domestik.
Gunawan menyebutkan, pelaku pasar masih mencermati kemungkinan memburuknya kinerja sektor keuangan menjelang rilis data inflasi Indonesia. Selain itu, data inflasi Amerika Serikat juga berpotensi menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya.
"Dengan demikian, keputusan The Fed yang menahan suku bunga memberikan angin segar bagi pasar keuangan, terutama nilai tukar rupiah. Namun, keberlanjutan penguatan rupiah dan pemulihan IHSG masih akan bergantung pada perkembangan inflasi, pergerakan pasar obligasi, serta dinamika ekonomi global," pungkasnya. (id09)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda